fbpx

BEM FISIP UI Sukses Gelar GRAFITY 2010

Biro Dana Usaha Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (BEM FISIP UI) bekerjasama dengan Quantum Institute menyelenggarakan uji kompetensi atau Try Out masuk FISIP UI – Get Ready for FISIP UI Try Out (GRAFITY) 2010, Minggu (28/11). Try Out ini digelar secara serentak di lima sekolah, yaitu SMAN 70 Jakarta, SMAN 68 Jakarta, SMAN 91 Jakarta, SMAN 2 Bekasi, dan SMAN 1 Bogor.

Dengan mengusung tema ‘Saatnya Beraksi, Bukan Hanya Bermimpi!’, GRAFITY 2010 bertujuan untuk memfasilitasi siswa-siswa SMA maupun lulusan SMA untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2011. Try Out ini terdiri dari 3 (tiga) tes utama, yakni Tes Potensi Akademik (TPA), Kemampuan Dasar dan Kemampuan IPA / IPS.  Setiap peserta diberikan waktu 30 menit untuk mengerjakan soal TPA. Setelah itu, peserta langsung mengerjakan soal Kemampuan Dasar dengan waktu 90 menit, terdiri dari soal Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Setelah waktu istirahat selama 30 menit, peserta IPA melanjutkan untuk mengerjakan soal Kemampuan IPA dengan rincian yaitu Matematika IPA, Fisika, Kimia, dan Biologi. Sedangkan 30 menit kemudian, peserta IPS memulai untuk melanjutkan mengerjakan soal Kemampuan IPS yang terdiri dari Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi.

Setelah Try Out, peserta menuju ruangan Talkshow ‘Ayo Masuk UI’ dan kelas pembahasan. Ketua, Kepala Bidang Humas, dan Kepala Departemen Advokasi Kesejahteraan Mahasiswa (Adkesma) BEM FISIP UI hadir sebagai pembicara dalam Talkshow ini. Pada kesempatan ini, para pembicara berbagi informasi tentang bagaimana cara masuk UI, jalur masuk, biaya pendidikan, program yang disediakan, dan bagaimana untuk tetap aktif dan berprestasi. Selain Talkshow, panitia  juga membuka kelas pembahasan soal-soal Try Out. Kelas pembahasan terdiri dari kelas Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Geografi, Kimia, Biologi, Ekonomi, Sejarah, dan Sosiologi. Dalam kegiatan ini, panitia juga menggelar bazaar yang menyediakan makanan, minuman, alat-alat tulis, dan merchandise Universitas Indonesia. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, acara yang dimulai sejak pukul 8.00 pagi ini selesai pada pukul 14.00 dan berjalan lancar sesuai rencana.

Bagaimana, sudah siap untuk SNMPTN nanti?

BEM FISIP UI 2010

Nurul Fikri Gelar Lomba Komputer Anak di D-Mall

Sabtu (27/11) pagi lalu lantai 3 Mal Depok (D-Mall) mendadak diramaikan anak-anak kecil bercanda dan berlari-lari bersama temannya. Bersama orang tuanya, mereka ternyata sedang menunggu dimulainya lomba komputer untuk anak-anak.

Lomba kumputer untuk anak-anak ini digelar LP3T Nurul Fikri bersama Komunitas Telematika Muda Depok. Untuk kategori Taman Kanak-kanak (TK), panitia menggelar lomba puzzle (susun gambar), sementara kategori Sekolah Dasar yang diperlombakan adalah Berhitung Cepat untuk kelas 1 dan 2, Mengetik Cepat untuk kelas 3 dan 4, serta Desain Slide Presentasi bagi siswa kelas 5 dan 6.

Tidak hanya lomba untuk kategori TK dan SD saja yang digelar hari itu, untuk SMP dan SMA ternyata juga ada lombanya, yaitu lomba Cerdas Cermat  IT – Equizz (SMP) dan Desain Poster Kreatif (SMA). Lomba ini merupakan ajang kompetisi untuk anak yang pertama kali diadakan oleh LP3T Nurul Fikri. “Jumlah pesertanya mencapai lebih dari seratus peserta. Tujuannya adalah untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini sekaligus sebagai program promosi Nurul Fikri sebagai lembaga bimbingan belajar ilmu komputer,†ungkap Unggul Sagena, Manajer Komunikasi LP3T Nurul Fikri.

Selain lomba-lomba komputer, acara yang turut didukung depoklik ini juga menggelar wokshop IT di hari keduanya, Minggu (28/11). Dengan mengambil tema ‘Kupas Tuntas Open Source’, panitia menghadirkan pakar Linux, Rusmanto sebagai narasumber siang itu. Disertai dengan demo-demo menarik soal open source, puluhan peserta workshop terlihat puas dengan kegiatan ini.

Ramdan Rino

Foto: CL

Silaturahmi Budaya Pertemukan Seniman Depok

SABTU (20/11) sore mendadak Jalan Durian – Depok Jaya dipenuhi para seniman kota dari beberapa sanggar seni yang tersebar di kawasan kita. Para seniman dan warga siang itu beramah-tamah saling bincang dalam sebuah kegiatan bertajuk Silaturahmi Budaya dan Pentas Seni. Sore itu, Sanggar Gedek menjadi tuan rumah dalam kegiatan yang baru pertama kali digelar ini.

Silaturahmi Budaya merupakan ajang kumpul para seniman Kota Depok yang digagas oleh Sanggar Ayodya Pala, Yayasan Panggung Melayu, Sanggar Gedek, Teater Bambu, dan beberapa sanggar seni lain di kawasan kita yang tergabung dalam Forum Pelaku Seni Depok. Kegiatan ini turut didukung oleh Dinas Pemuda dan Olahraga, Seni Budaya dan Pariwisata Kota Depok. “Rencananya silaturahmi ini akan bergulir setiap bulan dari sanggar ke sanggar,†ungkap Asrizal Nur, penyair yang juga salah satu penggagas forum ini.

Sambil bersilaturahmi, beberapa seniman turut menyumbangkan karyanya diatas panggung Sanggar Gedek yang asri itu. Di sisi kolam ikan yang luas dan dikelilingi hijaunya pohon-pohonan, di atas panggung para penyair melantunkan karya-karyanya dengan memukau, sebut saja Diah Hadaning, penyair senior berusia 70 tahun yang sudah berkiprah di kancah internasional dan Endang Supriadi, penyair yang namanya sering disebut-sebut dalam pentas-pentas nasional. Keduanya mampu membius para undangan pada sore itu

Pementasan teater yang disajikan Sanggar Teater Bambu turut meramaikan acara silaturahmi ini. Yang tak kalah menarik adalah sajian irama harmonis dari gesekan bambu yang diperkenalkan oleh Sanggar Gedek sendiri. Hal ini memperlihatkan bahwa ternyata warga kawasan kita juga memiliki potensi luar biasa di bidang seni dan budaya.

“Bila silaturahmi ini sudah berjalan setiap bulan dari sanggar ke sanggar, selanjutnya kami berencana menggelar Silaturahmi Budaya Akbar untuk Kota Depok,†tandas Asrizal kepada depoklik di sela-sela acara. Wah, tentunya menarik sekali ya.. Baiklah, sukses untuk seniman dan sanggar-sanggar seni Kota Depok.

Coki Lubis

Foto: CL

Sajikan Kebab Lezat a la Turki di Tengah Keluarga

Advertorial

 

Urusan sajian khas Turki yang satu ini, sudah tentu kita tak meragukan Kebab olahan kedai Kebab Turki Baba Rafi. Rasanya benar-benar seperti kebab orisinil dari negara asalnya. Daging cincangnya halus, tebal, merata dari ujung ke ujung dalam gulungan sepotong roti tipis. Setiap gigitannya meninggalkan kenangan tersendiri dan membius indera pengecap kami hingga ingin mengigitnya terus dan terus tak mau berhenti. Teksturnya lembut, rasanya gurih dan sedikit pedas, hmm..

Untuk menikmati Kebab Turki Baba Rafi ini, kita tidak perlu lagi bersusah payah melewati kemacetan Jakarta, karena kita bisa mendapatinya di jalan raya Kelapa Dua, lokasinya persis di samping kampus Gunadarma Kelapa Dua. Kebab Turki Baba Rafi yang dikelola Hari Purwadi ini melayani warga dengan gaya Drive Thru atau Take Away Service. Jadi setelah memesan Kebab lezat ini, Anda bisa menikmatinya dimanapun Anda suka bersama keluarga, teman, atau pasangan. Jangan khawatir tangan Anda kotor, karena kemasannya dirancang khusus agar Anda mudah menyantapnya.

Nah, bila Anda ingin menggelar acara ulang tahun atau acara istimewa bersama keluarga, saran kami jangan lupa untuk menyertakan sajian yang satu ini. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa hubungi langsung Kebab Turki Baba Rafi yang berlokasi di Kelapa Dua ini. Dijamin, tamu Anda pun tidak akan kecewa dengan sajian ini, apalagi bila ia penggemar kebab. Jadi, tunggu apa lagi?

Sebuah Resensi Sastra ‘Dialah Ini dan Itu’

RACAUAN, bisa jadi sublimasi eksistensi. Seperti tersaji apik dalam buku kumpulan racauan Gieb, “Dialah Ini dan Itu”. Illustrasinya yang abstrak mengkonkretkan racauannya. Racaun yang menyusui konsistensi. Terlihat jua dari judul-judul racauannya: Sangka, Sumpal, Cumbu, Setubuh, sampai Hudan. Halaman kiri untuk judul, kanan untuk isi tulisan, racauannya. Dibangun dalam paragraf-paragraf yang rapi. Berisi. Berbunyi.

Ya! Ini sebuah buku ambiguitas. Buku ini sesuatu yang entah. Seolah persetubuhan puisi dan esai. Bisa juga bukan keduanya. Cukup! katakan saja buku racauan. Racauan yang mengaksentuasi estetika. Seperti tuhan dan kelamin dilebur menjadi satu keniscayaan mengada manusia. Yang kerap dipanggungkan Gieb dalam adegan ranjang. Mengasuh insting purbawi. Insting yang kudus ala sufi. Bukan insting murahan dalam nanarnya roman picisan.

Gieb, si kutu-buku halte dan bus, menguasai banyak teori filsafat. Namun, dia tidak mengabdi sebagai ansilla philosophia (hamba sahaya filsafat) semata. Gieb menikung bahasanya sendiri dalam kotak racauan, kotak tanda manusia. Teori-teori praktis tidak ditelan begitu saja, namun ditekuknya. Sering ditelanjangi. Sesekali dipuja. Saat yang bersamaan dinihilkan. Dibangun dengan indah pada saat membongkarnya dalam tatakan bahasa. Seperti ditulisnya dalam Geram: “Sadar, bahwa percintaan kita memang tidak merujuk pada realitas aktual. Tetapi sebuah realitas yang minta dipahami, dikonsepsikan, dan disimbolisasi dengan beberapa desahan (hal 11).”

Gieb selalu memaknai ketidakbermaknaan menjadi makna yang semakin bermakna. Sebuah kontingensi a la Paul Ricoeur. Berselancar diantara dua tegangan atau bandul entitas pengada manusia yang sulit disatukan. Seperti ditulisnya dalam Sumpal: “Membunuh kekecewaan dengan kompromi. Mensiasati hati dengan kemungkinan. Mengakrabi perbedaan dengan toleransi. Menjalani permusuhan dengan penjelasan. Membesarkan harapan dengan probabilistik (hal 49).”

Yang tak terbiasa dengan kotak sastra Gieb akan jatuh dalam prasangka buruk: buku porno. Erotisme maupun romansa yang dibangun Gieb bukanlah kebanalan laknat. Dia mendekonstruksi bahasa dalam elegansi pemikiran. Bisa saja Gieb terpengaruh banyak oleh minat Foucault: penjara, kegilaan, tubuh, hingga persetubuhan. Dengan selera humor teramat cerdas. Hingga banyak orang gagal menggauli senyuman karena kerutan kening berlebihan. Seperti tergores indah dalam serpihan Gusar: “Kita usir Tuhan dari jagat raya. Bersama paha yang kaubuka tinggi-tinggi”. Atau pada kepingan lain, Sungkur: “Karena tubuh kita hanyalah pemakluman. Bahwa kelamin tak memerlukan hakikat. Ia ‘menjadi’ dalam eksistensi.” Pada saat yang lain, dalam Geram dia katakan: “Bahwa keinginan ternyata menyedihkan bagi kelamin kita yang purbaâ€. Duh.

Siapakah, atau, apakah Gieb – kerap chaos dalam diam yang kosmik – itu? Gieb itu bisa berarti keunikan dari berbagai keunikan. Sangat khas. Dalam metafor, imaji, ataupun aforisma ganjil yang dibangunnya. Karena kata-kata profan juga bisa disakralkannya. Bila suatu saat Gieb mengeluarkan buku, tanpa mencantumkan nama, kita akan langsung bertemu di stasiun kereta racau: itu Gieb!

Reviewer:  John Ferry Sihotang – Goodreads Indonesia

Menguak Jurnalisme Perdamaian di Kampus Sastra

Pers Mahasiswa Networking (PERSMANET) bentukan Biro IT dan Media, BEM FIB (Badan Eksekutif Mahasiswa, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia sukses menyelenggarakan Seminar Jurnalistik di Auditorium Gedung 4 FIB UI, Senin (15/11) lalu.  Seminar bertajuk “Jurnalisme Perdamaian†ini mengupas habis mengenai peran pers dalam perdamaian di wilayah konflik. Seminar ini dihadiri oleh Budiarto Shambazy, wartawan sekaligus kolumnis KOMPAS, Wahyu Dhyatmika, Redaktur Pelaksana TEMPO, dan Budiarto Danujaya, wartawan, pengamat politik serta dosen Filsafat UI, yang turut menyumbangkan pemikirannya sebagai pembicara pada hari itu.

Budiarto Shambazy dan Wahyu Dhyatmika mengambil posisi afirmatif (menguatkan) dan optimis terhadap proyek jurnalisme perdamaian. “Keduanya lebih banyak menjelaskan prakondisi apa yang diperlukan untuk mengimplementasikan jurnalisme perdamaian. Wahyu Dhyatmika bahkan menguraikan jurnalisme perdamaian dengan pendekatan definitif.†ujar Herdito Sandi, moderator acara. “Sedikit berbeda, Budiarto Danujaya hadir dengan pernyataannya dalam mempertahankan ide konservatif jurnalisme. Menurutnya jurnalisme harus bekerja secara prosedural,†lanjut Herdito yang juga dosen Filsafat UI ini.

Seminar ini menyoroti lebih dalam mengenai objektivitas jurnalis yang dikhawatirkan dapat terjebak dalam labirin konflik akibat pengaruh dari pihak-pihak yang bertikai. Situasi ini dapat mengaburkan fakta yang ada. Hal tersebut diungkapkan oleh  Annizah Fitrie, Ketua Panitia PERSMANET ketika ditemui depoklik, Selasa (16/11). Ia juga menambahkan bahwa jurnalisme perdamaian diharapkan dapat memberikan arah penyelesaian konflik secara kreatif tanpa kekerasan.

Acara ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa di bidang jurnalistik. “Setiap tahun kami memang menyelenggarakan acara dengan tema jurnalistik, namun penggunaan nama PERSMANET baru kami gunakan sejak 2 tahun terakhir,†tutur Muhammad Reza, Kepala Biro IT dan Media BEM FIB UI 2010. Ia juga berharap bahwa acara ini dapat mengembangkan minat mahasiswa di bidang jurnalistik.

Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama BEM FIB UI dengan Depoklik.com , GATRA, EKSPRESI (Media Jurnalistik FIB), dan Radar Depok. “Konsep acaranya minimalis, tapi pembicaranya hebat-hebat, jadi wajar saja kalau acara ini ramai. Belum lagi bazaar buku murah, dan gratis sertifikat seminar bagi 50 pendatang pertama, sangat menggiurkan bagi para mahasiswa,†ungkap Devita, mahasiswi Sastra Prancis FIB UI kepada depoklik saat ditanyai pendapatnya tentang kegiatan ini.

Baiklah, maju terus dunia jurnalistik dan sukses untuk PERSMANET.

Tika Sylvia Utami

Foto: TS

Nikmatnya Ayam Bakar Bumbu Aren

DALAM perjalanan kuliner kali ini, depoklik melangkahkan kaki ke food court Depok Town Square (Detos). Selasa (9/11) siang itu kami menemukan satu sajian ayam bakar yang layak Anda cicipi, tepatnya di Waroeng Cici Tegal. Dari tampilannya, ayam bakar ini terlihat sedikit berbeda dari yang lain, warnanya kecoklatan dan tidak terlalu hitam, karena tidak menggunakan banyak kecap dalam pengolahannya.

Pasalnya, sebelum dibakar ayam ini dibaluri bumbu aren racikan khas kedai ini dengan berulang-ulang seraya diungkap hingga bumbunya meresap. Saat terhidang, hmm.. aromanya sungguh menggoda, karena dalam racikan bumbunya disertakan mesoyi atau tumbuhan yang sekerabat dengan kayu manis yang mampu memberikan aroma yang menggugah selera. Selain itu, bumbu juga di racik dengan jinten putih sebagai pengikis lemak. Alhasil, ayam bakar yang kami pesan ini dagingnya empuk, rasanya pas sekali di lidah kami, gurih dan tidak terlalu manis. Apalagi bila Anda mencocolnya dengan sambal yang tersedia, hmm..rasa sambal dan ayamnya benar-benar senada.

Dengan merogoh kocek Rp 12000, di ‘waroeng’ ini Anda mendapatkan paket lengkap ayam bakar (paha) yang ukurannya-pun tidak kecil, nasi, lalapan, sambal, dan es teh manis. Setelah puas menyantapnya, siang itu kami langsung menikmati es campur yang juga tersedia disini, wah..sungguh menyenangkan. Selain sajian ayam bakar, kedai yang juga didirikan oleh komedian Cici Tegal ini juga menyediakan Ketupat Salju, Java Pizza, dan menu menarik lainnya yang patut dicicipi. Penasaran?

Waroeng Cici Tegal

  • Detos Mega Food Planet / Food Court, lantai 2, Blok SF-57
  • Telp. 912 70798 / 0819 0804 6500
  • Jam buka: 10.00 – 22.00

Coki Lubis

Foto: CL

Berkomunitas Bareng Penggemar The Beatles

SIAPA tak kenal band legendaris The Beatles, band asal Liverpool yang namanya meledak di tahun 60-an hingga kini melalui lagu-lagunya yang mendunia seperti Hey Jude, Let it Be, Yesterday, dan masih banyak lagi. Nama keramat ini tak lepas dari nama empat anak ajaib dalam belantika musik dunia, yaitu John Lennon, Paul Mc Cartney, George Harrison, dan Ringgo Starr, yang mampu membuat dunia berdecak kagum saat menikmati karya-karyanya.

Hampir di setiap negeri di dunia memiliki penggemar setia The Beatles, bahkan sampai di kawasan kita sendiri. Para penggemar The Beatles kebanyakan berkumpul dalam sebuah komunitas aktif, biasanya mereka kumpul untuk berbincang santai, saling bertukar informasi, menggelar pentas-pentas tribute untuk band kesayangannya ini, sampai kegiatan-kegiatan positif lainnya seperti bakti sosial.

Di Depok, para penggemar The Beatles menyatukan diri dalam Depok Beatles Community (DBC). Tidak hanya orang tua saja, para remaja yang gemar The Beatles juga turut bergabung dan aktif dalam komunitas ini. “Tidak sekedar siltarahmi dan jalin komunikasi saja, kami disini juga memiliki visi dan misi selayaknya organisasi,†ungkap Bambang Pupung, pendiri DBC. Bagi Kota Depok, lanjut Pupung, komunitas ini turut berkontribusi untuk mengarahkan pemuda ke arah yang positif melalui musik, khususnya The Beatles. Disini, orang tua dan anak muda berkumpul dan bermusik bersama.

Komunitas yang juga gemar melakukan aksi sosial dan kemanusiaan ini memang belum memiliki sekretariat khusus, kumpulnya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kafe ke kafe lain, sesuai kesepakatan bersama baik melalui telpon, sms, email maupun grup yang mereka miliki di media sosial Facebook.

Biasanya, bila komunitas ini sudah berkumpul akan membuahkan aksi-aksi sosial untuk lingkungan sekitar. Menurut Pupung, komunitas ini juga merealisasikan ide dan mimpi dari The Beatles yang dituangkan dalam lirik-lirik lagunya. Lagu The Beatles banyak menyuarakan tentang cinta terhadap sesama manusia tanpa harus membeda-bedakan kultur, warna kulit, bangsa dan agama, serta menciptakan perdamaian dunia hingga harmonis. “Action not just idea,†pungkas Pupung.

Sukses untuk Depok Beatles Community!

Depok Beatles Community

  • Facebook: Depok Beatles Community

Coki Lubis

Mau Jadi Jutawan Kelapa Muda?

Advertorial

\r\nBerawal dari kunjungan Syahnan Sukur ke salah satu negara tetangga di Asia Tenggara, maka ide untuk memulai bisnis kelapa muda modern-pun tercipta, yaitu memproduksi dan memasarkan kelapa muda siap saji. Dengan improvisasi dan kreatifitas yang mengesankan, bersama rekannya Agus Wijaya, UD. Batavia Kelapa Muda didirikan pada Maret 2010, untuk memproduksi beragam sajian kelapa muda siap saji dalam kemasan menarik. Tidak hanya kelapa muda, namun kelapa kopyor, kelapa ijo, kelapa oven, sampai koktail kelapa lontar  turut menjadi andalan bisnisnya.\r\n\r\nIndonesia merupakan negara yang memiliki luas perkebunan kelapa terbesar, dan bagi mereka ini sangat potensial untuk merealisasikan ide bisnis ini. Dimulai hanya dengan beberapa pekerja, kedua pria yang memiliki semangat tinggi ini mampu mengawali bisnis yang inovatifnya dengan memasarkan produk ke dua konsumen di bidang ritel dan lima kedai serta restoran.\r\n\r\nKini, UD. Batavia Kelapa Muda yang sudah memiliki belasan staf ahli dan pekerja lepas ini sudah merambah ke bisnis ritel besar di negeri ini, yakni  menjalin kerjasama dengan Matahari Hypermart dan Carrefour Indonesia.  Alhasil, realisasi ide bisnis ini-pun terus melaju dengan cemerlang sampai saat ini. Bahkan usaha ini sudah merambah ke penjualan langsung melalui booth-booth yang tersebar di Jabodetabek.\r\n\r\nSeiring dengan langkah-langkah keberhasilannya ini, Syahnan dan kawan-kawan kini merambah ke dunia waralaba. Hal ini bertujuan untuk membantu kalangan ekonomi lemah dan menengah yang ingin mempunyai bisnis dengan modal yang terjangkau. “Nantinya, kami akan membantu mitra dalam penentuan lokasi apabila kesuiltan mencari tempat usaha. Kami akan menyiapkan counter/booth, aksesoris, perlengkapan lainnya serta media promosi,†ujarnya.\r\n\r\nUntuk mendukung mitra dan kelancaran usahanya, UD. Batavia Kelapa Muda sudah membuka dua kantor perwakilannya. Kantor area selatan untuk Tangerang, Depok, Jakarta Barat, Utara, Selatan dan Pusat. Sementara kantor area timur untuk Bekasi dan Jakarta Timur. Perwakilan ini tentunya untuk mendukung dan mendampingi mitra-mitranya.\r\n\r\n14 produk unggulannya kini adalah; Batavia Kelapa Muda, Batavia Kelapa Ijo, Batavia Kelapa Oven, Batavia Kelapa Kopyor, Batavia Kelapa Serut (dalam cup dan kemasan plastik), Air Kelapa (kemasan botol, kotak, dan cup), Air Kelapa Tonik (kemasan botol dan cup), Daging Kelapa Beku (kemasan plastik), Selai Kelapa, Sirup Kelapa, Kelapa Lontar/Siwalan (kemasan toples dan kaleng), Sirup Lontar, dan Sari Kelapa Lontar (Nata de Lontar) yang dikemas dalam plastik dan cup.\r\n\r\nInformasi Waralaba\r\n

      \r\n

    • UD. Batavia Kelapa Muda

\r\n

  • Perum. Gaperi I Blok NL No. 1A, Bojong Gede – Bogor

 

\r\n

  • Telp/Fax.: 021 – 878 1132

 

\r\n

\r\n

Serba Keju, Gurih dan Ringan di Kantong

BILA Anda mengaku penggemar mie ayam, rasanya petualangan belum lengkap bila tidak mencicipi sajian Mie Ayam Keju a la kedai Miyam Keju yang berlokasi di jalan Cagar Alam, Depok 1.

Sederet menu mie ayam dengan paduan keju ada disini, dan depoklik menjatuhkan pilihan pada sajian Mie Ayam Keju Spesial Bakso. Senin (8/10) siang kemarin depoklik puas menikmati mie ayam yang bertabur parutan keju ini. Yang tertangkap lebih dulu oleh indera pengecap kami adalah rasa gurihnya, dan ternyata tidak terlalu asin seperti yang kami bayangkan sebelumnya. Kuah terpisah dengan citarasa khas oriental yang padu padan dengan mie ayam membuat kami tak henti menyeruputnya. Sayangnya, siang itu kami kehabisan pangsit keju rebus yang menjadi andalan kedai ini.

Selain parutan keju, caisim dan potongan ayam, sedikit sayur tauge turut melengkapi mie ayam keju ini,  tentunya membuat sajian terasa lebih segar. Satu lagi rahasia nikmatnya sajian ini adalah mie-nya tidak menggunakan mie biasa, melainkan mie produksi sendiri yang diolah dengan sedikit keju. hmm..penasaran bukan? Mienya kecil, tipis, dan keriting, teksturnya-pun kenyal dan enak di kunyah. Jangan kaget bila Anda terasa kenyang seusai menyantapnya, karena kadar telur dalam olahan mie ini lebih banyak dibanding mie lainnya.

Santapan kami kali ini semakin sempurna rasanya setelah kami berikan saus sambal yang tersedia di meja, karena saus sambal yang disajikan adalah saus sambal berkualitas dan sehat. Dan yang lebih menyenangkan lagi, menu nikmat ini hanya dibandrol Rp 10000. Bila Anda memesan mie ayam keju biasa, harganya hanya Rp 7000, ringan di kantong bukan? Selain itu, Mie Ayam Keju Yamin juga tersedia disini. Bila Anda enggan keluar rumah, jangan khawatir, karena kedai Miyam Keju juga melayani pesan-antar dengan minimal pemesanan 3 porsi.

Nah, selanjutnya giliran Anda untuk mencicipi…

Miyam Keju

  • Jl. Cagar Alam, Depok 1
  • Telp. 8073 4181
  • Jam buka: 10.00 – 21.00

 

Coki Lubis

Foto: CL