fbpx

Institut-A Infohouse, Ruang Alternatif Untuk Pendidikan

Mengolah barang bekas, pemutaran film, acara musik, dan diskusi sosial adalah beberapa kegiatan yang dilakukan oleh teman-teman dari Institut-A- Infohouse & Community Center. Komunitas kolektif ini hadir di kawasan kita sejak akhir Oktober lalu. Rumah Institut-A mencoba mengkampanyekan gaya hidup alternatif dan kesadaran kritis melalui aktivitas harian dan tindakan langsung. “Kami percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah sebuah proses pencarian yang terus berjalan sekaligus hal berharga yang harus dibagikan dan dikembalikan ke lingkungan kita,” ujar Mita salah satu pengurus Institut-A- Infohouse & Community Center.

Tujuan Rumah Institut-A adalah sharing (berbagi) ilmu pengetahuan kepada masyarakat muda di kawasan kita pada umumnya dan masyarakat muda di sekitar Rumah Institut-A pada khususnya. Sebab, para pengurusnya percaya bahwa ilmu pengetahuan tidak terbatas pada institusi pendidikan saja, namun segala hal dapat menjadi pembelajaran, setiap arena menjadi ruang kelas, dan setiap orang dapat menjadi pengajar.

Saat ini Rumah Institut-A menjadi rumah bagi anak-anak usia taman kanak-kanak, sekolah dasar untuk bermain dan berkreasi. Selain anak-anak kecil, Institut-A juga menjadi rumah bagi remaja yang ingin berbagi ilmu, mengajar anak-anak, dan mengembangkan usaha alternatif seperti sablon baju, bermusik, dan lain-lain.

Perpustakaan, kelas Bahasa Inggris, kelas keterampilan dari barang bekas, diskusi rutin dengan berbagai tema, pemutaran film, hingga berbagai workshop dan acara musik adalah program rutin yang ditawarkan Rumah Institut-A. Segala kegiatan itu pun dilakukan secara cuma-cuma mengingat tidak semua ruang pendidikan dapat diakses dengan mudah oleh segala lapisan masyarakat.

Nah, Anda berminat menjadi tenaga pengajar atau sekedar berbagi ketrampilan atau apapun ide untuk memajukan anak anak di kawasan? Langsung saja datang ke tempat yang terbuka untuk semua orang ini.

Institut-A- Infohouse & Community Center

Jl. Fatima Atas 1 No. 14, Pondok Cina

email: [email protected]

Ika

Kenali dan Hadapi Kanker Payudara Bersama RSMKD

KASUS kanker payudara di Indonesia termasuk tinggi pada rentang usia 45-49 tahun, sementara usia 20 tahun masih cukup rendah. Hal ini seperti yang disampaikan dr. Budi Harapan Siregar, SpB(K)Onk dalam seminar kesehatan ‘Mengenal Lebih Jauh Kanker Payudara’. diadakan oleh Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok (RSMKD), Sabtu (18/12) lalu. Dokter spesialis bedah tumor ini menambahkan, “Gejala-gejala kanker payudara bisa diamati sejak dini, seperti benjolan, perubahan bentuk ataupun warna dari payudara, hingga cairan yang keluar dari puting susu. Akan tetapi itu menjadi gejala-gejala umum yang tetap harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan tahap berikutnya, untuk memastikan diagnosa.†Usia yang makin lanjut, menopause lambat ataupun kehamilan di atas usia 35 pun bisa menjadi faktor yang berisiko tinggi dalam menyebabkan kanker payudara. dr. Budi juga menuturkan bahwa haid pertama pada usia kurang dari 12 tahun, serta pernah operasi payudara sebelah atau pernah mengalami radiasi di bagian dada, serta gaya hidup yang tak sehat disinyalir sebagai beberapa faktor risiko kanker payudara.

Seminar yang dimoderatori oleh dr. Shelly Dameria juga mengungkap cara-cara mendeteksi dini kanker payudara. Salah satunya adalah dengan SADARI (periksa sendiri) yang dapat dilakukan oleh para wanita. Namun, untuk hasil yang lebih akurat bila adalah dengan menjalani tes laboratorium, yaitu mammografi. Dengan melakukan pengecekan sedini mungkin, kanker payudara akan lebih mudah diobati. “Pengobatan dini yang bisa dilakukan, seperti operasi, kemoterapi, penyinaran. Pengobatan lanjut pun penting untuk dilakukan, seperti hormonal, kemoterapi, penyinaran dan operasi,†jelas dr. Budi.

Bila Anda tak sempat datang ke seminar ini, tak perlu ketinggalan informasi. Menurut Fransiska Fitriani, Marketing Staff RSMKD, seminar kesehatan adalah program bulanan RSMKD yang diadakan dengan tema yang berbeda tiap bulannya. Dan untuk mempermudah akses masyarakat Depok, khususnya tentang penyakit kanker payudara, RSMKD menyediakan fasilitas USG Payudara dengan diskon khusus 15% mulai 13-25 Desember 2010 di RSMKD. Informasi: 77210 700 / 800 – Ext. 0 / 5061

Tika Sylvia Utami

Periksa Kanker Payudara Sendiri

Selain mammografi, kanker payudara juga dapat dideteksi lebih dini dengan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Menurut dr. Budi Harapan Siregar, SpB(K)OnkSADARI dapat dilakukan setiap bulan sekali secara rutin, tepatnya satu minggu setelah menstruasi, dan bisa mulai diperiksa pada usia awal 20-an. Apa yang harus Anda lakukan dalam SADARI?

  • Berbaringlah atau berdiri tegak di depan cermin dengan payudara yang tak tertutup busana.
  • Tekan perlahan daerah sekitar puting susu pelan-pelan, lalu amati apakah keluar cairan yang tidak biasa  atau tidak normal.

 

  • Perhatikan lebih lanjut apakah ada benjolan, perubahan bentuk payudara, angkat kedua tangan dan ulangi pemeriksaan tadi.

 

  • Selain itu, pemeriksaan dini juga bisa dilakukan dengan menggenggam telapak tangan kuat-kuat dengan siku mengarah ke samping. Cara ini akan bisa menegangkan otot-otot dada dan mempermudah dalam melihat lebih jelas cekungan dan benjolan.

 

  • Dalam posisi berbaring kesamping pun SADARI tetap bisa dilakukan. Berbaringlah ke samping kanan dan letakkan tangan kanan di bawah kepala serta taruh bantal kecil di bawah punggung kanan. Perlahan raba payudara dengan 3 ujung jari tengah yang dirapatkan dan lakukan gerakan memutar mulai dari tepi ke arah tengah, sesuai arah jarum jam. Lakukan hal yang sama dengan payudara sebelah.

 

Jangan lekas panik apabila menemukan gejala-gejala, seperti benjolan, atau keluarnya cairan dari puting susu. Segera konsultasikan ke dokter untuk dilakukan tes lebih lanjut. Bila tumor masih dalam tahap dini (kurang dari 1 cm), harus segera diambil tindakan, agar tumor tidak berkembang ke tahap berikutnya.

Tika Sylvia

Makan Seafood Sambil Nonton Bola

 

KONDISI dompet di akhir tahun kadang cukup terkuras, tapi Anda tetap bisa makan enak kok. Cuma perlu strategi yang tepat, salah satunya adalah bersantap di Dizza Seafood & Ikan Bakar. Resto yang berdiri tiga tahun ini menyediakan berbagai hidangan laut, seperti Udang bakar, Cumi Asam Manis, Kerang Saos Padang dengan harga yang yang bersahabat. Bagi yang tidak menyukai makanan laut, tetap tersedia pilihan lain, seperti;  iga bakar, ayam saus tiram, dan masih banyak lagi.

Selain harga yang cukup ‘sehat’ bagi dompet Anda, atmosfer resto ini pun nyaman. Interior dan dekorasi resto ini walau tak mencerminkan sebuah restoran seafood, namun digarap dengan pendekatan ‘tempat nongkrong anak muda’ yang berwarna-warni dan didominasi dinding kaca, ditambah keramahan dan kesigapan para pelayan. Selagi menunggu pesanan, Anda bisa membaca beberapa buku dan majalah yang sengaja diletakkan di bagian dalam resto untuk membunuh lapar sebelum pesanan datang. Selain tempat bersantap, Dizza juga kerap digunakan sebagai tempat berkumpul para penggila bola, khususnya pecinta klub Manchester United. Mereka selalu mengadakan kegiatan nonton bareng jika klub mereka sedang berlaga karena dilengkapi oleh LCD TV yang sangat mendukung kegiatan ini. Saran kami, datanglah saat senja sudah mulai menggelayuti Depok atau ketika malam hari. Anda akan lebih bisa menikmati suasana sore yang teduh di bagian outdoor dimanjakan dengan hembusan angin.

Dizza Seafood & Ikan Bakar

  • Jl. Margonda Raya 477, Depok
  • Telp. 081808444804
  • Jam buka: Senin-Jumat 11.00 – 23.00, Sabtu dan Minggu 11.00 – 00.00
  • Harga : Rp 15.000 hingga Rp 35.000

Astrid Riantiningthias

Angka Kematian Ibu Meningkat, FKM UI Gelar Seminar

ANGKA Kematian Ibu (AKI) melahirkan di Indonesia masih terhitung cukup tinggi hingga mencapai 228 per 100.000 kelahiran. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan sehingga perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Menurut Diah Saminarsih, Deputi of Special Envoy MDGs (Millenium Development Goals), AKI tertinggi saat ini terdapat di Indonesia Bagian Timur. “Keadan tersebut disebabkan karena jumlah penduduk yang terlalu banyak, kurang terkendali serta tidak adanya pemerataan kependudukan,†ungkapnya. Hal ini disampaikan dalam Seminar ‘Pengembangan Kompetensi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan’ di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, Jumat (3/12) lalu.

Acara yg digelar di Ruang Promosi Doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat UI ini menjadi sebuah langkah kepedulian terhadap Ibu-ibu hamil serta usaha menurunkan AKI. “Kegiatan ini bertujuan mencari solusi, baik itu dari mahasiswa, bidan komunitas, para undangan maupun pembicara seminar untuk menurunkan AKI sesuai target MDGs 2015,†ujar Risky Kusuma, Ketua Panitia Seminar.

Seminar ini juga mengevaluasi perangkat-perangkat terkait, salah satunya adalah mengenai penyebaran tenaga profesional. Tenaga professional di beberapa daerah luput dari pengelolaan, bahkan masih banyak yang berkumpul di kota-kota besar. Akibatnya, daerah terpencil kurang tersentuh dan menjadi faktor meningkatnya AKI. Selain itu, biaya persalinan di Rumah Sakit yang cenderung tinggi mengakibatkan beberapa kalangan di masyarakat mempercayakan proses persalinan ke dukun bayi. Permasalahan AKI tentu saja menjadi fokus yang penting, sehingga pemerintah terus melakukan upaya untuk menanggulanginya. “Pemerintah terus berupaya dengan melakukan kerjasama lintas sektor/lintas program, kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun dengan pelayanan kesehatan swasta†tutur Drg. Tri Wahyu Harini MM. M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. “Peningkatan akses dan kualitas dari puskesmas dengan unit penanganan darurat untuk Ibu dan anak juga perlu diperhatikan, sambil terus melakukan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) nya,†lanjut Tri Wahyu. Kematian Ibu melahirkan.

Tindakan nyata memang sangat diperlukan, karena penurunan AKI jangan sekedar sekedar harapan atau wacana belaka. Ketua LSM Yayasan Kesehatan Perempuan, Ninuk Widyantoro turut angkat bicara siang itu. Ia mengungkapkan bahwa pada akhirnya, Ibu-ibu hamil juga perlu diberikan informasi yang jelas dan lengkap mengenai proses kehamilan maupun kesehatan. Usia kehamilan yang tepat, perawatan pada saat kehamilan, maupun pasca kehamilan pun menjadi informasi yang penting dalam rangka penurunan AKI.

Akankah kita terus berdiam diri mendapati semakin tingginya Angka kematian Ibu (AKI)? ini saatnya bagi kita semua untuk peduli pada Ibu, Ibu kita, Ibu Indonesia.

Tika Sylvia Utami

Foto: FKM UI

Lembutnya Irish Creame, Segar di Siang Hari

BOSAN dan jenuh dengan tugas-tugas yang menumpuk, atau ingin sekedar mencari tempat untuk bersantai sambil berbincang? Mungkin ini saatnya untuk melepas penat sambil menyeruput kopi berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Coffee Toffee yang berlokasi di FISIP UI (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia) bisa menjadi pilihan yang tepat.

Irish Creame (light coffee) menjadi menu pilihan depoklik pada Selasa (11/30) siang lalu. Tidak perlu menunggu lama ketika Barista meneriakkan menu andalan yang ditunggu-tunggu itu.

Menu yang dibandrol Rp 14500 ini tampil memikat dengan tambahan creame di atasnya, kami pun tergoda untuk segera mencicipinya. Creame yang lembut sepadan dengan rasa kopinya ketika diaduk. Bila Anda tidak menyukai creame, tentu saja bisa memesan blended coffee ini tanpa cream. Rasa kopi yang berpadu dengan irish whiskey menjadi daya tarik tersendiri pada kopi yang masuk dalam kategori frappe blended dengan campuran dua jenis kopi.  Hal ini diakui oleh Dimas Resty, Business Ekspansion Manager, “Kopi yang kami gunakan ada dua, yakni Java Mocha untuk Robusta dan Toraja Kalosi untuk Arabica yang keduanya di-blend jadi satu.â€

Bukan hanya kopi yang tersedia disini, Anda juga dapat mencoba sensasi yang lain, seperti chocolate, blended tea, green tea, hingga pancake. Jadi silakan pilih, ingin merasakan sensasi kopi  atau minuman segar lainnya?

Coffee Toffee

  • FISIP Universitas Indonesia
  • Jam buka: Senin-Jumat 08.00 – 20.00, Sabtu 08.00- 17.00
  • Harga  : Rp 5000 hingga Rp 15000

Tika Sylvia Utami

Ismi Kushartanto: UKM Berbasis Agroindustri Sangat Layak di Investasi

INGIN berinvestasi? Jangan tanggung-tanggung, sebaiknya investasi yang di tanamkan tidak sekedar menghasilkan keuntungan cepat, namun bisa mensejahterakan banyak orang. Hal ini disampaikan oleh Ismi Kushartanto, seorang pengusaha asal bogor yang sudah 12 tahun berkecimpung di dunia perbankan syariah.”Pria kelahiran 51 tahun silam ini sempat bercerita panjang lebar kepada depoklik tentang investasi saat ia berkunjung ke markas The Green Coco Island – Depok, sebuah rumah agroindustri kelapa pimpinan Wisnu Gardjito, Sabtu (27/11) sore lalu. Ismi menyampaikan bahwa saat ini usaha berbasis agroindustri sangat layak menjadi pilihan investasi, karena Indonesia unggul di natural resources dan memiliki pasar regional yang luas. “Salah satunya adalah industri kelapa yang dikembangkan Pak Wisnu di Green Coco Island ini,†ungkap Ismi. Saya tidak pesimis untuk berinvestasi disini, lanjutnya, karena penguasaan teknologi yang membuat kelapa jadi puluhan produk siap pakai sudah ada di depan mata.”Menurut mantan direktur BNI Syariah ini, investasi memang kurang baik bila ditanam dalam bisnis agro yang hanya bergerak di wilayah primer (red-bahan mentah), tapi bila diolah menjadi belasan produk siap pakai, nilai tambahnya sangat luar biasa, bisa mencapai ribuan persen. “Menjual produk olahan kelapa seperti minyak, sabun, lotion, obat flu, VCO, produk kuliner, asap cair, dan sebagainya sampai bio-etanol, seperti yang dikembangkan oleh  Improvement Institute dan The Green Coco Island ini jelas jauh lebih baik dibanding jual kelapa dalam bentuk kopra,†tegasnya. Bagi Ismi, industri ini sangat layak di investasikan.”Pada kesempatan bincang-bincang itu, pria yang low profile ini mengatakan bahwa industri agro lebih cocok bila investasinya keroyokan seperti sistem koperasi karena wilayah garapannya sangat luas, dengan begitu  investasi akan terasa ringan. Bila pengembangannya maksimal, pasarnya tidak sekedar rumah tangga atau regional, namun bisa berpenetrasi ke pasar internasional. Selain itu, industri ini dapat mensejahterakan petani, karena petani kita dapat mengolahnya sendiri dan ikut menikmati nilai tambahnya. “Saya merekomendasikan industri UKM ini sebagai pilihan investasi.  Selain pasarnya luas dan menghasilkan keuntungan, kita dapat membangkitkan kejayaan bangsa di sektor agro dan mensejahterakan petani. Jadi selain nilai tambah hingga 8800 persen, mungkin disini ada nilai pahala,†ujar Ismi seraya tersenyum.”Bicara soal kawasan, menurut Ismi produk-produk ini bisa menjadi potensi kota. Ternyata Depok memiliki produk unggulan berbasis kelapa yang bisa menjadi ciri khas. “Walau kelapanya bukan dari sini, tapi ide, pengolahan dan pemasarannya bisa dipusatkan disini,†kata Ismi. Saat ini lokasi pengolahan kelapa menjadi produk siap pakai baru tersebar di beberapa titik lingkungan warga. “Untuk membangun kota, titik-titik pengolahan ini sebaiknya dikembangkan dan ada di setiap Kelurahan. Dengan begitu secara bertahap Depok bisa menuju sustainable city (kota berkelanjutan), dan ini jadi contoh baik bagi kota-kota lainnya,†pungkas Ismi dengan penuh optimis.”Coki Lubis“Foto: AN