fbpx

Ahli Psikologi Forensik Minta Polisi Usut Netizen Pengunggah Status Menyewa Pembunuh Bayaran

Seorang netizen bernama Nathan P Suwanto mengunggah status di sosmed akan keinginannya mencari pembunuh bayaran untuk menghilangkan nyawa Habib Rizieq, Fadli Zon, Fahira Idris, Fahri Hamzah, Buni Yani dan lain-lain. Hal itu pun sontak mengundang reaksi publik.

“If you know to crowdfund assassins to kill Fahira Idris, Fadli Zon, Fahri Hamzah, Habib Rizieq, Buni Yani, and friends, lemme know,” kicaunya di akun Twitter @NathanSuwanto pada hari Sabtu (29/04) pukul 12.36 WIB.

Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel berharap kepolisian segera mengusut tuntas tulisan status yang bernada ancaman teror pembunuhan tersebut.

Reza mendapatkan kabar bahwa postingan tersebut bukan kabar hoax. Namun, andai tulisan itu hanya sekedar main-main sekalipun, kata-kata tersebut tetap tidak layak untuk dipublikasikan di media sosial.

“Semoga kepolisian mengusut serius dan tuntas tulisan tersebut. Jangan sampai kian nyata hasil studi Economist The Intelligence Unit bahwa Jakarta adalah kota yang paling tidak aman,” kata Reza Indragiri Amriel, Minggu (29/4).

Masifnya penyebaran informasi via medsos, di masa yang berat seperti sekarang, tak bisa dibayangkan apabila ada orang-orang yang menyambut tawaran (tulisan) tersebut. Orang tersebut lalu melakukan killing spree. Setelah selesai, dia menagih bayarannya kepada si otak pelaku (mastermind) atau si pembuat tawaran.

Si otak pelaku mulai merasa bahwa membiayai pembunuh bayaran merupakan cara yang bisa dia lakukan untuk mencapai kepentingan pribadinya. Di lain sisi, kondisinya bersimbiosis​ dengan muncul orang-orang yang merasa bahwa mereka bisa sewaktu-waktu mendapat uang karena di luar sana ada cukong yang mau membayar mereka.

Lebih lanjut Reza mengkhawatirkan, pada situasi itu orang baik bisa dengan mudah menjadi jahat, dan orang jahat akan terlihat sebagai orang baik.

Faktor struktural dan kultural di kawasan perkotaan terbukti positif untuk memprediksi serial killer (pembunuhan beseri). Secara struktural ada kepadatan populasi, yaitu wilayah yang luas, perkotaan, dan berpenghuni padat. Secara kultural, ada nilai-nilai yang menoleransi kekerasan pada diri sebagian orang.

“Itu merupakan area ideal bagi kondisi anonim, menyediakan banyak korban, dan menyediakan banyak orang yang rapuh sebagai calon eksekutor,” ujar Reza.

Leave a Comment