fbpx

Atur Pola Hidup Demi Cegah Penularan Diabetes Ke Anak

DEPOKLIK. Setiap orang tua pasti menginginkan seorang anak yang sehat fisik tanpa cacat sedikit pun. Namun, bagaimana kisahnya jika Tuhan menciptakan seorang anak yang lahir memunyai fisik yang tidak sempurna?

Lahirnya seorang anak yang tidak normal ke dunia bukan menjadi permasalahan utama dalam berkeluarga.

Ada beberapa penyebab yang menjadikan anak harus terlahir tidak sebagaimana mestinya, semisal penyakit diabetes bawaan yang diidap sang ibu.

Kaki dan tangan halus serta suci dari dosa tidak seharusnya mengucilkan seorang anak yang tidak sempurna. Coba kita tengok kembali dari mana penyebab tersebut terjadi.

Menurut Bidan Ela Rosilawati, seorang ibu yang mengidap penyakit diabetes sangat berisiko melahirkan.

Diabetes Melitus sendiri adalah ketidakmampuan tubuh untuk mengubah makanan menjadi energi karena gangguan metabolisme yang terjadi dalam tubuh.

Diabetes juga disebut dengan penyakit kencing manis. Penyakit ini disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat atau kegemukkan. Lalu mengapa diabetes dapat menyebabkan kelahiran anak yang tidak normal?

“Pembuluh darah yang berhubungan dari ibu ke janin yang ada di plasenta rusak, sehingga suplai makanan dan oksigen terganggu,” tutur Bidan Ela (38).

Wanita yang mepunyai dua anak ini menjelaskan, rusaknya pembuluh darah menyebabkan ukuran si buah hati dari ibu penial diabetes lebih kecil daripada bentuk normal biasanya.

Selain itu, suplai gula darah yang tidak terkontrol dari si ibu bisa menyebabkan ukuran bayi menjadi besar (giant).

Memang disayangkan nasib seorang ibu yang telanjur tidak bisa mengatasi pola hidup yang sehat. Akibatnya, buah hati yang polos tanpa dosa harus beban itu.

Namun bagi ibu pengidap diabetes kini tak perlu khawatir lagi penyakitnya akan tertular ke anak.

Segala penyakit tentu bisa disembuhkan, minimal dicegah dan dikurangi. Seperti diabetes, juga mempunyai cara untuk pencegahannya.

“Dari pemeriksaan kehamilan trimester pertama sampai trimester ketiga selalu dikontrol berat badan, TFU (Tinggi Fundus Uteri), dan pemeriksaan gula darah rutin. Biasanya diberikan penyuluhan untuk diet makannya,” ujar Bidan Ela.

(Penulis adalah mahasiswi Jurnalistik, Politeknik Negeri Jakarta, Zakiah Hidayanti/baf)

Leave a Comment