fbpx

Andi Gunawan, Siap Mewarnai Sastra Indonesia

Di balik penampilan preppy-nya, Andi Gunawan adalah sosok yang sangat ramah dan sederhana. Tak perlu berbincang lama untuk tahu bagaimana sastra dan seni mengalir dalam diri pemuda 22 tahun yang juga warga Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Kepada depoklik, penulis buku kumpulan prosa “Kejutan!†ini bercerita banyak mengenai hidup dan kecintaannya terhadap bahasa.

\\r\\nDua Puluh Empat Jam Sehari\\r\\n\\r\\nHanya sempat empat semester mengenyam pendidikan Komunikasi Massa di FISIP UHAMKA, Jakarta Selatan, Andi tetap dapat membuktikan bahwa faktor ekonomi sama sekali bukan halangan. Kini ia bekerja di PT. Intuisi Karya Pratama sebagai wartawan untuk tiga media cetak, yaitu Thawaf Magazine, Mutiara News, dan tabloid What’s In Bali.\\r\\n\\r\\nTak cukup dihantam jam lembur dan mengasuh empat orang keponakannya yang masih kecil-kecil, ia masih menyisakan waktunya sebagai relawan di Akademi Berbagi Jakarta, sebuah gerakan sosial bidang pendidikan non-formal. Di sela-sela kesibukannya, blog-nya Opera Aksara pun tak pernah ia telantarkan. Sepertinya, memang bukan Andi namanya jika tumbang sebelum benar-benar kehabisan energi.\\r\\n\\r\\nAndi dan Sastra\\r\\n\\r\\n“Sejak SMP saya gemar menulis, tanpa tahu apa yang saya tulis,†tutur Andi. Awalnya ia menulis puisi, yang pertama dikenalnya melalui karya Chairil Anwar dari guru Bahasa Indonesia SMP-nya. Kemudian, tulisannya berkembang menjadi berbagai karya prosa yang dipajangnya di berbagai tempat—facebook, blog, dan berbagai situs lain, termasuk Kompasiana. “Menulis dan dibaca oleh orang lain ternyata menimbulkan afeksi yang entah-apa-namanya-tetapi-mirip-candu,†akunya.\\r\\n\\r\\nKetimbang modern-pop, Andi lebih memilih membaca karya modern-klasik. Karya lawas banyak menjadi favoritnya. “Saya salut pada sajak mbelingnya Remy Silado. Saya mengagumi puisi-narasi-nya Sapardi Djoko Damoni. Saya mencintai kelembutan sajak Aan Mansyur. Untuk prosa, saya menggilai Pramoedya Ananta Toer,bernas. Sekarang, saya sedang gemar membaca esai-esai Linda Christanty,†demikian Andi mengungkapkan tokoh-tokoh sastra yang banyak menjadi inspirasinya.\\r\\n\\r\\nSelain nama-nama tersebut, ada satu nama lagi yang selalu harus ia sebut meski menurutnya mungkin bukan penulis: Gus Dur. “Beliau memberi banyak hal ke dalam kepala saya. Semangat pluralismenya adalah hal yang ingin saya jaga.â€\\r\\n\\r\\nKejutan! dan Impian\\r\\n\\r\\nBerawal dari mendaftarkan diri dalam program 99 Writers in 9 Days yang digelar oleh sebuah penerbitan pada bulan Oktober 2010, Andi mengumpulkan 20 judul prosa yang pernah ditulisnya, dan Voilà!—begitu ia berseru—“anak†pertamanya dengan judul “Kejutan!†pun lahir dan siap dibaca. “Sesuatu yang terlanjur basah,†tukas Andi setengah berkelakar.\\r\\n\\r\\nTak lama kemudian, Andi keluar dari penerbitan tersebut dan mencetak ulang bukunya sendiri. Buku tersebut ditawarkannya sendiri dari mulut ke mulut. “Akhirnya sampailah ke seorang editor di Yogyakarta yang berniat membuat penerbitan sendiri, Daniel Prasatyo. Ia menawarkan menerbitkan ulang ‘Kejutan!’ dengan perubahan kemasan dan penambahan konten,†kisahnya, “total kini berisi 40 prosa, dengan selipan beberapa ilustrasi yang digambar tangan oleh kawan di Jogja, Gita Listya.â€\\r\\n\\r\\nNamun, Andi tak lantas begitu saja merasa puas. Diam-diam ia mempunyai keinginan membentuk Kelompok Baca Sastra. “Ada banyak pendidikan menulis, tetapi tak banyak belajar membaca,†ujarnya. Selain itu, ia juga berimpian memiliki media cetak sendiri, entah koran atau majalan. “Yang pasti, kontennya bukan gosip terkini selebriti,†selorohnya—tapi saya tahu ia serius.\\r\\n\\r\\nDisa Tannos\\r\\nFoto: Suryo Brahmantyo

Anna Margret, Dosen Politik Bersepatu Lari

Cara Anna Margret bercerita kepada depoklik menunjukkan bagaimana ia memiliki passion yang sangat besar terhadap olahraga lari.\r\n\r\nSesekali ia tertawa lepas dengan wajah berseri-seri. Lalu, bagaimana Anna terjun ke dunia lari yang dulu tak pernah digelutinya, dan apa yang membuatnya jatuh cinta?\r\n\r\n \r\n\r\nDari 3 Menit ke Runner‘s High\r\n\r\nSebelum mengenal dunia lari, Anna Margret hanya seorang wanita 30-an biasa, yang hanya bertahan di atas treadmill selama tiga menit. Juga selalu minta tugas kliping tambahan tiap ujian atletik di sekolahnya dulu.\r\n\r\nKini, dosen Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia justru ‘kecanduan’ lari. Gandrungnya Anna pada dunia lari dimulai awal 2010 dari ajakan seorang teman yang dikenalnya di sebuah gym. Meski awalnya ragu karena pernah mengalami cedera, Anna justru merasakan kesenangan tersendiri ketika sudah mencoba.\r\n\r\n“Belakangan baru tahu ada yang namanya runner’s high,  yaitu ketika hormon endorfin keluar,†jelas Anna. “Pernah coba olahraga lain,tapi rasanya beda dari lari. Lari itu paling bikin happy. Tapi istilah runner’s high memang cuma ada di lari,†lanjutnya.\r\n\r\nAdination of Runners Indonesia\r\n\r\nBegitu cepat jatuh cinta pada olahraga lari membawa Anna menjadi salah satu duta Adination of Runners Indonesia, yaitu sebuah komunitas lari yang dengan sengaja bermaksud mengajak pelari-pelari baru—baik yang baru menyukai lari ataupun baru mau mencoba. Komunitas ini diluncurkan pada akhir bulan Oktober 2010, dengan Adidas sebagai supporter.\r\n\r\n“Kami difasilitasi untuk ketemu tiap Minggu pagi, dan tiap lari disediakan air minum dan pisang,†jelas Anna. Bersama keempat duta lainnya Pasha Yudadibrata, Heru Hendrajito, Muara Robin Sianturi, dan Erwin Wibowo, Anna ingin mengajak sebanyak mungkin orang untuk berlari.\r\n\r\nBagi Anna, yang paling penting dalam berlari adalah kemauan untuk meluangkan tenaga dan waktu. “Kalau aku yang baru berlari di usia 30 tahun lebih saja bisa, apalagi orang lain? Ini nggak cuma propaganda kosong tapi memang bukti. Karena kan nggak langsung ‘digeber’, mulai pelan-pelan, lalu baru pakai target waktu dan jarak,†jelasnya.\r\n\r\nAnna dan Dunia Lari\r\n\r\nMengapa Anna sangat mencintai lari? “Lari bikin awet muda. Ketahanan tubuh dan konsentrasi juga lebih baik. Untuk kerja lebih rileks, dan jam produktif jadi lebih panjang. Kalau habis lari jarak pendek (di bawah 15 kilo. red), malamnya pulang kerja bisa lebih lama terjaga,†jelasnya.\r\n\r\nBagi Anna, berlari sama seperti men-charge baterai. “Ada saatnya saya bangun pagi dan malas lari, lalu tidur lagi. Tapi di hari-hari lain, kadang sedang sakit pun saya memaksa lari. Kadang tambah ambruk, kadang malah sembuh. Itu rasanya kalau melakukan sesuatu yang kita senangi,†cerita Anna sambil tertawa.\r\n\r\nAnna mengakui bahwa lari selalu menjadi pelampiasannya ketika mood sedang kacau atau banyak pikiran. “Jadinya ringan banget; bebas, lepas. Dan memang ada penjelasan ilmiahnya yaitu hormon endorfin,†jelasnya. Sadar bahwa mood lari bisa muncul kapan saja, sepatu lari merah muda tak pernah lepas dari kakinya. “Beruntung di UI, kapan pun mau lari tinggal lari,†tukasnya.\r\n\r\nIa pun tak ambil pusing meski merasa tak jago berlari. “Tempo saya lambat,†akunya. Meski begitu Anna tetap rajin mengikuti berbagai kejuaraan lari, bahkan pernah meraih juara III. “Tapi saya masih yakin itu karena pesertanya kurang,†selorohnya sambil tertawa lepas.\r\n\r\nYang lebih membanggakan bagi Anna justru keberhasilannya mencapai garis finish tanpa terjatuh dan pingsan pada marathon pertamanya pada bulan Mei 2011. “Sampai garis finish terharu norak gitu, tahu dulu seperti apa, seantipati apa saya terhadap lari. Ternyata nggak  ada yang mustahil,†ungkap Anna dengan wajah berseri-seri.\r\n\r\n \r\n\r\nDisa Tannos

Lebaranan Ala Keluarga Wakil Wali Kota Depok

Bagaimana rasanya lebaran dengan delapan anggota keluarga? Pastinya sangat meriah. Itulah yang dirasakan keluarga M Idris A. Shomad (50), Wakil Wali Kota Depok. Idul Fitri tak pernah dirayakan dengan biasa-biasa saja oleh Idris dan keluarganya. Dengan enam anak—Aufa Taqiya (21), Hasna Zahida (19), Dhiya Al-Huda (17), Khansa Aidah (15), Fida Faizah (13), dan Huda Atqiya (7), selalu ada sesuatu yang spesial yang mereka lakukan di hari raya.

 

“Meskipun sedang tidak shalat, semuanya harus ikut mendengarkan khotbah,†tutur Elly Farida (46), istri Idris. “Setelah silaturahim, kita evaluasi siapa yang paling banyak khatam Alquran, biasanya dapat bonus uang. Seperti ajang lomba kebaikan, tapi ada reward-nya.â€

 

Keluarga Idris juga telah mengemas bingkisan untuk anak-anak di pinggir jalan, yang akan dibagikan setelah Idris selesai melakukan khotbah.  Selain itu, mereka juga selalu menggelar acara tukar kado dengan aneka permainan, di mana masing-masing anggota keluarga membeli kado tanpa batasan harga dan ditukar secara acak. “Ada kebiasaan juga, dari uang anak-anak yang dikumpulkan, mereka kasih hadiah ke bapak dan ibunya,†tutur Elly lagi.

 

Sebagai keluarga pemerintahan Kota Depok, tahun ini mungkin tak seperti biasanya, di mana ia selalu memasak makanan khas lebaran seperti opor ayam, sambal goreng, dan semur. “Kali ini rencananya akan digelar open house di rumah, terbuka bagi masyarakat dan menggunakan jasa catering yang telah disiapkan Pemkot Depok,†jelasnya.

Aisyah Khairunnisa/Disa Tannos

Inilah Dokter Pertama di Depok

Dokter merupakan profesi yang sangat vital dalam sebuah wilayah kependudukan. Informasi kesehatan sampai pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan merupakan hal utama yang menjadikan betapa penting kehadiran seorang dokter.rnrnMenarik bila kita mengetahui perjalanan seorang dokter yang merupakan dokter pertama yang ada di kawasan kita, setelah sebelumnya warga pribumi di Depok ini mengandalkan tabib tradisional.rnrnBeliau adalah dr. John Wilhelm Karundeng atau yang lebih dikenal dengan nama dr. Karundeng, adalah dokter pertama di Depok. Lahir di Mojokerto pada tanggal 19 Juni 1932, dr. Karundeng juga mantan pejuang perang di masa kemerdekaan RI.rnrnPria ini mengenyam pendidikan di Europesche Lagere School (ELS) Purwokerto tahun 1938, Dai Ichi Sjogako (Sekolah Jepang) Palembang tahun 1943, dan MULO Palembang tahun 1945, kemudian di tahun yang sama ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Palembang.rnrnSemasa Kecil Dr. JW. Karundeng terbiasa dalam kehidupannya berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah dikarenakan orang tuanya, yaitu Ernest Karundeng adalah seorang Kepala Stasiun pada Perusahaan Negara Kereta API (PNKA) pada saat itu (Sekarang PT. KAI/red), yang memang selalu berpindah-pindah semasa tugasnya.rnrnPada tahun 1953, JW Karundeng mengenyam pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sampai dengan semester akhir, dan beliau ditugaskan ikut sebagai tenaga pengajar di Makasar sehingga beliau menyelesaikan gelar Dokternya di Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makasar. Tahun 1963 beliau kembali ke Ibu Kota dan bertugas di RS Cikini Jakarta sebagai Dokter Full Time sampai dengan akhir tahun 1964.rnrnDiawal tahun 1965 dr. JW Karundeng diminta Departemen kesehatan Jakarta untuk bertugas menjadi dokter di wilayah kewedanaan Depok (sekarang Kota Depok/red) sampai beliau pensiun tahun 1994.rnrndr. JW. Karundeng adalah dokter pertama di Kota Depok yang telah banyak memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat Depok dan sekitarnya, jabatan demi jabatan pernah beliau emban semasa bertugas di Kota ini, beliau juga pernah menjabat kepala Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kab. Bogor tahun 1980-1989, semasa Depok masih menjadi Kota Administratif.rnrnMenurut redaksi depoklik, pria ini merupakan salah satu tokoh legendaris di Depok.rnrnrnBiodatarnNama : JOHN WILHELM KARUNDENGrnGelar  : DokterrnTempat, Tgl Lahir : Mojokerto, 19 Juni 1932rnAlamat Tinggal : Jl. Citayam Raya No. 12 B,C,D,E Depok Lama, Kota Depok, Jawa Barat.rnRiwayat pendidikan :rnrn1. Europesche Lagere School (ELS) Purwokerto 1938rn2. Dai Ichi Sjogako (Sekolah Jepang) Palembang 1943rn3. MULO Palembang 1945rn4. Sekolah Militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Palembang 1945rn5. SMA N 1 Palembang 1951rn6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1953 s.d. semester akhir.rn7. Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makasar 1963.rnrnIstri   : Ny. Marlie Karundeng-SoedirarnAnak :rnErnts Victor Karundeng, SHrnIr. Johannes Eduard KarundengrnDr. Dicki Julianus KarundengrnDonald Oscar Karundeng S.Sos. M.Si.rnDr. Mario Kristiaan KarundengrnrnWafat : Depok, 23 Nopember 1995 (dimakamkan di Taman Makam Nasional Kalibata)rnrnPengalaman Jabatan :rn

      rn

    1. Kepala Puskesmas Depok (1967 – 1979)

rn

  • Kepala Puskesmas Tjimanggis (1967 – 1979)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Sawangan (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Parung (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Gunung Sindur (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Pondok Tjina (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Ling-kes Kanwil Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (1974 – 1979)

 

rn

  • Kepala Rumah Sakit Harapan Depok (1967 – 1980)

 

rn

  • Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kab. Bogor (1980 – 1989)

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Hamengku Karya Depok.

 

rn

  • Penanggung jawab Klinik Mekar Sari Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Pancaran Kasih Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Budhi Jaya Depok.

 

rn

  • Penanggung jawab Klinik Anugrah Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Rumah Bersalin Sumber Bahagia Depok.

 

rn

  • Pendiri Yayasan Pendidikan 66 Depok.

 

rn

  • Ketua Umum Legiun Veteran RI Kota DepokrnrnrnTanda Penghargaan :rn1. Surat Tanda Jasa Pahlawan Oleh Presiden Soekarno.rn2. Bintang Gerilya No. 82584/1958.rn3. Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I No : 202314/1958.rn4. Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II No : 202314/1958.rn5. Satyalencana Gerakan Operasi Militer III No : 36004/1959.rn6. Satyalencana Gerakan Operasi Militer IV No : 222508/1959rn7. Penghargaan dari perusahaan Negara Kereta Api dalam peristiwa Kecelakaan Kereta I di Depok, Bulan September 1968.rn8. Penghargaan Gabungan Bridge seluruh Indonesia (GABSI) No : 0900/SEKMA/K-IX/1974.rn9. Penghargaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) No : 090/SEKMA/K-IX/1974.rn10. Penghargaan Bupati Bogor No : III/303/T.U/1974 tanggal 13 Juli 1974.rn11. Penghargaan Bupati Bogor No : 104/A-IV/1979 tanggal 22 Desember 1979.rn12. Penghargaan Walikota Depok Tanggal 17 Agustus 1995.

 

rn

rnCLrnrnSumber: http://www.facebook.com/groups/drjhonwilhelmkarundeng/

Ketika Memutar Pulpen Bukan Sekadar Pengusir Bosan

Memainkan atau memutar-mutar pulpen atau pensil di tangan mungkin sesuatu yang biasa dilakukan di dalam kelas atau di tengah rapat. Namun, tetangga kita yang satu ini menyulap aktivitas iseng ini menjadi sebuah atraksi yang mencengangkan.rnrnDia adalah Gland Satriavianto, warga Jalan Pekapuran, Kelurahan Sukatanni, Tapos, Depok, Jawa Barat yang sudah terbiasa berakrobat dengan pulpen dalam ratusan trik berbeda. Jumat (15/7) malam lalu, pria kelahiran Jakarta, 21 tahun silam ini telah membuat depoklik tercengang melihat pulpen yang menari-nari di jarinya.rnrnGland, yang kini menjadi moderator forum Komunitas Pen Spinning Indonesia, mengaku mulai tertarik dengan aksi pen spinning sejak menonton sebuah video di Youtube. Merasa tertantang, Gland giat mencari tutorial via internet dan berlatih mulai dari trik-trik dasar, seperti thumb around, charge, sonic, dan fingerpass.rnrnDengan menguasai 150 hingga 200 trik, Gland pernah mengikuti kejuaraan internasional Universal Pen Spinning Tournament, yang digelar oleh Amerika dan Kanada pada Februari 2011. Saat itu, ia berhasil lolos hingga ke babak semifinal. “Hingga kini, baru Jepang dan Cina yang pernah menggelar kejuaraan internasional,†jelas Gland. Kejuaraan ini biasanya digelar secara online, dengan mengunggah video atraksi Pen Spinning dan kemudian dinilai oleh tim juri.rnrnUntuk melakukan Pen Spinning dibutuhkan pulpen khusus, kecuali untuk trik-trik dasar. “Kalau pakai pulpen biasa, nggak dapet momentumnya,†jelas Gland. Pulpen tersebut dibuat dengan menggabungkan bagian-bagian tertentu dari beberapa pulpen biasa yang tintanya telah dibuang. Jika dijual, kisaran harga pulpen modifikasi yang dibuat sendiri untuk Pen Spinning berkisar pada harga Rp 100.000 hingga Rp 300.000.rnrnMeskipun terlihat sederhana hanya dengan modal sebuah pulpen, dibutuhkan niat, fokus, dan latihan rutin untuk dapat menguasai trik-trik Pen Spinning. “Banyak yang minta diajarin, terus bosan,†aku Gland. Padahal, untuk menguasai satu trik saja dibutuhkan cukup banyak perjuangan. Selain berlatih, lanjut Gland, sebaiknya mereka yang ingin bisa harus perbanyak sharing dengan komunitas, nonton atau upload video, latihan trik-trik baru.rnrnSebagai moderator forum, Gland mengakui sangat berharap agar Komunitas Pen Spinning dapat lebih dikenal di Indonesia, khususnya di Depok.rnrnTertarik bergabung? Silakan kunjungi halaman Facebook: Indonesia Pen Spinning Board, atau forum:  http://ipsb-online.co.cc.rnrn rnrnDisa TannosrnrnFoto: Disa

Farida Rachmayanti: Keluarga Kecil Saya Adalah Tim Yang Solid

MEMULAI hari dengan ibadah pagi, mendampingi anak dan suami yang ingin berkatifitas, lalu mengunjungi para ketua RW sebelum berangkat menuju kantor adalah gambaran keseharian dari Farida Rachmayanti, anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok. Tetangga kita yang berdomisili di Tanah Baru – Beji ini selalu terlihat aktif, bahkan sepertinya hampir tidak pernah terlihat letih dengan setumpuk aktivitasnya. Tidak hanya dalam hal legeslasi, anggaran kota, dan advokasi masyarakat, ternyata sosok ibu yang satu ini sangat mumpuni dalam mengurus dan mengatur keluarganya. depoklik sempat menyambangi kantornya dan berbincang-bincang santai dengan ibu dari tiga anak ini, Jumat (28/1) pagi lalu.”depoklik (d) : Apa sebenarnya tugas Anda di DPRD?”Farida Rahmayanti (F): Saya menangani dua alat kelengkapan dewan. Pertama,  Komisi B yang menangani ekonomi dan keuangan, selain itu juga di badan anggaran. Kedua,  representatif atau perwakilan. Saya mewakili warga wilayah pemilihan saya, yaitu Beji. Jadi, lebih kepada melanjutkan aspirasi dan advokasi (pendampingan).”d: Sebagai wakil masyarakat Depok, sejauh apa usaha Anda menampung aspirasi?”F : Secara aktif, saya bersilaturahmi ke masyarakat daerah pemilihan saya. Setiap pagi sebelum ke kantor sekitar pukul delapan saya mengunjungi para ketua RW di Beji. Tahun lalu saya baru bisa mengunjungi 27 RW, karena agenda DPRD cukup padat. Di luar program pribadi itu, saya juga menghadiri undangan dari acara warga. Secara pasif, saya menerima aspirasi melaui telepon, telepon saya siap 24 jam.”d : Sebagai seorang ibu, isteri, dan wakil rakyat, bagaimana Anda membagi porsi waktunya?”F : Kami adalah satu tim yang solid, satu sama lain saling menguatkan. Secara simultan kami bersama membangun manajemen waktu yg baik. Alhamdulillah, nilai-nilai relijius menguatkan itu, sehingga baik anak dan suami tidak ada dikotomi benturan waktu. Lagipula suami dan anak-anak sudah tidak kaget, sebelum menjadi anggota dewan saya memang sudah aktif di masyarakat dan organisai-organisasi sejak anak-anak masih kecil, jadi anak-anak sudah terbiasa tuh.”d : Apa anak-anak pernah mengeluh?”F : Sebagai ibu, saya membuat program dan manajemen waktu bagi anak-anak, mulai dari pulang sekolah di sore hari, mandi makan, ke masjid, dan belajar di malam hari. Bahkan saya juga membuat aturan kapan anak-anak boleh nonton televisi, saya pikir semua ada waktunya. Namun, komunikasi saya dan anak-anak paling efektif di malam hari. Saat itulah, saya selalu menyempatkan mendampingi mereka belajar di malam hari. Tapi namanya anak-anak, terkadang juga ada keluhan soal waktu ibunya, tapi bagi saya itu proses. Misalnya, anak-anak kadang kecewa saat saya tidak bisa menemani mereka renang. Kebetulan saya hanya punya satu kendaraan, hahaha.. Disitulah mereka kecewa karena tidak bisa diantar. Kalau sudah begitu, saya minta maaf pada mereka dan memberikan pemahaman. Tapi, saya bersyukur anak-anak saya dapat berdialog dan mau diajak bermitra.”d : Apa Anda meminta ijin kepada anak-anak saat maju dalam pemilihan anggota dewan?”F : Saya ajak mereka berdiskusi. Terutama, kegiatan yang padat sebagai anggota dewan. Mereka memang sempat mengeluh, tapi saya menjelaskan dengan nalar bahwa saya diamanahkan untuk membantu masyarakat. Saya katakan, Insya Allah bila membantu orang maka keluarga kita akan dimudahkan. Alhamdulillah anak-anak bisa mengerti.”d : Apa saat itu Anda siap menjadi seorang ibu dengan diiringi tugas yang padat?”F : Semua orang tua pasti ingin menjadikan anaknya adalah investasi dunia akhirat. Karena semua orang tua ingin anaknya soleh. Soleh itu artinya berdaya, ketika berdaya ia akan bermanfaat untuk banyak orang. Bagi saya inilah cara menunjukkannya, ibu yang aktif di masyarakat akan memberikan aura yang sama ke anak-anaknya. Itu filosofi yang saya dan suami yakini.”d : Dilema antara keluarga dan tugas?”F : Selalu ada perbenturan waktu, namun itu sifatnya teknis. Masalah teknis seperti waktu, bagi saya bisa dikondisikan. Soal waktu, saya dan suami menerapkan pendekatan manajemen, saya tidak menggunakan pendekatan ‘membenturkan’. Saya pun tidak menyepelekan agenda anak-anak, karena mereka memang perlu berkembang. Namun saat saya tidak bisa bersama keluarga, saya tetap minta maaf dan coba memberi pemahaman.”d : Apa me time Anda  untuk menghilangkan jenuh dan mendapatkan energi lagi?”F : Saya suka baca buku. Saya suka baca buku –buku sejarah, karena seru seperti nonton film, itu refreshing buat saya. Selain itu, saya memanjakan diri sendiri dengan hobi memadupadankan baju, menghayal mendisain pakaian, hahaha.. saya bukan disainer kok, tapi hanya hiburan saja. Kadang saya hunting bahan pakaian untuk menghilangkan kejenuhan. Saya juga bisnis kecil-kecilan jual kerudung bersama teman-teman dekat, yaa..itu sebagai hobi aja.”d : Bicara soal Depok, omong-omong sejak kapan Anda berdomisili di kawasan ini?”F :Saya di Depok sejak tahun 2000. Saya sendiri lahir dan besar di Petojo, Jakarta Pusat. Saya baru pindah ke Depok saat hamil anak ketiga. Bagi saya, Depok adalah kota yang nyaman untuk tempat tinggal. Dulu, Depok itu adem, tapi sekarang tidak se-adem dulu.  Padahal, rasa nyaman dan udara sejuk di Depok harusnya senantiasa dijaga.”d : Dimana tempat favorit Anda sekeluarga menghabiskan waktu bersama di kawasan?”F : Paling sering di daerah Margonda. Biasanya kami, wisata kuliner dan pergi ke toko buku.  Kami juga sering bersepeda dan jalan pagi di UI.”d : Lalu jajanan favorit di Margonda?”F :  Kedai atau resto yang menjual makanan pempek, bakso, pokoknya yang pedas-pedas, atau yang manis-manis. Tapi sejujurnya sih, hampir semua makanan saya suka, hehe..”d : Dari kacamata Anda sebagai warga, apa kendala yang ditemui saat tinggal di Depok?”F :Menurut saya, persoalan sampah perlu menjadi perhatian. Masalah sampah di Depok perlu solusi yang sistematis. Selain pemerintah, peran serta masyarakat juga penting, karena berdasarkan data, sampah terbesar berasal dari sampah keluarga 70%. Selain sampah, kendala lain yang mengganggu kenyamanan adalah kemacetan dan angkutan umum yang kurang tertib. Namun inilah dampak pertambahan penduduk. Selama ini kan kota kita itu namanya kota 59, pergi jam 5 pulang jam 9 (tertawa­). Artinya, banyak warga kita yang bekerja di Jakarta, namun masih harus melewati macet di kota sendiri juga. Depok harus nyaman, dan tetap harus ada penyelesaian soal kemacetan”d : Terakhir, apa harapan Anda untuk Depok?”F : Saya harap, potensi asri Depok tetap terjaga. Menurut saya, warga Depok adalah warga yang ramah, jadi saya harap dalam konteks sosial warga Depok bisa mempertahankan nilai-nilai relijinya serta keramahannya.” “T. Farida Rachmayanti SE, Msirn

    rn

  • Tempat / Tanggal lahir : Jakarta, 28 Oktober 1971
  • rn

  • Suami: Syarifudin, Skom, Msi
  • rn

  • Anak: Ismail Abdullah (13), Nisrina Maliha (12), Muhammad Nur Robbani (10)
  • rn

  • Pendidikan: S2 ekonomi islam UI
  • rn

rn “CLrnFoto: dok. keluarga

Wisnu Gardjito: Kelapa Akan Bangkitkan Agraria Nasional

MEMPERINGATI Hari Agraria Nasional yang jatuh 24 September hari ini, depoklik menyorot profil warga kawasan yang selama ini mengabdikan diri untuk  kemajuan agraria nasional, Dr. Ir. Wisnu Gardjito, MBA, MM (50), warga perumahan Permata Duta, Sukmajaya – Depok. Dalam perjalanan di dunia akademisi, Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB yang lulus dengan cum laude ini sempat mengabdi di Departemen Perindustrian dan menjadi Project Manager Badan Pembangunan Industri Dunia (United Nations Industrial Development Organization/UNIDO) untuk Program Pembangunan Indonesia Timur. Kini, bersama peneliti lain, Wisnu memimpin Improvement Institute, sebuah lembaga penelitian dan pemecahan masalah yang berkenaan dengan agro ekonomi dan sumber daya manusia (trouble shooting management company) yang berbasis di Depok.”Dalam bincang-bincang santai di kediamannya hari Kamis (23/9), pengusaha sekaligus aktivis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis ini mengaku sejak tahun 1995 sudah mulai melirik kelapa sebagai komoditi unggulan yang akan membangkitkan agro industri nasional. Wisnu memiliki sedikitnya tujuh alasan untuk menjawab mengapa kelapa? Pertama, Indonesia memiliki luas tanam kelapa 3,7 juta hektar, saingannya hanya Filipina yang memiliki luas tanam kelapa 3,1 juta hektar. “Tetapi, Filipina basis bisnisnya adalah kapitalistik, sementara kita sosialisme, masyarakat-pun memilikinya. Maka Indonesia lebih mudah dikendalikan,†tutur pria kelahiran tahun 1960 silam.”Kedua, bila diolah dengan serius, kelapa memiliki 1600 produk akhir. Ketiga, berdasarkan ILOR (Incremental Labour Output Ratio) indutri kelapa memiliki penyerapan tenaga kerjanya tertinggi di dunia. Mulai dari proses hingga pemasaran dapat menyerap 100 tenaga kerja untuk satu pohon. Keempat, pohonnya sudah ada, tidak perlu menanam lagi. Kelima, sudah ada asosiasi dunianya. Keenam, teknologinya mudah, dan bangsa kita sudah punya, dan yang terakhir, Ketujuh, investasinya murah. “Saya saja memulainya dari modal 25 ribu rupiah, dan nilai tambah mencapai 8000%,†aku Wisnu sambil tersenyum.”Ditangan Improvement Intitute yang ia pimpin, sudah ada 65 produk kelapa yang melaju di pasar domestik dan internasional. Mulai dari kuliner, kosmetik, sampai obat. Dalam prosesnya, Wisnu Gardjito, bersama sang isteri, Vipie Gardjito, mengembangkan rumah produksi (cluster) di beberapa daerah di Indonesia. Di cluster tersebut, masyarakat diajarkan pengolahan kelapa menjadi jenis-jenis produk siap pakai yang siap dipasarkan. “Jadi, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Kami membantu memasarkannya di jaringan domestik bahkan internasional melalui koperasi bersama. Kami membantu investasi alat-alat, termasuk pelatihan-pelatihan, dan masyarakat menginvestasikan pohonnya, produknya kita masukan ke koperasi bersama,†ujar pria yang selalu tampil semangat ini.”Mengapa koperasi untuk mengolah kelapa? “Harus koperasi, karena kita tidak menganut sistem kapitalistik untuk membangun negeri ini,†jawabnya tegas. Sampai saat ini, menurut Wisnu permintaan internasional cukup tinggi untuk produk-produk ini.”Yang menjadi tantangan Wisnu dari saat memulainya sampai sekarang adalah birokrasi. “Birokrasi menjadi tantangan, aparat yang saya temui masih banyak yang sinis dan masih meremehkan, lebih parahnya ada yang hanya melihatnya sebatas proyek dalam tanda kutip, bukan program untuk negeri ini. Tapi tidak semua, ada juga yang mengerti dan bisa bekerjasama,†keluh Wisnu terhadap mental aparat pemerintahan yang kerap ia temui.”Kedepan, target Ayah dari Angela Nurul Sabila (7) dan Guardin Zidan Choiri (6) ini adalah Indonesia harus menjadi negara agrobisnis terkuat, dan saat ini beliau terus melangkah ke arah itu dengan kekuatan bersama dari kekuatan akar rumput, yaitu petani. “Plow deep while others sleep. And you will have corn to eat n to keep,†tandas Wisnu.”Wisnu Gardjito“Pendidikan :rn1. Insinyur Agronomi IPB tahun 1983rn2. MBA Finance dari Colorado University (AS) tahun 1993rn3. MBA International Management dari International University of Japan tahun 1995” Coki Lubis

Cherry Nadieva: Nyanyian Cinta Untuk Anak Indonesia

Rambutnya hitam legam panjang terurai, bersenandung dengan lagak ceria khas anak-anak. Sosok Cherry Nadieva Kafia mengingatkan akan penampilan Tasya -penyanyi cilik- beberapa tahun silam. Cherry tak hanya ceria diatas panggung, saat bertemu depoklik di rumah keluarganya, Tugu Indah, Kelapa Dua Depok juga tak sungkan bercerita sambil diselipi tawa dan senyum, Sabtu (17/7).

Wajah gadis berusia tujuh tahun ini mungkin belum akrab, namun Cherry sudah mengantongi berbagai prestasi dan pengalaman sebagai penyanyi cilik pendatang baru. Sebuah album lagu anak-anak bertajuk “Bermain” sudah diselesaikannya dan kini tengah dalam promosi album. Delapan buah lagu ciptaan Ade Ibad, Prihantoro Sudewo, Agus Tari dan Meby Pangaribuan. yang bercerita tentang dunia anak-anak itu sendiri, diselesaikan Cherry dalam kurun waktu satu tahun. Di bawah manajemen Brigade Entertainment, Cherry sering mengisi berbagai panggung hiburan, seperti mal,  Taman mini Indonesia Indah, Taman Rekreasi Ancol dan beberapa acara lomba.  Bahkan dalam liburan bulan Juni-Juli 2010 ini , Cherry mengisi panggung di Festival Jambu Biji di Taman Buah Mekarsari beberapa kali.

Di tengah kesibukannya bernyanyi, Cherry sebagai siswa kelas dua SDIT Nurul Fikri tidak terganggu kegiatan belajarnya. Karena aku selalu mengisi acara saat libur, ujar pasangan dari Ardi Nugraha dan Frivanie Putri ini. Cherry yang mengawali kiprahnya dalam dunia tarik suara melalui Kelompok Super Bintang pimpinan Ully Sigar Rusady di usia empat tahun ini justru hampir tidak pernah merasa bosan dengan dunia ini.  Nyanyi adalah hobiku. Lagian, kalau lagi bosan nyanyi aku biasanya berenang atau pergi main, ucapnya polos.

Sulung dari dua bersaudara ini juga tak berniat untuk mengikuti ajang pencarian bakat yang sedang jadi tren belakangan ini. Aku kan udah punya album, jadi kata mama dan papa,aku harus konsentrasi ke album aku aja,  jawab Cherry sambil tersenyum. Kini, Cherry tak hanya menyanyi, gadis yang pernah bernyanyi di acara United Nation Climate Change Conference Bali tahun 2007 lalu ini juga menjadi model iklan untuk beberapa produk. Walaupun hobi bernyanyi dan memiliki ‘jam terbang’ yang cukup tinggi, Cherry ternyata menyimpan cita-cita lain. Apakah itu? Jadi dokter gigi atau dokter anak, jawabnya cepat. Tak lama kemudian, Cherry langsung menambahkan kalau sekarang ini, ia ingin belajar gitar klasik. Kepada depoklik,

Cherry menunjukkan dengan bangga sebuah gitar klasik yang ia beli sendiri. Lagu Doa untuk Mama dan Papa, Terima Kasih Bapak dan Ibu Guru,  Kimaru si Kuda Poni sempat Cherry nyanyikan khusus untuk depoklik sebelum pertemuan di sore itu usai.  Itu lagu-lagu yang sering aku nyanyiin, ujarnya setelah selesai bernyanyi. Menurut Ade Ibad, pengajar vokal, pencipta lagu, dan penata musik Cherry,  lagu-lagu tersebut diharapkan bisa menambah perbendaharaan anak-anak tentang lagu anak-anak itu sendiri yang saat ini lebih banyak mendengarkan lagu band-band baru. Ya, semoga saja kehadiran Cherry di pentas musik anak Indonesia dapat menghapus kerinduan masyarakat Indonesia akan dunia anak-anak itu sendiri yang seharusnya penuh canda dan tawa.

  • Nama lengkap  :  Cherry Nadieva Kafia
  • Tempat tanggal lahir : 22 April 2003
  • Pendidikan : SDIT Nurul Fikri

 

 

AN

Santoso Djalu Wahono: Membangun Agrowisata Untuk Depok

“Dari konsultan dan kontraktor sampai ke beternak bebek, itu lah perjalanan Ir. Santoso Djalu Wahono, warga Kukusan, Beji. Dalam perbincangannya dengan depoklik, Jumat (11/6) pagi lalu, ia bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya yang dapat menginspirasi siapapun yang mendengarkannya. Pak Santos, sapaan akrabnya, kini menjabat sebagai Ketua Asosiasi Industri Kecil Menengah Agrobisnis (AIKMA) Jawa Barat.”Pria yang memiliki latarbelakang arsitek ini memulai usaha sejak tahun 1983 dengan mendirikan kantor Konsultan dan Kontraktor.  Akibat terserang penyakit jantung di tahun 1998, ia memensiunkan usahanya. “Dokter menyarankan saya untuk istirahat dan melepas pekerjaan yang membebankan pikiran untuk istirahat,†ungkapnya. Penyakit jantung yang dideritanya ini memaksa Pak Santos untuk mengontrol pola hidup dan pola makan. Ia disarankan dokter untuk sering mengkonsumsi ikan air tawar. “Dari pada saya bulak-balik ke pasar, maka saya membangun kolam ikan air tawar untuk diternak dan dikonsumsi,†cerita Pak Santos. Namun usahanya untuk berternak ikan air tawar itu gagal karena banyak ikan yang mati. Lalu ia mencoba beternak bebek untuk melanjutkan hobi beternaknya. Peternakan kali ini berhasil, dan ia membuka kedai makan yang khusus menyajikan menu bebek ditahun 2000. Bebek yang dihasilkan peternakan Pak Santos merupakan persilangan itik dengan entok. Bebeknya sehat, dan besar tanpa obat. “Ini sudah diuji oleh dinas pertanian, dan saya sempat mendapat penghargaan,†ujar Pak Santos.”Bicara soal usaha, menurutnya, manajemen semilir telah membangkitkan usahanya. Maka, ia pun dengan semangat menjelaskan manajemen yang merupakan singkatan dari sistem manajemen  hulu sampai hilir itu kepada kami. “Manajemen ini perlu dilakukan semua petani Indonesia, karena mandiri, diluar sistem,†jelas pemilik kedai TikTok Van Depok ini. Pak Santos menerapkannya dengan mulai membeli telur, lalu di vertil. Yang menetas diternak, dan yang tidak menetas dijual. Hasil ternaknya menjadi distribusi kedai bebeknya. “Dengan begini, kami tidak terpengaruh dengan fluktuatif harga pasar,†ungkapnya. Ia pun juga melakukan hal serupa pada ternak sapinya. Memanfaatkan susunya untuk menjadi susu murni yang dikonsumsi, eskrim, dan yoghurt, serta mendistribusikan dagingnya di pasar. â€Jadi, modal lebih kecil, dan keuntungan besar dengan semilir,†katanya.”Saat ini Pak Santos sedang membangun lokasi Agrowisata di Sawangan. “Agro adalah hasil bumi, baik pertanian maupun peternakan, dan ini bisa menjadi tempat wisata yang mendidik,†katanya. Depok perlu tempat wisata, lanjutnya, dan kesadaran ini yang memicu saya untuk membangun agrowisata. Dilokasi agrowisata ini, ia akan membuat pusat bebek. “Saya akan menghadirkan semua jenis bebek yang ada di dunia, †tegasnya dengan semangat. Baginya, pusat bebek ini akan sangat menyenangkan dan bermanfaat bagi pengetahuan anak-anak.”Waah.. bila agrowisata ini hadir, semakin menyenangkan saja kawasan kita. Baiklah, sukses untuk Pak Santos.”Coki Lubis“Foto: CL

Ira Duaty: “Depok Juga Punya Peluang Di Dunia Mode”

Siapa yang tak kenal Ira Duaty? Model papan atas angkatan 80an ini memang tak cepat dilupakan orang. Kini, ibu dari Nadine Sekar Kinari (14) dan Niobe Shrijani Kinara (4) ini telah jarang tampil di depan umum sebagai seorang model. Namun, wanita yang memulai karir dalam ajang Wajah Femina ini tak serta merta meninggalkan dunia modelling yang telah membesarkan namanya. Bersama depoklik.com, Senin (3/5) lalu, istri dari Iwan Hendarto ini membagi ceritanya seputar dunia model, keluarga, dan juga Depok sebagai pilihan tempat tinggalnya.”Sekarang sibuk apa?“Sekarang ini saya lebih sibuk di belakang layar ketimbang di depan panggung mode. Selain itu, saya juga masih mengajar modelling di F&G (agensi model) dan kadang diundang menjadi juri di berbagai lomba modelling.Tapi tetap masih ‘jalan’ di catwalk kan?“Iya, tapi tidak sesering dulu. Ya, hanya untuk baju kebaya atau desain baju wanita seusia saya. Menyesuaikan umur lah.”Tapi, kalau boleh sedikit mengenang kembali, apa sih yang membuat seorang Ira Duati jatuh cinta pada dunia mode?“Dari Wajah Femina di pertengahan tahun 80an itu, pintu karir saya sebagai seorang model, mulai terbuka. Saya jadi bertemu banyak orang dan pergi ke banyak tempat. Dari sisi kepribadian, dunia mode memicu saya untuk terus berkembang.”Kalau pandangan Anda tentang dunia mode sekarang ini?“Ada banyak perubahan. Sekarang ini banyak sekali orang yang terjun ke dunia mode dengan instan. Di panggung mode-nya pun makin banyak yang membantu para model. Kalau dulu, kami para model yang sedang memperagakan baju, tidak ada orang yang memberi aba-aba kapan harus keluar masuk panggung. Jadi kami yang menentukan sendiri dengan memperhatikan setiap urutan keluar panggung dan irama musik. Itu baru salah satu contohnya saja. Nah, itu kan menuntut dedikasi dan integritas kami sebagai model.  Kami dituntut lebih mandiri. Kalau sekarang, semua yang dibutuhkan oleh para model tersedia. Saya lihat apresiasi  para model terhadap karya desainer juga tidak seperti dulu. Secara fisik, memang model sekarang jauh lebih baik dari jaman dulu. Sekarang mudah sekali mencari model tinggi dan cantik, tidak seperti dulu.”(Di sela-sela perbincangan kami, putri bungsu Ira, Niyobe terlihat kerap kali menghampiri Ira dan bermanja-manja)”Kelihatannya, Anda dekat sekali dengan Niobe, Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga Anda?“Saya selalu mencuri-curi waktu untuk anak-anak bila saya sedang sibuk sekali. Tapi, kalau saya di rumah, waktu saya untuk anak-anak. Misalnya, saya selalu menyempatkan diri membuat sarapan bagi keluarga. Setelah anak-anak sekolah, baru saya bisa fokus untuk bekerja. Saya rasa saya masih sangat bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.”Me time Anda sendiri?“Kadang saya lari pagi keliling kompleks rumah. Atau ‘kabur’ ke mal. Tidak selalu belanja sih, window shopping saja sudah cukup buat saya.”Bicara soal kompleks rumah, kenapa Anda memilih tinggal di Perumahan Tugu Indah, Kelapa Dua?“Saya merasa daerah ini tenang dan hijau. Tidak jauh dari Jakarta dan Bogor, karena biasanya saya dan keluarga ke Bogor untuk liburan.”Tempat favorit Anda di Depok?“Margo City dan UI. Nah, kalau di UI, kadang-kadang saya sering lari pagi di sana. Karena masih hijau sekali.”Akhir minggu sering berjalan-jalan ke luar rumah?“Jarang, kalau sudah di rumah malas mau keluar. Kadang-kadang saya hanya mengantarkan anak saya jalan-jalan ke Bogor, mencari tempat renang yang seru.”Kalau bisa memberi saran kepada Pemda Depok, kira-kira apa saran Anda?“Di Depok ini masalahnya cuma kesadaran. Jadi, percuma ya dikasih saran ke pemerintah kalau masyarakat Depok sendiri kurang peduli untuk menciptakan lingkungan yang baik. Masalah lalu lintas saja banyak sekali angkot yang tidak tertib. Suka berhenti sembarangan dan menaikkan turunkan penumpang tidak pada tempatnya.”Lalu dari kaca mata seorang model senior seperti Anda, kira-kira ada peluang tidak bagi Depok untuk melahirkan calon-calon model?“Oh ada. Ada lho beberapa peserta ajang pemilihan model yang berasal dari Depok. Masyarakat Depok punya peluang, hanya perlu keberanian saja. Kalau wilayah Depok sering membuat acara pemilihan model, ‘bibit-bibit’ calon model baru bermunculan. (Coki Lubis)“Foto: Ira Duaty bersama putri bungsunya, Niobe Shrijani Kinara. (AN)