fbpx

Bagaimana Mengelola Motivasi dan Demotivasi Karyawan

Depoklik- Proses rekrutmen sebuah perusahaan menjadi tolak ukur perkembangan perusahaan tersebut dikemudian hari. Pentingnya divisi personalia yang kompeten menjadi penentu dan pembuat raport dari hasil kinerja karyawan nantinya.

Calon karyawan mungkin sering berpikir, kenapa ketika wawancara suka ada pertanyaan yang tidak “nyambung” dengan pekerjaan yang nantinya akan dikerjakan atau posisi yang sedang dilamar oleh calon karyawan tersebut?

Salah satu yang menjadi penting dalam proses wawancara adalah minat dan kesungguhan calon pelamar untuk pekerjaaan yang dilamar tersebut sehingga tidak terjadi demotivasi kerja atau kehilangan motivasi pada saat bekerja nanti.

Bagi perusahaan, biaya yang akan dikeluarkan nantinya khusus permasalahan demotivasi karyawan tidak sedikit. Bayangkan berapa anggaran perusahaan bila setiap bulan perusahaan harus mengundang motivator atau mengikutkan karyawan dalam training motivasi guna meningkatkan kinerja karyawan?
Nah, perbandingan biaya ini dengan nilai jual perusahaan yang semakin tidak seimbang tentunya akan membuat kegalauan tersendiri pada level atas.
Sering terlambat, malas, kurang inisiatif serta loyalitas karyawan yang semakin berkurang, salah satu tolak ukur bahwa karyawan kehilangan motivasi kerja.
University of California menemukan bahwa karyawan yang termotivasi, 31 persen lebih produktif, memiliki 37 persen penjualan lebih tinggi dan tiga kali lebih kreatif daripada karyawan yang kehilangan motivasi. Mereka juga 87 persen lebih kecil kemungkinannya untuk berhenti.
Dalam penelitian lain disebutkan bahwa 70 persen motivasi karyawan dipengaruhi oleh manajernya. Tidak heran bila para karyawan bekerja dengan sistem auto pilot, bekerja tanpa mempedulikan manajernya.
Apa yang perlu dilakukan oleh seorang Manager?
Sebelum manajer menciptakan karyawan yang termotivasi, ada beberapa hal penting yang harus dihentikan di lingkungan kerja.
1. Membuat banyak peraturan bodoh
Perusahaan harus memiliki aturan, tetapi peraturan yang tidak memberatkan karyawan tetapi tidak merugikan perusahaan. misalnya, absen yang terlalu ketat, meminta laporan tepat waktu dengan cara yang kurang baik, komunikasi satu arah dan lain sebagainya. Bagi karyawan, manager yang baik adalah sosok orang tua yang mengayomi.
2. Membiarkan pencapaian tidak dikenali
Semua orang suka pujian, tidak lebih dari mereka yang bekerja keras dan memberikan semuanya. Menghargai pencapaian individu menunjukkan bahwa Anda memperhatikan. Manajer perlu berkomunikasi dengan orang-orang mereka untuk mencari tahu apa yang membuat mereka merasa baik, kemudian memberi mereka imbalan atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik.
3. Mempekerjakan dan mempromosikan orang yang salah
Karyawan yang baik dan pekerja keras ingin bekerja dengan profesional. Ketika para manajer tidak bekerja keras untuk mempekerjakan orang-orang yang baik, itu adalah bentuk demotivasi besar bagi mereka yang bekerja keras bersama manajernya. Mempromosikan orang yang salah bahkan lebih buruk, karena ini merupakan sebuah penghinaan, jadi  tidak heran bila ada karyawan yang baik mengundurkan diri.
4. Memperlakukan semua orang secara setara
Bila strategi ini bisa diaplikasikan dengan anak-anak sekolah, lain halnya di lingkungan kerja. tempat kerja harus berfungsi secara berbeda. Memperlakukan semua orang secara sama, menunjukan ketidak pedulian seberapa tinggi capaian dan prestasi karyawan.
5. Toleransi atas kinerja yang buruk
Ketika mendengarkan group band yang melantunkan irama music jazz, pendengar akan terfokus dengan beberapa nada sumbang yg dimainkan oleh gitaris, tidak peduli seberapa hebatnya anggota band yang lain, semua pemain jadi terdengar buruk. Hal yang sama berlaku untuk perusahaan. Saat satu orang melakukan kesalahan janganlah menyeret semua orang ke dalam satu persoalan.
6. Tidak menepati komitment
Atasan yang baik, akan selalu menepati komitmennya. Ketika atasan menjunjung tinggi sebuah komitmen, Anda akan  tumbuh di mata karyawan karena Anda membuktikan diri Anda dapat dipercaya dan terhormat
7. Menjadi apatis
Lebih dari separuh orang yang meninggalkan pekerjaan mereka, dilakukan atas dasar hubungan mereka dengan atasan. Perusahaan yang cerdas akan memastikan bahwa manajer mereka tahu bagaimana mensinergikan antara  profesional dengan manusiawi. Misalnya, ikut merayakan kesuksesan karyawan, berempati dengan mereka yang mengalami kesulitan.

Recommended For You

About the Author: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *