Bau Amis Proyek Renovasi Stadion Mahakam

DEPOKLIK. Ajang Liga Kopi atau yang juga dikenal dengan nama Indonesia Soccer Championship (ISC) dipastikan akan berakhir pekan depan. Tepat pada 18 Desember 2016 nanti, baik itu kompetisi ISC A, ISC B, Liga Nusantara dan Piala Soeratin akan selesai dan akan melahirkan juara baru.

Bahkan, khusus untuk Piala Soeratin—ajang yang mempertemukan tim-tim kategori usia 17 tahun—sudah melaksanakan pertandingan final pada Sabtu (10/12/2016) malam dengan melahirkan Persab Brebes sebagai pemenangnya.

Lantas bagaimana dengan tim asal Kota Depok, Persikad Depok?

Persikad sendiri sudah mengakhiri musim di putaran ISC B 2016 lebih dini, tepatnya sejak bulan Agustus 2016 lalu.

Di kompetisi yang setara dengan Divisi Utama ini, Suheri dkk hanya mampu finish di posisi keempat klasemen akhir di grup B yang pada gilirannya laju langkah Laskar Margonda ini harus terhenti sampai putaran grup saja.

Walau liga telah berakhir, Wakil Ketua Umum PSSI Djoko Driyono—yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT GTS—mengabarkan ke khalayak banyak bahwa kompetisi resmi akan kembali bergulir pada Maret 2017 mendatang.

Dengan demikian, banyak kesebelasan termasuk juga Persikad harus mempersiapkan tim untuk musim depan. Tentunya, persiapan harus matang.

Pasalnya, tidak seperti ISC yang tidak mengenal degradasi, kompetisi musim depan sistem promosi-degradasi akan kembali diaktifkan.

Seperti yang penulis sebutkan di atas yakni soal persiapan tim, tentunya tidak hanya mempersiapkan komposisi pemain, tetapi juga soal infrastruktur—juga dana.

Bila dalam persiapan tim, mungkin tidak ada kendala yang merintang karena pelatih Persikad, Meiyadi Rakasiwi sudah jauh-jauh hari menyusun blue print susunan pemain dan skema permainan dengan melakukan serangkaian uji coba dan mengikuti turnamen-turnamen kecil, termasuk diantaranya mengikuti ajang Piala Walikota Tangerang Selatan 2016 yang saat ini tengah diikuti.

Tetapi yang menjadi pertanyaan kita bersama, khususnya para pecinta sepakbola di Kota Depok adalah: “Apakah infrastruktur yang merupakan sarat mutlak untuk menjalankan roda kompetisi sudah tersedia di Depok?”

Stadion Depok Kurang Layak

Kota dengan luas kurang lebih 200,3 km² ini sejatinya memiliki tiga stadion untuk menunjang kegiatan sepakbola, di antaranya adalah Stadion Merpati, Stadion Sukatani, dan Stadion Mahakam.

Namun, seperti yang kita ketahui bersama kondisi ketiga stadion tersebut jauh dari layak untuk menyelenggarakan kompetisi secara ideal, bahkan sekedar digunakan sebagai tempat latihan.

Penulis paling menyoroti kesiapan Stadion Mahakam untuk dipakai oleh Persikad musim depan. Hal ini cukup beralasan, pasalnya sejak groundbreaking pembangunannya pada akhir tahun 2015 lalu, stadion yang beralamat di Jalan Rasamala, Sukmajaya ini belum juga (di)selesai(kan).

Stadion Mahakam Depok. (Foto: Handy Fernandy)

Padahal, sebagaimana yang kita tahu, proyek renovasi stadion ini masuk dalam proyek Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat 2016.

Namun hingga event ini berakhir beberapa waktu lalu, kondisi Stadion Mahakam masih amburadul. Singkatnya, proyek ini terhenti begitu saja.

Pada awal bulan Desember, Persikad menggunakan Stadion Mahakam untuk berujicoba melawan Jagorawi FC. Penulis pun ikut menyaksikan kedua tim tersebut berlaga.

Sembari menonton, penulis juga memperhatikan sekitar. Hasilnya adalah Stadion Mahakam (masih) rusak. Keramik di tribun banyak yang copot. Toilet, baik untuk pemain atau penonton tidak bisa digunakan—air tidak mengalir. Permukaan tanah dan rumput pun tidak rata. Yang paling parah tentu saja adalah pembangunan tribun baru yang kacau alias baru setengah jadi.

Misteri Dana Rp 9,4 Miliar

Konon katanya, untuk perbaikan Stadion Mahakam pada tahun 2015 lalu ini mencapai angka yang cukup fantastis, yakni senilai Rp 9,4 Miliar.

Dengan dana yang sedemikan besar itu, tentunya diharapkan sebuah bangunan stadion yang kokoh dan mewah. Tetapi, seperti yang kita ketahui bersama, proyek ini justru jauh dari harapan karena stadion sudah rusak jauh sebelum dioperasikan.

Hal ini pun membuat kita bertanya-tanya. Siapakah tokoh dibalik kekusutan ini semua? Siapakah yang memenangkan tender proyek renovasi ini?

Jawabannya tentu mudah, sebab bau amis proyek renovasi Stadion Mahakam sudah tercium setiap hidung orang yang hidup. Misalnya, melalui mesin pencari raksasa di internet bernama Google saja kita dapat mengetahui bahwa pemenang tender merupakan PT Joglo Multi Ayu.

Nahasnya, melalui media yang sama, kita juga mengetahui jejak hitam yang dibuat oleh perusahaan pemborong tersebut.

Mengutip dari pojoksatu, untuk di Kota Depok sendiri, PT Joglo Multi Ayu pernah terbukti lalai dalam proyek penataan Kali Laya di Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok.

Dengan nilai angka perbaikan yang mencapai Rp4,3 miliar,mereka tak mampu membuat turap penahan banjir. Pembagunan justru dibuat menyempit. Lebar kali yang awalnya 4 meter,setelah dibangun turap berkurang sekitar 2 meter.

Singkatnya, proyek tersebut dianggap warga sekitar sebagai hal yang mubazir dan hanya menghabiskan anggaran saja.

Kejadian serupa juga terjadi dibeberapa daerah. Misalnya, pengerjaan proyek renovasi Gedung Kesenian di Jalan Raya Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.

Selain tidak adanya papan proyek, dana sebesar Rp 2,6 milyar hanya digunakan untuk pengecetan dan pengerjaan pavingblok sepanjang 213 meter saja. Hal ini pun ditengarai terindikasi sarat penyimpangan perusahaan yang menurut informasi Google beralamat di Jalan Tanah Menrdeka No.36 Kelurahan Rambutan Kecamatan Ciracas Jakarta Timur ini sudah terkenal bermasalah di luar pulau Jawa.

Seperti misalnya di Samarinda, PT Joglo Multi Ayu juga terseret kasus mangkrak pembangunan Jembatan Gunung Lingai dengan dana yang lagi-lagi cukup fantastis, yakni Rp Rp 9,1 miliar.

Bahkan, yang membuat penulis terkaget-kaget adalah Komisaris PT Joglo Multi Ayu Malkiel Sijabat terseret kasus dugaan korupsi pembangunan rumah murah bagi Masyrakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Kabupaten Kupang Tahun 2102 senilai Rp 3, 5 milyar.

Mudah-mudahan Segera Pada Mendusin

Agustus 2016 silam, penulis pernah menemui Walikota Depok, Mohammad Idris. Beliau berjanji kepada penulis akan melanjutkan pembangunan Stadion Mahakam pada awal tahun 2017.

Ada baiknya, proses tersebut harus dikawal oleh semua pihak, pasalnya penulis yang merupakan warga Depok tidak ingin kecolongan lagi atas aksi maling yang dilakukan oleh PT Joglo Multi Ayu yang merugikan semua pihak, khususnya bagi Persikad yang bisa saja kehilangan hak bermain di Divisi Utama musim depan karena faktor stadion.

Bisa-bisa tim kebanggan kita semua kembali bermain di luar Kota Depok. Padahal, Persikad kini tengah bergairah, jajaran manajemen, pelatih, pemain, dan suporter tengah bersiap untuk menghadapi musim 2017 mendatang.

Bila semangat ini dipadamkan, tentunya akan merusak suasana, keriangan, dan semangat yang kini tengah dipupuk untuk dibangun bersama.

Ironisnya, hingga tulisan ini ditulis, Selasa (13/12/2016), sejauh yang penulis ketahui, belum ada keseriusan Pemerintah Kota Depok tergerak untuk melanjutkan pembangunan Stadion Mahakam.

Inspeksi pun tidak. Hening. Sepi. Mengutip MH Thamrin, “mudah-mudahan segera pada mendusin”.

(Ditulis oleh Handy Fernandy, penggemar Persikad Depok/@handyfernandy)

Leave a Reply