fbpx

Belajar Entrepreneurship Sejak Usia Dini

Menjadi entrepreneur tidaklah bisa secara instan dalam sekejap. Motivasi yang kuat adalah modal utama untuk menjadi seorang entrepreneur di samping keberanian dan ketekunan yang harus dimiliki oleh calon entrepreneur. Berani mengambil risiko rugi, tekun, dan ulet dalam menjalankan usahanya, sehingga menjadi entrepreneur yang tangguh dan tidak pantang menyerah. Hal ini akan baik jika dibina sejak dini (anak).

Lingkungan adalah faktor utama yang mempengaruhi perkembangan anak. Seperti lingkungan keluarga maupun sekolah. Banyak anak yang menjadi entrepreneur karena berasal dari keluarga entrepreneur. Hal ini dikarenakan si anak sudah terbiasa dengan kesehariannya melihat bagaimana kegiatan orangtuanya dalam menjalankan usahanya. Pola pikir anak menjadi tertanam dengan sangat kuat ketika dewasa kelak. Meskipun tidak jarang juga anak yang berasal dari latar belakang keluarga entrepreneur, namun ketika dewasa ia tidak menjadi entrepreneur.

Selain orangtua, guru memegang peranan yang sangat penting dalam mendidik atau menanamkan ke dalam pola pikir anak untuk menjadi seorang entrepreneur. Hal ini dikarenakan sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah dan kekuatan dari seorang guru. Guru hendaknya membina dan menumbuh kembangkan jiwa entrepreneurship ke anak. Guru harus memberikan fasilitas dan kreatif dalam membina anak.

Guru dalam mengajar harus bisa mengaitkan apa yang diajarkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan  entrepreneurship. Entrepreneurship sangat dibutuhkan anak, karena jika ini diberikan oleh guru secara berlanjut, lambat laun akan tertanam di pola pikir anak tentang entrepreneurship. Kelak ketika dewasa, anak akan terbiasa dengan entrepreneurship dan yang terpenting lagi anak tidak akan takut dengan risiko akan rugi.

Sekolah sebagai tempat para guru meng-creat ide entrepreneurship kepada anak harus mendukung melalui program-programnya. Program-program tersebut bisa melalui kurikulum pendidikannya ataupun kegiatan kesiswaan yang mengarah kepada kewirausahaan. Dukungan sekolah ini kunci dari keberhasilan guru karena bagaimana mungkin guru menanamkan jiwa entrepreneurship kepada anak jika sekolah tempatnya mengajar tidak mempunyai kurikulum ataupun kegiatan kesiswaan yang berkaitan dengan entrepreneurship.

Masuknya nilai-nilai entrepreneurship pada kurikulum sekolah mewajibkan guru untuk selalu mengaitkan pelajaran yang diajarkan, terlepas bidang studi apa pun yang diajarkan untuk selalu dikaitkan dengan entrepreneurship. Hal ini yang akan membuat anak mempunyai banyak pengetahuan entrepreneurship. Kegiatan sekolah yang berkaitan dengan entrepreneurship merupakan penyeimbang bagi anak untuk menerapkan apa yang ia peroleh dari pelajaran yang diajarkan oleh guru tersebut.

Misalnya saat pelajaran matematika guru bisa mengajarkan pelajaran uang sehingga anak mengetahui tentang nilai uang serta contoh-contoh penggunaannya. Dari pelajaran tadi sekolah membuat kegiatan yang membuat anak-anak kreatif dalam menerapkan ide-ide polosnya. Contohnya anak diminta untuk membuat sesuatu, kemudian diminta untuk menghitung berapa modal yang dibutuhkan. Lalu jika sudah jadi, anak diminta untuk menjual hasil karyanya tersebut.

Frd

Leave a Comment