fbpx

Dampak Isu Beras Plastik, Pedagang Beras di Depok Teriak Rugi

Ilustrasi-Akibat beredarnya isu beras plastik, pedagang beras di Depok merugi (istimewa).
Ilustrasi-Akibat beredarnya isu beras plastik, pedagang beras di Depok merugi (istimewa).

Depoklik.com – Maraknya peredaran beras sintetis atau beras plastik yang melanda Kota Depok membuat pedagang beras berteriak rugi. Kerugian itu karena dampak pembelian beras kian merosot drastis setiap harinya oleh konsumen. Akibatnya omzet pendapatan para pedagang itu hilang mencapai Rp 2,5 juta per hari.

Agus Wijaya (53), pedagang beras Pasar Depok Jaya, mengatakan, sejak isu peredaran beras plastik di tengah masyarakat membuat penjualan beras terus merosot. Bahkan hingga pekan ketiga setelah isu itu ditepis kepolisian, kepercayaan masyarakat akan pembelian beras pun belum melonjak.

“Semua pedagang beras teriak rugi, karena konsumen jadi banyak tanya mana yang aman. Sekarang stok masih menumpuk di gudang dan toko. Kalau tidak terjual bisa rusak dan berkutu,” kata Agus di lapaknya, Rabu, 3 Juni 2015.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, sebelum beredarnya beras plastik, pedagang beras di pasar ini dapat menjual 20 karung beras setiap hari. Keuntungan yang didapat mencapai jutaan rupiah. Akan tetapi, setelah isu beras plastik itu marak diberitakan, penjualan yang mampu dia lakukan bersama pedagang beras tak lebih dari 13 sampai 15 karung.

“Harusnya dapat Rp 2,5 juta sekarang untuk dapat Rp 1 juta juga susah. Konsumen beli hanya literan saja bukan karungan lagi. Mereka tidak nyaman dan masih belum percaya kalau tidak ada beras sintetis,” jelasnya.

Tak sampai di situ, Agus pun mengaku, sulit memberikan penjelasan ke konsumen mengenai ciri-ciri beras plastik. Sebab, para pedagang pun tak mendapatkan sosialisasi dinas terkait dan kepolisian terkait bentuk fisik beras plastik itu. Apalagi, saat konsumen bertanya para pedagang beras pun sulit memberikan penjelasan rinci akan hal tersebut.

“Mana bisa kami jelaskan lebih detail, karena informasi dari pemkot juga tidak ada. Para pedagang termasuk saya berharap ini bisa segera ditindaklanjuti. Apalagi sekarang mau masuk puasa, beras harus terjual kalau tidak ya pasti kami rugi,” tuturnya.

Hal senada juga diucapkan, Ranti Sudibyo (45), distributor beras Pasar Kemirimuka, Beji. Kata dia, sudah hampir sebulan belakangan puluhan ton beras lokal yang ada di gudangnya itu belum berkurang. Itu karena pedagang beras enggan menambah stok beras akibat isu peredaran beras plastik. Bahkan, pengurangan harga yang dia berikan pun tak membuat pedagang berani melakukan pembelian beras.

“Cuma bisa menunggu saja kapan berasnya terjual. Dipaksain diberi diskon juga tidak terjual habis. Sebenarnya tinggal menunggu dinas saja memberikan sosialisasi ke masyarakat jika Depok aman dari beras sintetis. Kondisi akan kembali seperti semula kok. Kalau rugi sudah pasti, tetapi tidak bisa bergerak,” terang Ranti.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Yeti Wulandari mengatakan, pihaknya akan mengambil sikap terkait teriakan pedagang beras di Depok yang merugi akan peredaran beras plastik yang meresahkan masyarakat. Jajarannya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Dinas Kesehatan (Dinkes). Koordinasi dengan kedua instansi itu untuk memberikan sosialisasi terkait isu peredaran beras plastik yang menghebohkan tersebut.

“Kami akan segera panggil kedua dinas itu untuk membicarakan penanganan beras sintetis ini. Kami juga akan meminta data beras yang masuk ke Depok. Langkah ini untuk menghindari kerugian para pedagang beras,” kata Yeti.

Sumber: indopos.co.id

Leave a Comment