fbpx

Evaluasi Kebersihan dan Lingkungan, Duo Srikandi Depok Pantau Ciliwung Bareng Komunitas

DEPOKLIK. Ciliwung ternyata masih menyimpan “harta karun” berupa keindahan alam yang lestari. Hal ini dibuktikan saat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Etty Suryahati dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kania Parwanti menyisir sungai itu bersama dengan beberapa elemen komunitas lingkungan di Depok.

Mengawali penelusuran dari Pos Pantau Saung Bintang di kawasan Cipayung, Depok, kami disuguhkan bentangan pohon bambu yang masih tertanam lebat di kanan dan kiri sempadan sungai.

Bentangan alam yang indah saat pengarungan, Rabu (02/11) pagi, makin terasa untuk dinikmati karena saat itu cuaca di Kota Depok sedang cerah, sehingga arus sungai masih tidak terlalu deras untuk dilalui dengan perahu karet.

“Penelusuran sungai dilakukan dalam rangka evaluasi kebersihan dan lingkungan Kota Depok,” ujar Etty Suryahati kepada Depoklik, sebelum pengarungan dimulai.

Perjalanan dilakukan menggunakan empat buah perahu karet dengan total peserta 28 orang yang terdiri dari unsur birokrat dan komunitas.

Limbah Pabrik Tahu

Namun, saat mata kami terpesona akan keindahan Ciliwung, tiba tiba bau tidak sedap menyengat masuk ke hidung. Tak disangka, di balik keindahan dan eksotisme Ciliwung masih ada sekelompok orang tak bertanggungjawab yang tega merusak ekosistem sungai purba itu demi kepentingan bisnis.

Ketua Sekber Sahabat Ciliwung Hidayat Al Ramdhani mengatakan bahwa bau tidak sedap itu berasal dari limbah pabrik tahu yang dibuang langsung ke sungai tanpa melalui pengolahan yang benar.

Dari pantauan tim memang terlihat ada sekitar lima lokasi tempat pembuangan sisa pengolahan pabrik tahu di bibir Ciliwung.

“Nanti akan kami beri peringatan pabrik tahu nakal itu,” kata Kepala BLH Depok, Kania Pratiwi saat melihat lokasi pembuangan limbah.

Menangkap Ikan Tangan Kosong

Perjalanan kami pun berlanjut usai melihat titik pembuangan limbah dari pabrik tahu. Sepanjang pengarungan, Hidayat banyak bercerita mengenai perjuangan para pegiat sungai dalam menjaga Ciliwung kepada dua orang ibu kepala dinas yang satu perahu dengannya.

Menurutnya Ciliwung bila dikembangkan dengan baik bisa menjadi objek wisata edukasi bagi para pelancong yang ingin mengetahui seluk beluk sungai ini.

“Kita pernah ajak orang wisata edukasi. Jadi selain melihat keindahan Ciliwung, mereka kita ajak untuk memungut sampah di Ciliwung. Dan mereka senang kita ajak begitu,” kata dia.

Sekitar 20 menit mengarungi Ciliwung, rombongan pun berhenti sejenak di sebuah tempat yang dinamai Kedung Batu Putih oleh masyarakat setempat. Di sana kami melihat atraksi dari dua orang warga bantaran Ciliwung yang menangkap ikan menggunakan tangan kosong.

Dari atas perahu karet, dua ibu Kadis itu nampak antusias melihat kemampuan menangkap ikan tanpa menggunakan alat pancing.

Kepala DKP Kota Depok dan Kepala BLH Kota Depok menunjukkan ikan asli Ciliwung yang ditangkap menggunakan tangan kosong.
Kepala DKP Kota Depok dan Kepala BLH Kota Depok menunjukkan ikan asli Ciliwung yang ditangkap menggunakan tangan kosong.

Puas melihat keahlian yang jarang dimiliki orang jaman sekarang itu, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Tak jauh dari Kedung Batu Putih, satu lagi permasalahan yang ditemukan di Ciliwung Depok, yakni adanya rentetan perumahan yang melanggar garis sempadan sungai.

Meski agak samar karena tertutup rimbunnya pohon bambu, namun atap dan genting rumah terlihat jelas dari sungai.

Kedua ibu Kadis yang baru dilantik beberapa bulan itu terlihat serius berbincang di atas perahu karet membicarakan solusi untuk penanganan warga yang tinggal di garis sempadan sungai.

Pos Pantau Ratu Jaya dan Sajian Nasi Liwet

Hari menjelang siang, setelah melakukan perjalanan air selama kurang lebih 40 menit dengan arus yang cukup tenang, tidak deras namun tidak terlalu lamban, kami pun tiba di pemberhentian pertama yakni Pos Pantau Ratu Jaya untuk sejenak beristirahat sebelum kembali melanjutkan pengarungan.

Di sana kami disambut oleh tim dari Sekber Sahabat Ciliwung dan Kader Lingkungan Kota Depok.

Nasi liwet lengkap dengan lauknya — ayam, semur jengkol, oseng-oseng kembang pepaya, dan kerupuk — disedikan untuk mengisi tenaga kami. Sebuah sajian sederhana namun nampak mewah karena dimakan bersama-sama di atas alas daun pisang dengan latar Sungai Ciliwung.

Sambil duduk lesehan bersama tanpa ada sekat, kedua Kadis dan komunitas yang mengikuti pengarungan terlihat lahap menyantap menu istimewa itu.

Usai makan, dengan latar suara deru sungai yang terdengar syahdu Kedua Kadis itu terlihat duduk dengan santai sambil melayani beberapa pertanyaan dari jurnalis lokal Depok.

c2

Setelah cukup puas beristirahat, pukul 12.30, kami pun melanjutkan pengarungan. Bentang alam dari batas Pos Pantau Ratu Jaya terpantau lebih asri dan bersih. Bahkan adrenalin kami bertambah manakala berhasil mendapati  jeram yang sedikit lebih deras.

Takjub dengan pemandangan alam Ciliwung, Kadis DKP, Etty Suryahati membandingkan keindahannya dengan sungai di negara Vietnam yang pernah ia kunjungi.

“Ciliwung ini lebih bagus dari pada saat saya ke sungai di Vietnam. Di sana mereka cuma pintar mengemasnya saja. Makanya bisa lebih mahal. Ciliwung kalau dikelola dengan benar saya yakin bisa lebih baik,” ujar Etty.

Pemberhentian Terakhir Pos Pantau GDC

Selain jeram, dari Pos Pantau Ratu Jaya kami juga melewati beberapa belokan sungai yang liukannya akan sangat indah bila dilihat dari udara menggunakan drone.

Bahkan di aliran sungai yang relatif lebih tenang, tim rescue yang mendampingi perjalanan sempat memamerkan kemampuannya dalam memberikan pertolongan darurat di air. Beberapa kali mereka juga memperlihatkan keahlian dalam mengendarai perahu karet.

Tak terasa setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Pos Pantau Ratu Jaya kami pun tiba di Pos Komunitas Ciliwung Depok (KCD) di bawah jembatan Grand Depok City yang dinahkodai oleh Taufik Des.

Aksi blusukan ala Kadis DKP dan Kepala BLH yang terjun langsung memantau kebersihan dan lingkungan Ciliwung akhir berakhir di sana.

Tidak langsung pulang, kedua Kadis sedikit berbincang dengan Taufik dan anggota KCD. Selain membicarakan kondisi Ciliwung, Taufik juga memperlihatkan beberapa hewan endemik Ciliwung yang ia tangkarkan.

Perbincangan yang cukup hangat itu berlangsung hingga 30 menit sebelum kedua Kadis perempuan itu pamit untuk kembali bertugas di lokasi yang lain.

c1

(baf)

Leave a Comment