fbpx

Farida Rachmayanti: Keluarga Kecil Saya Adalah Tim Yang Solid

MEMULAI hari dengan ibadah pagi, mendampingi anak dan suami yang ingin berkatifitas, lalu mengunjungi para ketua RW sebelum berangkat menuju kantor adalah gambaran keseharian dari Farida Rachmayanti, anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok. Tetangga kita yang berdomisili di Tanah Baru – Beji ini selalu terlihat aktif, bahkan sepertinya hampir tidak pernah terlihat letih dengan setumpuk aktivitasnya. Tidak hanya dalam hal legeslasi, anggaran kota, dan advokasi masyarakat, ternyata sosok ibu yang satu ini sangat mumpuni dalam mengurus dan mengatur keluarganya. depoklik sempat menyambangi kantornya dan berbincang-bincang santai dengan ibu dari tiga anak ini, Jumat (28/1) pagi lalu.”depoklik (d) : Apa sebenarnya tugas Anda di DPRD?”Farida Rahmayanti (F): Saya menangani dua alat kelengkapan dewan. Pertama,  Komisi B yang menangani ekonomi dan keuangan, selain itu juga di badan anggaran. Kedua,  representatif atau perwakilan. Saya mewakili warga wilayah pemilihan saya, yaitu Beji. Jadi, lebih kepada melanjutkan aspirasi dan advokasi (pendampingan).”d: Sebagai wakil masyarakat Depok, sejauh apa usaha Anda menampung aspirasi?”F : Secara aktif, saya bersilaturahmi ke masyarakat daerah pemilihan saya. Setiap pagi sebelum ke kantor sekitar pukul delapan saya mengunjungi para ketua RW di Beji. Tahun lalu saya baru bisa mengunjungi 27 RW, karena agenda DPRD cukup padat. Di luar program pribadi itu, saya juga menghadiri undangan dari acara warga. Secara pasif, saya menerima aspirasi melaui telepon, telepon saya siap 24 jam.”d : Sebagai seorang ibu, isteri, dan wakil rakyat, bagaimana Anda membagi porsi waktunya?”F : Kami adalah satu tim yang solid, satu sama lain saling menguatkan. Secara simultan kami bersama membangun manajemen waktu yg baik. Alhamdulillah, nilai-nilai relijius menguatkan itu, sehingga baik anak dan suami tidak ada dikotomi benturan waktu. Lagipula suami dan anak-anak sudah tidak kaget, sebelum menjadi anggota dewan saya memang sudah aktif di masyarakat dan organisai-organisasi sejak anak-anak masih kecil, jadi anak-anak sudah terbiasa tuh.”d : Apa anak-anak pernah mengeluh?”F : Sebagai ibu, saya membuat program dan manajemen waktu bagi anak-anak, mulai dari pulang sekolah di sore hari, mandi makan, ke masjid, dan belajar di malam hari. Bahkan saya juga membuat aturan kapan anak-anak boleh nonton televisi, saya pikir semua ada waktunya. Namun, komunikasi saya dan anak-anak paling efektif di malam hari. Saat itulah, saya selalu menyempatkan mendampingi mereka belajar di malam hari. Tapi namanya anak-anak, terkadang juga ada keluhan soal waktu ibunya, tapi bagi saya itu proses. Misalnya, anak-anak kadang kecewa saat saya tidak bisa menemani mereka renang. Kebetulan saya hanya punya satu kendaraan, hahaha.. Disitulah mereka kecewa karena tidak bisa diantar. Kalau sudah begitu, saya minta maaf pada mereka dan memberikan pemahaman. Tapi, saya bersyukur anak-anak saya dapat berdialog dan mau diajak bermitra.”d : Apa Anda meminta ijin kepada anak-anak saat maju dalam pemilihan anggota dewan?”F : Saya ajak mereka berdiskusi. Terutama, kegiatan yang padat sebagai anggota dewan. Mereka memang sempat mengeluh, tapi saya menjelaskan dengan nalar bahwa saya diamanahkan untuk membantu masyarakat. Saya katakan, Insya Allah bila membantu orang maka keluarga kita akan dimudahkan. Alhamdulillah anak-anak bisa mengerti.”d : Apa saat itu Anda siap menjadi seorang ibu dengan diiringi tugas yang padat?”F : Semua orang tua pasti ingin menjadikan anaknya adalah investasi dunia akhirat. Karena semua orang tua ingin anaknya soleh. Soleh itu artinya berdaya, ketika berdaya ia akan bermanfaat untuk banyak orang. Bagi saya inilah cara menunjukkannya, ibu yang aktif di masyarakat akan memberikan aura yang sama ke anak-anaknya. Itu filosofi yang saya dan suami yakini.”d : Dilema antara keluarga dan tugas?”F : Selalu ada perbenturan waktu, namun itu sifatnya teknis. Masalah teknis seperti waktu, bagi saya bisa dikondisikan. Soal waktu, saya dan suami menerapkan pendekatan manajemen, saya tidak menggunakan pendekatan ‘membenturkan’. Saya pun tidak menyepelekan agenda anak-anak, karena mereka memang perlu berkembang. Namun saat saya tidak bisa bersama keluarga, saya tetap minta maaf dan coba memberi pemahaman.”d : Apa me time Anda  untuk menghilangkan jenuh dan mendapatkan energi lagi?”F : Saya suka baca buku. Saya suka baca buku –buku sejarah, karena seru seperti nonton film, itu refreshing buat saya. Selain itu, saya memanjakan diri sendiri dengan hobi memadupadankan baju, menghayal mendisain pakaian, hahaha.. saya bukan disainer kok, tapi hanya hiburan saja. Kadang saya hunting bahan pakaian untuk menghilangkan kejenuhan. Saya juga bisnis kecil-kecilan jual kerudung bersama teman-teman dekat, yaa..itu sebagai hobi aja.”d : Bicara soal Depok, omong-omong sejak kapan Anda berdomisili di kawasan ini?”F :Saya di Depok sejak tahun 2000. Saya sendiri lahir dan besar di Petojo, Jakarta Pusat. Saya baru pindah ke Depok saat hamil anak ketiga. Bagi saya, Depok adalah kota yang nyaman untuk tempat tinggal. Dulu, Depok itu adem, tapi sekarang tidak se-adem dulu.  Padahal, rasa nyaman dan udara sejuk di Depok harusnya senantiasa dijaga.”d : Dimana tempat favorit Anda sekeluarga menghabiskan waktu bersama di kawasan?”F : Paling sering di daerah Margonda. Biasanya kami, wisata kuliner dan pergi ke toko buku.  Kami juga sering bersepeda dan jalan pagi di UI.”d : Lalu jajanan favorit di Margonda?”F :  Kedai atau resto yang menjual makanan pempek, bakso, pokoknya yang pedas-pedas, atau yang manis-manis. Tapi sejujurnya sih, hampir semua makanan saya suka, hehe..”d : Dari kacamata Anda sebagai warga, apa kendala yang ditemui saat tinggal di Depok?”F :Menurut saya, persoalan sampah perlu menjadi perhatian. Masalah sampah di Depok perlu solusi yang sistematis. Selain pemerintah, peran serta masyarakat juga penting, karena berdasarkan data, sampah terbesar berasal dari sampah keluarga 70%. Selain sampah, kendala lain yang mengganggu kenyamanan adalah kemacetan dan angkutan umum yang kurang tertib. Namun inilah dampak pertambahan penduduk. Selama ini kan kota kita itu namanya kota 59, pergi jam 5 pulang jam 9 (tertawa­). Artinya, banyak warga kita yang bekerja di Jakarta, namun masih harus melewati macet di kota sendiri juga. Depok harus nyaman, dan tetap harus ada penyelesaian soal kemacetan”d : Terakhir, apa harapan Anda untuk Depok?”F : Saya harap, potensi asri Depok tetap terjaga. Menurut saya, warga Depok adalah warga yang ramah, jadi saya harap dalam konteks sosial warga Depok bisa mempertahankan nilai-nilai relijinya serta keramahannya.” “T. Farida Rachmayanti SE, Msirn

    rn

  • Tempat / Tanggal lahir : Jakarta, 28 Oktober 1971
  • rn

  • Suami: Syarifudin, Skom, Msi
  • rn

  • Anak: Ismail Abdullah (13), Nisrina Maliha (12), Muhammad Nur Robbani (10)
  • rn

  • Pendidikan: S2 ekonomi islam UI
  • rn

rn “CLrnFoto: dok. keluarga

Leave a Comment