fbpx

HM Wahjono, Warga Depok Pejuang Tiga Zaman

Generasi muda seharusnya meneladani semangat yang dimiliki HM Wahjono, seorang pejuang angkatan’45 yang tinggal di Jalan Mahakam VI No 122 Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.”Wahjono sudah terjun ke medan perang saat usianya masih 19 tahun.rnDari mulai berbekal bambu runcing hingga ikut memegang senjata laras panjang. Wahjono pun pernah tertembak di bagian lehernya hingga dioperasi seadanya di tengah hutan.”“Saya memegang senjata namanya jenis Juki, jadi pelurunya banyak itu, pernah saya tertembak, saat itu saya dibawa berkilo – kilo ke markas sambil berdarah – darah, dibalut dengan kain seadanya, dokter seadanya, rumah sakitnya di tengah hutan, jaman dulu tak boleh nyalakan lampu petromak, hanya sentir biasa,†cerita pejuang yang memiliki lima anak dan belasan cucu hingga cicit ini, Selasa (09/11).”Jepang Lebih Kejam“Wahjono menuturkan, di masa penjajahan Belanda selama 3,5 abad, justru rakyat Indonesia tak merasa dijajah, berbeda dengan kekejaman di masa penjajahan Jepang yang fasis.““Saat penjajahan Belanda situasinya tenang, secara ekonomi tetap berjalan, namun secara politik kita dijajah sehingga saat pemuda sudah ‘besar – besar’ baru mengerti kalau kita sedang dijajah, tetapi berbeda saat Jepang datang, Jepang justru kejam dengan fasisnya, budaya antre diajarkan pada masa Jepang dimana sulit mendapatkan makanan, untuk berpakaian pun sulit mencari kain, harus pakai karet, makan pakai bonggol pisang dan bolgur atau makanan kuda,†tutur Wahjono di rumahnya, Selasa (09/11).”Jepang, lanjutnya, selalu menipu Indonesia dengan mengaku sebagai saudara tua. Namun justru tindakan Jepang saat itu, kata dia, betul – betul kejam, salah satunya dengan menyegel radio di Indonesia.”“Sosok Bung Karno betul – betul dapat membangkitkan jiwa patriotisme rakyat Indonesia, khususnya pemuda. Jepang saat itu perampok, bahkan rumah yang pagarnya besi diambil sama Jepang dibawa ke negaranya, penderitaan luar biasa pada masa Jepang,†tandas Kakek yang saat ini menjadi Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) Angkatan ’45 Kota Depok.”Terdampar di Depok“Wahjono pun sempat menceritakan kisahnya kepada depoklik bagaimana ia bisa terdampar di Kota Depok, dari perjuangan di Surakarta.”Ia mulai bersekolah HIS Muhammadiyah, Surakarta, hingga SMP di Solo. Ia mengambil jurusan teknik. “Selanjutnya saya bersekolah di Sekolah Pendidikan Kemasyarakatan Negeri (SPKN), lalu saya jadi PNS di Departemen Sosial, hingga sampai ke Depok ini, dan memperistri Herning Suwandinah,†tuturnya.”Ia pun ikut sebagai anggota laskar rakyat saat itu dimana belum terbentuk struktur organisasi tentara. Hingga kini akhirnya Indonesia memiliki TNI untuk pertahanan dan menghadapi ancaman dari luar.”“Perkembangannya dari mulai Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu Tentara Republik Indonesia (TRI), hingga kini Tentara Nasional Indonesia (TNI),†jelasnya.”Pria kelahiran 2 Maret 1926 ini merupakan saksi hidup yang melihat, merasakan, dan mengetahui secara langsung perjuangan para pahlawan Indonesia memeroleh kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.”Nah, sekarang giliran kita lah yang mempertahankannya!”IcharnFoto: Dok. pribadi

Leave a Comment