fbpx

Homeschooling di Mata Kak Seto

Seto Mulyadi (Kak Seto) (istimewa).
Seto Mulyadi (Kak Seto) (istimewa).

Depoklik.com – Homeschooling (Sekolah Rumah) saat ini mulai menjadi salah satu model pilihan orang tua. Pilihan ini muncul karena adanya pandangan para orangtua tentang kesesuaian minat oleh anak-anaknya. Homeschooling ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.

Di Indonesia, keberadaan homeschooling sudah mulai menjamur di Jabodetabek dan kota besar lainnya. Awalnya, keberadaan proses belajar dan mengajar model rumahan ini belum menuai minat dari khalayak umum. Namun kini, keberadaannya justru banyak dimanfaatkan kalangan menengah ke atas, seperti artis, dan kalangan entertainer. Tak jarang didapati di antaranya kalangan olahragawan, atlit nasional, dan kalangan biasa yang menginginkan rumah sebagai ruang kelas.

Penerapan homeschooling

Menurut Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto, kemunculan homeschooling sebagai salah satu alternatif memang perlu dibuktikan keberhasilannya sebagai sebuah kompetisi proses menimba melalui sistem non-formal.

Secara etimologis, homeschooling (HS) adalah sekolah yang diadakan di rumah. Meski disebut homeschooling, tidak berarti anak akan terus menerus belajar di rumah, tetapi anak-anak bisa belajar di mana saja dan kapan saja asal situasi dan kondisinya benar-benar nyaman dan menyenangkan, seperti layaknya berada di rumah. Keunggulan secara individual inilah yang memberi makna bagi terintegrasinya mata pelajaran kepada peserta didik.

Seto mengatakan, perlunya dukungan penuh dari orangtua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusiasme belajar anak. Karena di balik kemudahan, sekolah rumah juga memerlukan kesabaran orangtua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan.

Seto menampik sejumlah mitos yang dinilainya keliru tentang homeschooling selama ini. Misalnya, anak kurang bersosialisasi, orangtua tidak bisa menjadi guru, orangtua harus tahu segalanya, orangtua harus meluangkan waktu delapan jam sehari. Kemudian waktu belajar tidak sebanyak waktu belajar sekolah formal, anak tidak terbiasa disiplin dan seenaknya sendiri. Lalu tidak bisa mendapatkan ijazah dan pindah jalur ke sekolah formal, tidak mampu berkompetisi, dan homeschooling mahal. “Itu keliru,” ucapnya.

Ada beberapa klasifikasi format homeschooling:

  1. Homeschooling tunggal

Dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan lainnya karena hal tertentu atau karena lokasi yang berjauhan.

  1. Homeschooling majemuk

Dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu, sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orangtua masing-masing. Alasannya, terdapat kebutuhan-kebutuhan yang dapat dikompromikan oleh beberapa keluarga untuk melakukan kegiatan bersama. Contohnya kurikulum dari konsorsium, kegiatan olahraga (misalnya keluarga atlit tennis), keahlian musik/seni, kegiatan sosial, dan kegiatan agama.

  1. Komunitas homeschooling

Gabungan beberapa homeschooling majemuk yang menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok (olah raga, musik/seni, dan bahasa), sarana/prasarana, dan jadwal pembelajaran. Komitmen penyelenggaraan pembelajaran antara orangtua dan komunitasnya kurang lebih 50:50.

Alasan memilih komunitas homeschooling:

  • Terstruktur dan lebih lengkap untuk pendidikan akademik, pembangunan akhlak mulia, dan pencapaian hasil belajar.
  • Tersedia fasilitas pembelajaran yang lebih baik, misalnya bengkel kerja, laboratorium alam, perpustakaan, laboratorium IPA/Bahasa, auditorium, fasilitas olah raga, dan kesenian.
  • Ruang gerak sosialisasi peserta didik lebih luas tetapi dapat dikendalikan.
  • Dukungan lebih besar karena masing-masing bertanggung jawab untuk saling mengajar sesuai keahlian masing-masing.
  • Sesuai untuk anak usia di atas 10 tahun.
  • Menggabungkan keluarga tinggal berjauhan melalui internet dan alat informasi lainnya untuk tolak banding (benchmarking), termasuk untuk standardisasi.

Tantangan homeschooling

Dalam perkembangannya, homeschooling juga menghadapi beberapa tantangan, yaitu:

  1. Homeschooling tunggal

– Sulitnya memperoleh dukungan/tempat bertanya, berbagi dan berbanding keberhasilan.

– Kurang tempat sosialisasi untuk mengekspresikan diri sebagai syarat pendewasaan.

– Orangtua harus melakukan penilaian hasil pendidikan dan mengusahakan penyetaraannya.

  1. Homeschooling majemuk

– Perlu kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas, dan kegiatan tertentu.

– Perlu ahli dalam bidang tertentu walaupun “kehadiran” orangtua harus tetap ada.

– Anak-anak dengan keahlian/kegiatan khusus harus menyesuaikan/menerima lingkungan lainnya dengan dan menerima “perbedaan-perbedaan” lainnya sebagai proses pembentukan jati diri.

– Orangtua masing-masing penyelenggara homeschooling harus menyelenggarakan sendiri penyetaraannya.

  1. Komunitas homeschooling

– Perlunya kompromi dan fleksibilitas jadwal, suasana, fasilitas dan kegiatan tertentu yang dapat dilaksanakan bersama-sama.

– Perlunya pengawasan yang professional sehingga diperlukan keahlian dalam bidang tertentu walaupun “kehadiran” orangtua harus tetap ada.

– Anak-anak dengan keahlian atau kegiatan khusus harus juga bisa menyesuaikan dengan lingkungan lainnya dan menerima “perbedaan-perbedaan” lainnya sebagai proses pembentukan jati diri.

Kekuatan homeschooling

Sebagai sebuah pendidikan alternatif, homeschooling juga mempunyai beberapa kekuatan dan kelemahan. Kekuatan/kelebihan homeschooling adalah:

– Lebih memberikan kemandirian dan kreativitas individual bukan pembelajaran secara klasikal.

– Memberikan peluang untuk mencapai kompetensi individual semaksimal mungkin, sehingga tidak selalu harus terbatasi untuk membandingkan dengan kemampuan tertinggi, rata-rata atau bahkan terendah.

– Terlindungi dari “tawuran”, kenakalan, NAPZA, pergaulan yang menyimpang, konsumerisme, dan jajan makanan yang malnutrisi.

– Lebih bergaul dengan orang dewasa sebagai panutan.

– Lebih disiapkan untuk kehidupan nyata.

– Lebih didorong untuk melakukan kegiatan keagamaan, rekreasi/olahraga keluarga.

– Membantu anak lebih berkembang, memahami dirinya dan perannya dalam dunia nyata disertai kebebasan berpendapat, menolak atau menyepakati nilai-nlai tertentu tanpa harus merasa takut untuk mendapat celaan dari teman atau nilai kurang.

– Membelajarkan anak-anak dengan berbagai situasi, kondisi dan lingkungan sosial.

– Masih memberikan peluang berinteraksi dengan teman sebaya di luar jam belajarnya.

Kelemahan homeschooling:

– Anak-anak yang belajar di homeschooling kurang berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat.

– Sekolah merupakan tempat belajar yang khas yang dapat melatih anak untuk bersaing dan mencapai keberhasilan setinggi-tingginya.

– Homeschooling dapat mengisolasi peserta didik dari kenyataan-kenyataan yang kurang menyenangkan sehingga dapat berpengaruh pada perkembangan individu.

– Apabila anak hanya belajar di homeschooling, kemungkinan ia akan terisolasi dari lingkungan sosial yang kurang menyenangkan sehingga ia akan kurang siap untuk menghadapi berbagai kesalahan atau ketidakpastian.

Prasyarat keberhasilan homeschooling

Agar homeschooling dapat dilaksanakan dengan baik dan anak dapat merasa nyaman dalam belajar, maka ada beberapa prasyarat keberhasilan dalam menyelenggarakan homeschooling, yaitu:

– Kemauan dan tekad yang bulat.

– Disiplin belajar-pembelajaran yang dipegang teguh.

– Ketersediaan waktu yang cukup.

– Keluwesan dalam pendekatan pembelajaran.

– Kemampuan orangtua mengelola kegiatan.

– Ketersediaan sumber belajar.

– Dipenuhinya standar yang ditentukan.

– Ditegakkannya ketentuan hukum.

– Diselenggarakannya program sosialisasi agar anak-anak tidak terasing dari lingkungan masyarakat dan teman sebaya.

– Dijalinnya kerja sama dengan lembaga pendidikan formal dan nonformal setempat sesuai dengan prinsip keterbukaan dan multimakna.

– Terjalin komunikasi yang baik antarpenyelenggara homeschooling.

– Tersedianya perangkat penilaian belajar yang inovatif (misalnya dalam bentuk portofolio dan kolokium)

Orangtua, guru, dan teman

Lalu, apa yang yang perlu diperhatikan oleh orangtua dalam menyelenggarakan sekolah rumah? Seto mengatakan, orangtua harus menjadikan anak sebagai teman belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. “Orangtua harus memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini,” katanya.

“Anak perlu bermain”. Itu yang perlu dipahami oleh orangtua. Karena itu pula, orangtua tidak boleh arogan dengan menempatkan diri sebagai guru, tapi belajar bersama. Kalau tidak siap dengan itu, menurut Seto, lebih baik jangan menyelenggarakan sekolah rumah.

“Orangtua, tetap perlu terus menambah pengetahuan. Tidak mesti menguasai semua jenis ilmu, yang penting, memiliki pemahaman tentang anak. Bila orangtua kurang mengerti pelajaran biologi atau matematika, misalnya, orangtua bisa mendatangkan guru untuk pelajaran tersebut dan belajar bersama anak. Dengan demikian, anak akan merasa tidak lebih rendah, tapi sebagai sahabat dalam belajar,” tutur Seto.

Bagaimana dengan kedua orangtua yang bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk memberikan pembelajaran kepada anak dalam menyelenggarakan homeschooling? Seto mengatakan, “Itu tidak boleh menjadi alasan.”

“Sesibuk apa pun orangtua, tetap harus punya waktu untuk anak. Kalau tidak punya waktu, jangan punya anak,” ujar psikolog yang juga menyelenggarakan homeschooling bagi anak sulungnya itu.

Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuhan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional.

Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu pula. “Standar kompetensi ini,” ucapnya. “Dapat diperoleh di Dinas Pendidikan yang ada di daerah masing-masing.”

Evaluasi bagi anak yang mengikuti homeschooling dapat dilakukan dengan mengikutkan pada ujian Paket A yang setara dengan SD atau Paket B setara SMP. “Pada dasarnya, evaluasi tersebut dapat pula dilakukan dengan menginduk ke sekolah formal yang ada,” kata Seto. Menurutnya, seharusnya ini bisa dilakukan karena sekolah rumah bukan sekolah liar. Kiranya para orangtua harus berkaca diri dulu sebelum menyelenggarakan sekolah rumah bagi sang buah hati.

Frd

Dari berbagai sumber

Leave a Comment