ICMI: Sidang Ahok Merupakan Sidang Kasus Penodaan Agama Terlama dan Termahal Dalam Sejarah

Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia atau ICMI mengatakan sidang kasus penodaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok termasuk dalam ketegori sidang terlama sekaligus termahal.

“Sidang Ahok pekan depan akan memasuki bulan ke 5. Masya Allah, ini sidang penistaan agama terlama di negara mayoritas muslim terbesar di dunia?” ungkap Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat, Brigjen Pol (Purn) Dr. Anton Tabah Digdoyo, Rabu (29/3).

Anton mengatakan, sidang kasus Ahok tidak hanya yang terlama tapi juga yang termahal. Dengan indikasi dampak intervensi penguasa dari pemerintah sehingga negara yang perlakukan Ahok dengan sangat istimewa. Publik akhirnya menganggap sidang yang sedang berjalan pun bak sandiwara.

Kasus ini seharusnya sangat mudah, cepat dan murah. Bukan malah jadi rumit, lama dan mahal, karena sudah banyak yurisprudensinya, jelas Anton.

“Bahkan tanggal 23 Maret lalu pengadilan negeri Semarang baru saja menjatukan vonis 28 bulan penjara bagi terdakwa penoda agama Andrew Handoko dengan dakwaan menghina Al-Quran, hanya melalui tiga kali sidang. Mudah, cepat dan murah,” tambah Anton.

Anton yang juga merupakan salah satu ketua di MUI Pusat mengaku heran kenapa Ahok begitu diistimewakan.

“Apakah penguasa tidak melihat bahwa kasus penistaan agama memiliki derajat keresahan masyarakat sangat tinggi, bisa mengakibatkan konflik horisontal yang merusak persatuan kesatuan NKRI?” ujar Anton.

Anton melanjukan, sejak tahun 1964 Mahkamah Agung telah menerbitkan fatwa agar tedakwa penodaan agama dihukum berat, dan mulai sejak Januari 1965 negara membuat UU Nomor 1/PNPS/1965 tentang Penodaan Agama dengan ancaman hukuman berat ketika kasus-kasus penodaan agama marak pada era pra G-30-S/PKI Tahun 1965.

“Alhamdulillah berkat rahmat Allah yang maha kuasa PKI kalah sehingga kasus-kasus penodaan agama pun bisa diatasi dengan kesigapan dan kecepatan dari penegakan hukum,” sebut Anton.

Sekarang, indikasi kejadian pra G-30-S/PKI Tahun 1965 mulai muncul lagi, kasus-kasus penodaan pada agama Islam marak sebagai efek dari Ahok yang diistimewakan oleh negara.

“Ada apa? Kenapa kasus yang terang benderang jadi rumit begini dengan waktu sidang lama dan mahal dalam sejarah republik ini?
Pembuktiannya pun harusnya sangat mudah tidak rumit, tidak sulit. Dan yurisprudensinya juga sangat banyak,” Anton menekankan.

Terakhir Anton menekankan, aparat penegak hukum kasus Ahok harus sadar dan jangan mau diintervensi siapapun kerena dalilnya sangat pasti. Negara dan bangsa ini pasti hancur jika hukum pilih kasih, hal seperti itu bahkan tertulis di pintu gerbang Universitas Harvard di Amerika Serikat, yang merupakan universitas terbaik di dunia.

“Jauh 1.500 tahun yang lalu Nabi Muhammad Sholallahi alaihi wa salam telah mengatakan, ‘Hancurnya bangsa-bangsa terdahulu karena hukum pilih kasih. Demi Allah, jika Fatimah putri tunggalku mencuri pasti kupotong tangannya’ (Hr. Al Bukhori, Juz 4 halaman 212),” pungkas Anton.

Recommended For You

About the Author: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *