fbpx

Ini Evaluasi Lahandi Baskoro Terhadap Poster Festival Industri Kreatif Pemkot Depok

poster-festival-industri-kreatif-pemkot-depok-di-bully-di-twitter-1

Ramainya ejekan netizen di Twitter soal poster Festival Industri Kreatif Pemerintah Kota Depok memancing banyak tanggapan dari sejumlah pelaku industri keatif. Bahkan, Lahandi Baskoro, tokoh industri kreatif Kota Depok yang juga Ketua Komunitas Depok Creative, membeberkan evaluasinya terhadap poster tersebut, Kamis (4/6).

(Baca juga: Poster Festival Industri Kreatif Pemkot Depok Ini Jadi Bahan ‘Bully’)

Berikut hasil evaluasi Lahandi terhadap Poster Festival Industri Kreatif Pemkot Depok yang dibully warga:

2074c3dccf587ff8a3e0068c848e1f41_400x400-300x300Apa yang salah dari poster tersebut?

Pertama, terlalu banyak elemen visual yang tidak mendukung satu sama lain. Ada foto Wali Kota Depok dan Wakil Wali Kota Depok, ada dua bentuk belimbing, ada motif batik, ada beberapa font yang digunakan, plus ditambah ramai lagi dengan banyak warna yang muncul. Terlalu banyak elemen yang tidak memiliki kesatuan akan menimbulkan kesemerawutan visual.

Kedua, hal yang fatal adalah pemilihan foto Wali Kota Nur Mahmudi Ismail dan Wakilnya Idis Abdul Shomad sebagai elemen visual utama. Apa relevansinya Festival Industri Kreatif dengan foto Wali Kota dan Wakil Wali Kota?

Ketiga, penekanan yang membingungkan. Tiga huruf ‘i’ yang disejejarkan dan diberi warna berbeda pada tulisan Festival Industri Kreatif, ditambah lagi dibawahnya ada foto Wali Kota, ini membuat pembaca poster bertanya-tanya apa maksud dari penekanan huruf ‘i’ ini? Apakah ingin memberi rima untuk Nur Mahmudi?

Keempat, logo-logo di bagian bawah ditempatkan berantakan dan terlalu memakan banyak ruang.

Pelajaran apa yang bisa diambil?

Sejak dicuitkan oleh Wahyu Aditya di Twitter, poster ini mendapat banyak respon sentimen negatif. Beberapa yang merespon juga para tokoh-tokoh yang berkiprah di industri kreatif, misalnya: Iman Brotoseno, Pinot, Fico, dan Erwin Ananda. Ditambah lagi diangkat jadi berita oleh Depoklik.

Dari fenomena ini bisa kita lihat bahwa orang makin peduli dengan good design. Mereka melihat desain komunikasi yang buruk seperti polusi, harus dihindari.

Hal yang penting tentang ini adalah agar dinas terkait bisa mengambil pelajaran penting bahwa jangan mengerjakan projek dengan prinsip Asal Bapak Senang, melainkan harus berorientasi kepada target audience yang ingin dituju.

Satu lagi biar tambah kece, libatkan dan lakukan audiensi dengan komunitas terkait dahulu sebelum meluncurkan sebuah acara untuk publik, mereka biasanya punya pendapat dan insight yang bermanfaat.

cl

Recommended For You

About the Author: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *