fbpx

Jangan Rusak Ciliwung!

Alih fungsi lahan sempadan Sungai Ciliwung untuk hunian harus segera ditertibakan karena dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Meski telah dilarang, namun nyatanya masih banyak penyalahgunaan area sempadan. Salah satu penyebabnya kebutuhan akan tempat tinggal murah.

“Karena tanah-tanah di pinggir sungai relatif lebih murah,” ungkap Aktifis Ciliwung, Hidayat Rinjani, di Pos Pantau, Ratu Jaya, Depok, beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Dayat ini juga menyebut jika saat ini para pengembang property lebih tertarik membangun hunian di lokasi yang bersinggungan dengan bibir sungai.

Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 28/PRT/M/2015 Tentang Penetapan Garis Sempadan Sungai dan Garis Sempadan Danau tidak boleh berdiri bangunan kecuali bangunan-bangunan tertentu yang mendukung pemanfaatan air sungai dan kebutuhan masyarakat umum.

“Sekarang berubah trendnya, property mengincar lahan-lahan yang bersinggungan dan dekat garis sepadan sungai, karena sungai bisa menjadi daya tarik menjual,” tuturnya.

Kerusakan Ciliwung juga disebabkan ulah para pengusaha nakal yang membuang langsung sisa produksinya ke sungai.

“Pabrik tahu dan tekstil pernah ketauan membuang limbah ke Ciliwung,” ujarnya.

Ciliwung sendiri memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai sumber air bersih warga. Karena itu Dayat mengajak masyarakat untuk menjaga dan merawat kelestarian sungai tersebut.

“Meski sudah disaring PDAM, kalau kualitas air menurun tidak menutup kemungkinan microba bisa masuk ke air bersih,” tutupnya.

(baf)

Leave a Comment