fbpx

Mau Jadi Jutawan Kelapa Muda?

Advertorial

\r\nBerawal dari kunjungan Syahnan Sukur ke salah satu negara tetangga di Asia Tenggara, maka ide untuk memulai bisnis kelapa muda modern-pun tercipta, yaitu memproduksi dan memasarkan kelapa muda siap saji. Dengan improvisasi dan kreatifitas yang mengesankan, bersama rekannya Agus Wijaya, UD. Batavia Kelapa Muda didirikan pada Maret 2010, untuk memproduksi beragam sajian kelapa muda siap saji dalam kemasan menarik. Tidak hanya kelapa muda, namun kelapa kopyor, kelapa ijo, kelapa oven, sampai koktail kelapa lontar  turut menjadi andalan bisnisnya.\r\n\r\nIndonesia merupakan negara yang memiliki luas perkebunan kelapa terbesar, dan bagi mereka ini sangat potensial untuk merealisasikan ide bisnis ini. Dimulai hanya dengan beberapa pekerja, kedua pria yang memiliki semangat tinggi ini mampu mengawali bisnis yang inovatifnya dengan memasarkan produk ke dua konsumen di bidang ritel dan lima kedai serta restoran.\r\n\r\nKini, UD. Batavia Kelapa Muda yang sudah memiliki belasan staf ahli dan pekerja lepas ini sudah merambah ke bisnis ritel besar di negeri ini, yakni  menjalin kerjasama dengan Matahari Hypermart dan Carrefour Indonesia.  Alhasil, realisasi ide bisnis ini-pun terus melaju dengan cemerlang sampai saat ini. Bahkan usaha ini sudah merambah ke penjualan langsung melalui booth-booth yang tersebar di Jabodetabek.\r\n\r\nSeiring dengan langkah-langkah keberhasilannya ini, Syahnan dan kawan-kawan kini merambah ke dunia waralaba. Hal ini bertujuan untuk membantu kalangan ekonomi lemah dan menengah yang ingin mempunyai bisnis dengan modal yang terjangkau. “Nantinya, kami akan membantu mitra dalam penentuan lokasi apabila kesuiltan mencari tempat usaha. Kami akan menyiapkan counter/booth, aksesoris, perlengkapan lainnya serta media promosi,†ujarnya.\r\n\r\nUntuk mendukung mitra dan kelancaran usahanya, UD. Batavia Kelapa Muda sudah membuka dua kantor perwakilannya. Kantor area selatan untuk Tangerang, Depok, Jakarta Barat, Utara, Selatan dan Pusat. Sementara kantor area timur untuk Bekasi dan Jakarta Timur. Perwakilan ini tentunya untuk mendukung dan mendampingi mitra-mitranya.\r\n\r\n14 produk unggulannya kini adalah; Batavia Kelapa Muda, Batavia Kelapa Ijo, Batavia Kelapa Oven, Batavia Kelapa Kopyor, Batavia Kelapa Serut (dalam cup dan kemasan plastik), Air Kelapa (kemasan botol, kotak, dan cup), Air Kelapa Tonik (kemasan botol dan cup), Daging Kelapa Beku (kemasan plastik), Selai Kelapa, Sirup Kelapa, Kelapa Lontar/Siwalan (kemasan toples dan kaleng), Sirup Lontar, dan Sari Kelapa Lontar (Nata de Lontar) yang dikemas dalam plastik dan cup.\r\n\r\nInformasi Waralaba\r\n

      \r\n

    • UD. Batavia Kelapa Muda

\r\n

  • Perum. Gaperi I Blok NL No. 1A, Bojong Gede – Bogor

 

\r\n

  • Telp/Fax.: 021 – 878 1132

 

\r\n

\r\n

Pemkot Depok Harus Membumikan Produk Lokal

[caption id="attachment_1340" align="alignright" width="250" caption="Drs. Zamrowi, MSi."][/caption]“ TERKAIT dengan rencana aksi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok tahun depan, yaitu membangkitkan sektor industri pengolahan, maka yang muncul di benak kita adalah bagaimana aksi nyata Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam membumikan produk-produk lokal ini?”Drs. Zamrowi, Msi, Sekretaris Disperindag Kota Depok, menjawab pertanyaan ini saat berbincang dengan depoklik di kantornya, Rabu (6/10) siang kemarin. Menurutnya Pemkot wajib mendukung pemasaran produk-produk lokal bila ingin membangkitkan sektor sekunder, dalam hal ini adalah industri pengolahan. Selain kampanye dengan beragam agenda kegiatan, pihak pemkot sendiri akan memulai pemakaian produk lokal. “Pegawai pemerintahan harus menggunakan produk lokal,†tegasnya. Selain itu, lanjut Zamrowi, Pemkot akan menerbitkan regulasi dalam bentuk peraturan daerah mengenai kerjasama toko-toko modern dengan produk UKM Depok. “Toko-toko modern seperti mal dan swalayan harus memberikan tempat untuk produk-produk lokal,†tegasnya.”Disamping itu, Disperindag juga memiliki rencana lain. Zamrowi mengatakan bahwa kantor Disperindag akan pindah, dan konsepnya adalah membuat showroom produk-produk olahan UKM Depok di lokasi kantor yang baru. Zamrowi belum memastikan lokasi dan waktunya, namun rencana-rencana ini sudah diajukan ke DPRD, semua terpaket mengenai pembangkitan sektor sekunder.”Lalu, langkah apa yang perlu disiapkan oleh para pelaku industri olahan? Langkah pertama yang perlu dilakukan oleh produk UKM adalah meningkatkan kualitasnya termasuk pemenuhan standar nasional, seperti Standar Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan, POM, tanggal kadaluwarsa, dan standarisasi lain. “UKM pun harus mengolah produknya secara profesional. Karena kita juga harus menghargai peraturan mengenai perlindungan konsumen,†tandas Zamrowi.”Coki Lubis“Foto: AN

Sektor Sekunder Fokus Pemerintah Depok Tahun 2011

LAHAN pertanian hanya tersisa 2,3 persen dari luas kota Depok sekarang ini. Sudah sedikit penduduk yang beraktifitas pada sektor ini, contohnya petani belimbing, ikan hias, tanaman hias, dan lain-lain. “Jadi, bila ingin membangkitkan kembali sektor ini, pemerintah perlu serius dalam pertanian perkotaan atau urban agriculture,†ujar Drs. Zamrowi, Msi, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok kepada depoklik di ruangan kantornya, Rabu (6/10) lalu. Dalam kegiatan ekonomi, sektor primer sering diterjemahkan dalam aktifitas ekonomi pertanian. Saat ini, Depok sudah nyaris kehilangan sektor primer, lahan yang ada sudah terkepung dengan sektor perdagangan dan jasa. Setiap tahun ruang terbuka hijau diserbu dengan pembangunan perumahan. Menurut data statistik terakhir, warga Depok berjumlah 1,4 juta penduduk, artinya memang membutuhkan pembangunan tempat tinggal dan memakan lahan yang besar. Untuk itu, pemerintah perlu serius membangun sektor primer”Saat ini, corak perekonomian Depok berada di sektor sekunder yaitu industri pengolahan, dan tersier atau perdagangan dan jasa. Menurut Zamrowi, perkembangannya kian mengkhawatirkan, karena sekunder berkurang, dan perekonomian didominasi oleh tersier. Disinilah mau tidak mau pemerintah harus intervensi ke industri pengolahan, karena indutri pengelohan biasanya menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dibanding perdagangan dan jasa.”Saat ini, Dinas Perindustian dan Perdagangan Depok (Disperindag) berencana untuk kerjasama dengan warga yang kompeten dalam indutri pengolahan, salah satunya adalah Dr. Wisnu Gardjito, warga depok yang sudah berkecimpung di level nasional dalam industri pengolahan kelapa. “Memang depok tidak menghasilkan kelapa, tapi kita bisa dibanjiri kelapa dari daerah lain di Indonesia. Depok akan fokus pada pengolahan akhir dan pemasarannya. Karena, pasarnya sudah ada, yaitu internasional, nasional, dan tentunya pasar lokal kota kita sendiri,†jelas Zamrowi. Setelah melalui studi dan kaji kelayakan oleh Disperindag, maka industri pengolahan kelapa akan menyerap tenaga kerja cukup banyak karena pengolahannya bisa tersebar di setiap wilayah Depok. Kelapa pun bisa diolah menjadi banyak produk, dari mulai kebutuhan rumah tangga, produk kuliner, kosmetik, obat, dan lain-lain.”Hal serupa juga disampaikan oleh Martinho Vaz, Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Disperindag Kota Depok. Martin memastikan industri pengolahan akan memberikan nilai tambah dalam perekonomian Depok. “Target kami, Depok menjadi pusat perdagangan produk olahan kelapa di indonesia, baik untuk lokal maupun internasional. Yang memiliki pusat perdagangannya sekaligus industri pengolahannya,†ujarnya.”Rencana kerja tersebut akan dikaji lagi oleh Disperindag terkait penyebarannya, yang pasti berpola home industry, dan harapannya akan ada industri seperti ini di setiap kecamatan. “Tinggal pembagian perannya saja, antara pemerintah lokal, warga, dan pembina,†tambahnya. Target Disperindag program ini sudah terealisasi tahun 2011, dan akhir tahun sudah ada yang berinvestasi. Nah, bila ada warga yang tertarik berinvestasi, silahkan saja, karena investasi ini terbuka bagi warga yang tertarik dalam rencana besar ini.”Coki Lubis“Foto: dok. The Green Coco Island-UDSR

Iwan Agustian: Semerbak Coffee Hasil Peluang dan Inovasi

MEMULAI bisnis dengan modal awal tiga juta rupiah, tetangga kita yang satu ini kini sudah memiliki lebih dari 250 outlet kopi yang tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia hanya dalam kurun waktu satu tahun. Iwan Agustian (41), pemilik Semerbak Coffee Blend, bercerita banyak tentang  perjalanan bisnisnya kepada depoklik, Senin (27/9) sore kemarin. \r\n\r\n Iwan mengawali bisnisnya dengan membuka kedai bakso. Dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa banyak pelanggan yang datang hanya untuk menikmati kopi racikan yang ia sediakan. Melihat peluang ini, pada bulan Juni 2009, tanpa ragu ia ‘banting setir’ dengan membuka sebuah outlet kopi blend bersama seorang kawan, Muazin. Seiring dengan kesuksesan outlet-outletnya di Depok, pria yang gemar memakai topi ini membuka waralaba (franchise) sebagai pilihan startegi bisnisnya.\r\n\r\nSejak memulai bisnis ini, Iwan tidak menemukan kendala yang berat. “Walaupun ada, mungkin kendala ringan di internal para mitra, seperti permasalahan sumber daya manusia,†ujarnya. Ia bersyukur semua berjalan lancar, dan berharap semua berjalan sesuai rencana. Targetnya dalam waktu dekat, ia akan mulai membuka mini bar di pusat-pusat perbelanjaan. “Saya memang tidak ingin menggunakan konsep kafe, karena itu bisa membawa bisnis saya head to head dengan Starbucks, Kopi Luwak, dan lain-lain. Saya akan tetap menjaga kelas saya,†ungkapnya. Soal menghadapi persaingan bisnis, jawabannya adalah inovasi. “Saya akan terus berinovasi untuk menghadapi kompetitor,†tegasnya.\r\n\r\nDalam bincang-bincang santai di teras rumah produksinya sore itu, kami sempat terkejut setelah mengetahui bahwa pemilik Semerbak Coffee, outlet yang menawarkan enam rasa kopi ini, ternyata bukan penggemar kopi. “Saya sejak kecil tidak pernah minum kopi, saya bukan penggila kopi. Baru beberapa tahun terakhir ini saja saya ngopi, itupun kopi blend. Saya bukan pakar kopi,†ujar Ayah dari Reza Arizaldi, Rifky Adika, dan Rasya Adzani ini seraya tertawa. Iwan mengatakan bahwa, tidak harus jadi ahlinya untuk menjalankan suatu usaha. “Yang penting bagi saya adalah manfaatkan peluang, bangun jaringan, dan manajemen yang baik ,†lanjut pria yang pandai mengolah peluang ini. Satu tips penting yang Iwan berikan sore itu bagi para wirausahawan, yaitu online di internet. “Ini sudah teruji, online marketing itu sangat membantu pemasaran,†ungkapnya.\r\n\r\nSejak awal, Iwan mengatakan bahwa pilihan hidup untuk berwirausaha ini didukung penuh oleh sang isteri, Etty Kurniawati. Ditengah semakin banyaknya outlet yang berdiri, pria ini tetap mengutamakan waktu bersama keluarga. “Karena yang saya bangun adalah sistem, biarkan sistem yang berjalan. Jadi, bisnisnya tetap jalan, owner-nya jalan-jalan,†lanjut Iwan dengan penuh canda diakhir perbincangan.\r\n\r\nCoki Lubis\r\n\r\nFoto: AN

Wisnu Gardjito: Kelapa Akan Bangkitkan Agraria Nasional

MEMPERINGATI Hari Agraria Nasional yang jatuh 24 September hari ini, depoklik menyorot profil warga kawasan yang selama ini mengabdikan diri untuk  kemajuan agraria nasional, Dr. Ir. Wisnu Gardjito, MBA, MM (50), warga perumahan Permata Duta, Sukmajaya – Depok. Dalam perjalanan di dunia akademisi, Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB yang lulus dengan cum laude ini sempat mengabdi di Departemen Perindustrian dan menjadi Project Manager Badan Pembangunan Industri Dunia (United Nations Industrial Development Organization/UNIDO) untuk Program Pembangunan Indonesia Timur. Kini, bersama peneliti lain, Wisnu memimpin Improvement Institute, sebuah lembaga penelitian dan pemecahan masalah yang berkenaan dengan agro ekonomi dan sumber daya manusia (trouble shooting management company) yang berbasis di Depok.”Dalam bincang-bincang santai di kediamannya hari Kamis (23/9), pengusaha sekaligus aktivis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis ini mengaku sejak tahun 1995 sudah mulai melirik kelapa sebagai komoditi unggulan yang akan membangkitkan agro industri nasional. Wisnu memiliki sedikitnya tujuh alasan untuk menjawab mengapa kelapa? Pertama, Indonesia memiliki luas tanam kelapa 3,7 juta hektar, saingannya hanya Filipina yang memiliki luas tanam kelapa 3,1 juta hektar. “Tetapi, Filipina basis bisnisnya adalah kapitalistik, sementara kita sosialisme, masyarakat-pun memilikinya. Maka Indonesia lebih mudah dikendalikan,†tutur pria kelahiran tahun 1960 silam.”Kedua, bila diolah dengan serius, kelapa memiliki 1600 produk akhir. Ketiga, berdasarkan ILOR (Incremental Labour Output Ratio) indutri kelapa memiliki penyerapan tenaga kerjanya tertinggi di dunia. Mulai dari proses hingga pemasaran dapat menyerap 100 tenaga kerja untuk satu pohon. Keempat, pohonnya sudah ada, tidak perlu menanam lagi. Kelima, sudah ada asosiasi dunianya. Keenam, teknologinya mudah, dan bangsa kita sudah punya, dan yang terakhir, Ketujuh, investasinya murah. “Saya saja memulainya dari modal 25 ribu rupiah, dan nilai tambah mencapai 8000%,†aku Wisnu sambil tersenyum.”Ditangan Improvement Intitute yang ia pimpin, sudah ada 65 produk kelapa yang melaju di pasar domestik dan internasional. Mulai dari kuliner, kosmetik, sampai obat. Dalam prosesnya, Wisnu Gardjito, bersama sang isteri, Vipie Gardjito, mengembangkan rumah produksi (cluster) di beberapa daerah di Indonesia. Di cluster tersebut, masyarakat diajarkan pengolahan kelapa menjadi jenis-jenis produk siap pakai yang siap dipasarkan. “Jadi, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Kami membantu memasarkannya di jaringan domestik bahkan internasional melalui koperasi bersama. Kami membantu investasi alat-alat, termasuk pelatihan-pelatihan, dan masyarakat menginvestasikan pohonnya, produknya kita masukan ke koperasi bersama,†ujar pria yang selalu tampil semangat ini.”Mengapa koperasi untuk mengolah kelapa? “Harus koperasi, karena kita tidak menganut sistem kapitalistik untuk membangun negeri ini,†jawabnya tegas. Sampai saat ini, menurut Wisnu permintaan internasional cukup tinggi untuk produk-produk ini.”Yang menjadi tantangan Wisnu dari saat memulainya sampai sekarang adalah birokrasi. “Birokrasi menjadi tantangan, aparat yang saya temui masih banyak yang sinis dan masih meremehkan, lebih parahnya ada yang hanya melihatnya sebatas proyek dalam tanda kutip, bukan program untuk negeri ini. Tapi tidak semua, ada juga yang mengerti dan bisa bekerjasama,†keluh Wisnu terhadap mental aparat pemerintahan yang kerap ia temui.”Kedepan, target Ayah dari Angela Nurul Sabila (7) dan Guardin Zidan Choiri (6) ini adalah Indonesia harus menjadi negara agrobisnis terkuat, dan saat ini beliau terus melangkah ke arah itu dengan kekuatan bersama dari kekuatan akar rumput, yaitu petani. “Plow deep while others sleep. And you will have corn to eat n to keep,†tandas Wisnu.”Wisnu Gardjito“Pendidikan :rn1. Insinyur Agronomi IPB tahun 1983rn2. MBA Finance dari Colorado University (AS) tahun 1993rn3. MBA International Management dari International University of Japan tahun 1995” Coki Lubis

IKM Depok Unjuk Gigi

Beberapa produk Industri Kecil Menengah (IKM) Depok sudah beredar di kawasan Asia Tenggara. Informasi membanggakan ini depoklik dapat dari Pameran Pekan Promosi Produk Industri Kecil Menengah (IKM) yang acaranya digelar sejak Kamis (22/7) hingga Senin (26/7) lalu di Depok Town Square (Detos). Acara yang dibarengi dengan Pemberian Penghargaan IKM Inovatif 2010 yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Kota Depok ini menampilkan 17 pengusaha IKM kreatif warga Depok. Pada pameran ini peserta terbagi dalam tiga kategori umum, yaitu kategori industri fesyen, kebutuhan rumah tangga dan kecantikan, kategori industri makanan, minuman dan bahan pangan dan kategori idustri kerajinan dan produk lainnya.”Pengunjung dapat melihat berbagai macam produk khas IKM warga Depok seperti brownies singkong atau aneka pangan dan produk kecantikan yang terbuat dari ekstrak kelapa. Bukan saja semakin mengetahui kreativitas warga Depok, tapi juga dapat membeli produk dengan harga khusus. “Kalau acara pameran seperti ini kami akan memberikan diskon dari 10% hingga 30%. Berbeda dengan di showroom yang hanya sekitar 5% itupun jika pembelian dalam jumlah besarâ€, ungkap Evi Syafariah salah satu peserta pameran yang berhasil menyabet penghargaan di kategori alat peraga pendidikan. Selain itu pengunjung juga dapat mencoba alat peraga atau makanan yang disediakan oleh setiap booth sebagai sarana promosi mereka. Sayangnya, banyak pula yang hanya sekedar mencoba tanpa membeli.”Tak sekedar pameran, lomba Tari Saman juga ditampilkan untuk menarik perhatian pengunjung. Namun, yang paling banyak menyedot pengunjung adalah saat  Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail menyempatkan dirinya untuk menghadiri dan memberikan piagam serta plakat langsung kepada para pemenang di tiap kategori.”Ya, semoga di acara selanjutnya akan semakin banyak lagi pengusaha kreatif dan berprestasi yang lahir di Depok.”Windu Puspa Ningtyas“Foto: Windu