fbpx

Ruang

Celoteh Margonda - 

First we shape the cities, then they shape us. – Jan Gehl

Kota selalu menjadi tempat ide-ide yang berbeda saling melintas untuk kehidupan yang baik, karenanya kota perlu memberikan ruang bagi bentuk-bentuk baru dari aktivisme dan citizenship yang muncul. Ruang publik mendorong budaya untuk melakukan sesuatu bersama-sama, di ruang yang kita miliki sama-sama.

Urban Civic Movement dan Urban Event

Belakangan, dari ruang-ruang kumpul komunitas warga di kawasan kita, terdengar kalimat “Urban Civic Movementâ€. Apa itu? Gerakan apakah itu?

[caption id="attachment_46728" align="alignleft" width="300"] Komunitas warga membuat “Restaurant Day” di ruang-ruang publik di Helsinki, Finlandia.[/caption]

Harapan aktivisme warga urban itu tinggi, yakni membuat kota lebih layak huni (livable) dan memperkuat rasa kewargaan (citizenship). Di Finlandia ada RESTAURANT DAY. Dimulai tahun 2011 dan sejak itu menyebar ke lebih dari 50 negara. Kalangan praktisi perkotaan menyebut acara perkotaan (urban event) ini sukses secara global.

Acara semacam ini menjadi festival satu hari yang membuat “kita†merebut kembali kota ‘kami’ dan memutar social circle ke masyarakat (komunitas) yang aktif.

Yang mengkarakterisasi urban event semacam ini adalah warga dan lahir dari kemauan. Urban event menempatkan partisipasi komunitas warga dan menekankan tanggung jawab bersama.

[caption id="attachment_46729" align="alignright" width="300"] Di Meupark, Berlin sejumlah kegiatan yang berbeda dilangsungkan, dari karaoke terbuka hingga festival layang-layang pada akhir pekan (dan terutama pada hari Minggu). Foto: Axel Kuhlmann[/caption]

Kita menyambut pop up day semacam ini untuk membuat kota yang lebih baik dan lebih layak huni. Event ini datang untuk mengisi “kekosonganâ€.

Selain dari motif individu, kita dapat melihat urban event sebagai pernyataan tentang “kota kita harus seperti ini sepanjang waktuâ€. Karnaval satu hari ini hanyalah ilustrasi, di mana ruang publik akan secara permanen ditempati reaksi dan interaksi sesama warga.

Urban Movement merangkul ruang publik dan sebaliknya. Contoh, Restaurant Day memungkinkan kita untuk nongkrong di jalan dan mengerjakan sesuatu di sana, dan pada akhirnya, itulah yang mau disampaikan urban event. Setidaknya, kota sebagai lingkungan fisik dapat dikonseptualisasikan sebagai ruang bagi komunitas warga untuk menampakkan diri atau sekadar jalani agenda pribadi masing-masing.

Kota Layak Huni

Hasil Indonesia Most Livable City Index 2014 yang dilansir oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia, menunjukan indeks kenyamanan Kota Balikpapan, Solo, Malang, Yogyakarta, Makassar, Palembang, dan Bandung berada di atas rata-rata indeks kenyamanan kota-kota secara nasional yang berada pada angka 63,62.

Dari ketujuh kota ini, Bandung termasuk sebagai pendatang baru di jajaran kota layak huni ini. Tingkat livability yang tinggi dengan ruang-ruang publik yang mulai memadai di kota kembang ini tidak lepas dari urban movement-nya, yang berhasil menempatkan seorang arsitek yang muncul dari tengah komunitas warga, Ridwan Kamil, sebagai Wali Kota yang akhirnya tampil memimpin gerakan pencapaian kenyamanan kota.

Di kawasan kita, belakangan mulai santer disebut-sebut, Urban Civic Movement. Gerakan natural warga secara buttom-up yang coba membangun kenyamanan kotanya sendiri. Namun, bagaimana dengan ruang publiknya?

Perbedaannya dengan Bandung, urban movement di kawasan kita dengan komunitas-komunitas warga sebagai lokomotifnya, dua tahun belakangan masih tampak sporadis. Namun, pada konteks kekinian, sinergi antar komunitas itu mulai terjalin. Tinggal kita tunggu, siapa yang akan muncul dari tengah warga, sosok yang mumpuni untuk memanifestasikan gerakan natural ini.

Coki Lubis

Dukung?

[caption id="attachment_43638" align="alignright" width="300"] ilustrasi: ist./net[/caption]

Kini semakin dapat disimpulkan karakter bangsa kita perihal dukung-mendukung alias karakter suporter. Fanatisme cenderung mewarnai sikap suporter di negeri khatulistiwa ini. Tidak hanya di dunia sepakbola lokal, namun, dukung-mendukung Calon Presiden (Capres) pun juga begitu.

Lucunya, suporter Capres bisa lebih fanatik dibanding dukung-mendukung klub sepakbola lokal. Terlepas latar belakang politik dan ideologi, belakangan, ramai jadi perbincangan khususnya di dunia maya atau jejaring sosial (sosial media) tentang bela-membela yang berakhir dengan debat seru. Bahkan hingga unfriend atau unfollow antar teman, seperti di ulas di salah satu stasiun televisi swasta beberapa waktu lalu. Hebatnya, ini bukan persoalan uang yang didapat.

Bagi saya, itu bukan masalah dan dapat dilihat dalam kerangka dinamika sosial. Namun, yang menjadi keprihatinan ketika para suporter tidak lagi berlaku selayaknya pendukung yang diharapkan publik. Artinya, para suporter terjebak dalam saling menjatuhkan jagoan lawan. Padahal, ini adalah momen politik, dimana dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai momen pencerahan berdemokrasi yang diharapkan konstruktif atau positif.

Apakah terbutakan oleh fanatisme dan obsesi kemenangan yang kebablasan atau paranoid berlebihan saat lawan menang? Sehingga yang jelas terlihat adalah jatuh-menjatuhkannya, bukan penguatan program si jagoan.

Sebagai contoh, saya pernah bertanya kepada lebih dari tiga suporter salah satu capres, yang dinilai populer di kurun waktu satu tahun belakangan. Saya bertanya, apa yang membuat dirinya mendukung keras sang calon? Suporter tersebut pun menjabarkan penilaiannya terhadap sang Capres termasuk kisah dan latar belakangnya yang hebat.

Namun sayang, ketika ditanya tahukah program maupun visi misi jagoannya pada momen ini? Si suporter pun terdiam dan beralih ke pembicaraan kisah mengagumkan jagoannya ditambah deretan keburukan jagoan lawan.

Begitu pula dengan suporter lainnya yang mendukung capres lainnya, yang hanya mengetahui garis besar program si capres. Yang banyak terlontar justru tangkisan-tangkisan terhadap isu miring yang dilontarkan pendukung capres lainnya.

Sekali lagi saya katakan, padahal, ini adalah momen penting menebarkan pendidikan demokrasi yang baik di bangsa ini. Yang diharapkan adalah saling mempertahankan kehebatan berbasis program. Ya, inilah gambaran besar gaya dukung-mendukung Capres di negeri ini, yang cenderung terbutakan oleh fanatisme.

Saat berbincang santai seraya menikmati kopi sore dengan salah seorang teman, yang juga salah satu pimpinan media massa nasional, ia sempat mengatakan kepada saya tentang situasi dukung mendukung yang terbutakan fanatisme ini.

“Kotoran burung yang jatuh di kepala kita pun, itu adalah salah capres lawan.â€

Coki Lubis

Kopi Liong

Celoteh Merdeka 21

Tak perlu pencitraan, branding di sana-sini, berkompetisi cari perhatian atau menyesakkan lini masa di era informasi yang sudah overload. Bila memang sudah disuka, tentu mejadi pilihan utama, bahkan dicari-cari.

Yang sedang saya bicarakan adalah Kopi Liong Bulan, kopi kegemaran saya, kopi klasik nan legendaris asal Kota Bogor. Bukan tak dikenal orang, namun memang limited edition, hanya beredar di Bogor dan sekitarnya, termasuk kawasan kita, Depok. Bahkan, sebagian orang Depok pun mungkin belum mengetahuinya.

Kopi berbungkus kertas sampul cokelat bertagline “Kopi Tulen†ini sering disebut kopi kampung oleh beberapa teman yang menyukai kopi barat. Entah memang dirinya penikmat kopi barat, atau sekadar lambang gengsi. Namun, secara subjektif saya mengatakan, yang bergengsi itu justru yang sulit ditemukan alias limited edition tadi, tidak pasaran dan dimana-mana ada.

Biasanya, penikmat si hitam pekat ini tak hanya mengenal rasanya, namun juga mengenal cerita dan kisahnya. Penikmat kopi ini pasti mengetahui secara persis bahwa kopi ini hanya beredar di Bogor dan sekitarnya, termasuk di warung-warung kecil di Depok. Jadi, si Liong yang harganya seribu perak per bungkus ini, menurut saya lebih bergengsi.

Lepas dari persoalan gengsi, kopi ini memang nyatanya nikmat dan cukup kuat rasanya. Bagi saya, kopi khas Buitenzorg ini memang tiada duanya. Hitam pekat, murni biji kopi tanpa campuran biji jagung atau lainnya.

Kejahilan saya dalam berselancar di dunia maya pun terpancing, dengan menulis K O P I L I O N G di tubuh Paman Google. Ternyata, cerita dari para bloger tentang kopi ini cukup mengasyikan, mulai dari tulisan berjudul si Pekat Pemikat Ide, hingga testimoni lainnya di sosial media.

Di antara testimoni itu, ada cerita tentang orang Jakarta yang minta tolong dibawakan Kopi Liong oleh temannya yang tinggal di Depok, ada pula yang berbagi tips cara tepat menikmati kopi legendaris ini.

Tak hanya klasik, tradisonal atau pun legendaris, kopi Liong Bulan ini bisa dikatakan merata dinikmati berbagai kalangan sosial, baik sebagai teman istirahat pekerja bangunan di Depok, tukang ojek, hingga orang kantoran. Kantoran yang mana? Ya, paling tidak rekan-rekan kerja saya, termasuk para bloger hasil penelusuran saya tadi. Satu lagi, bila kita telusuri lagi di search engine, komunitas penikmat Kopi Liong ini saja ternyata ada.

Mengulang pesan di awal tulisan, tak perlu pencitraan, branding di sana-sini, berkompetisi cari perhatian atau menyesakkan lini massa di era informasi yang sudah overload. Bila memang sudah disuka, tentu mejadi pilihan utama, bahkan dicari-cari. Mengapa? karena, sejatinya sesuatu yang tak nyaring berbunyi tentu padat isinya.

Ini bukan iklan Kopi Liong, hanya sekedar celoteh Kopi Liong, atau yang biasa diucapkan oleh seorang rekan kerja saya dengan istilah “Filosofi Kopi Liongâ€. Ya, salah satunya seperti tulisan ini, tanpa diketahui si pemilik produk, saya pun sudah seperti mempromosikannya.

Coki Lubis

Sarkastik

Sindiran Marcus Tullius Tiro, sekretaris pribadi Cicero, sang negarawan pada masa Romawi Kuno, yang termuat dalam novel Imperium dan Conspirata karya Robert Harris, menarik bagi saya. Kata Tiro, bagi kebanyakan politisi mengurus negara hanyalah mengisi waktu luang di antara dua pemilu.

Semoga saja maksud sindiran ini tidak terjadi di Indonesia.

Tak ada yang salah dengan Pemilihan Umum (Pemilu)-nya, namun yang jadi pertanyaan, mengapa semakin lama partisipasi warga menurun. Secara umum, beberapa kawan yang saya temui mengatakan, tidak ada perubahan yang signifikan dari orang-orang terpilih.

Ada yang salah dengan politisinya dan Partai Politik?

Politik kepentingan yang berorientasi kekuasaan dan ekonomi memang tampak jelas mendominasi di era kekinian. Mungkin itu sebabnya, karena beberapa hasil penelitian dan survei muncul dan menunjuk pada rendahnya kepercayaan warga terhadap Partai Politik.

Poltracking Institute mengeluarkan hasil survei yang menunjukkan rendahnya party ID, angkanya hanya 19 persen (Oktober 2013). Survei Charta Politika Indonesia malah lebih rendah lagi, hanya 13,5 persen (Desember 2013).

Party ID adalah identitas kepartaian, yang menjadi cara untuk membaca kedekatan antara pemilih dan partai politik. Jadi, hasil ini bukan menunjukkan warga tidak percaya demokrasi dan Pemilu lho, namun rendahnya kepercayaan terhadap Partai Politik yang notabene peserta Pemilu.

Buktinya, saat saya bincang santai dengan ketua komunitas Oi (Organisasi fans Iwan Fals) Depok, Sopian, ia mengatakan justru demokrasi dan Pemilu harus diselamatkan. Karena, kata dia, bila kepercayaan pada demokrasi atau Pemilu runtuh, keadaan akan semakin memburuk. Entah buruk yang seperti apa yang dimaksud, namun, tentu hal yang tidak kita harapkan dalam berbangsa.

Memang betul, kita tidak bisa untuk menjadi cuek atau apolitis. Parpol barangkali tidak menarik. Tetapi publik tetaplah penting memiliki ketertarikan kepada kebijakan yang diambil politisi, karena berpengaruh luas kepada masyarakat banyak

Namun, bila kondisinya seperti itu, siapa yang bisa dipilih? Entahlah, saya bukan pakar atau pengamat politik yang sering menjawab pertanyaan ini dengan “pilih yang terbaik menurut Andaâ€. Tapi setidaknya memang itu yang bisa kita lakukan, memilih wakil-wakil yang terbaik menurut kita, dari pilihan Parpol peserta Pemilu, yang menurut survei  tidak lagi menarik bagi sebagian besar orang.

Tapi perlu juga diingat, politikus pun tak selalu tidak idealis seperti ekspektasi kita, mungkin saja aturan main di tubuh partai politik membatasi gerak seorang politikus. Belum lagi posisi strukturalnya di dalam organisasi kepartaian. Atau mungkin Parpol baik programnnya dan idealis, namun politikusnya yang “bergenit-genit politikâ€. Ya sudah tentu kita ingin yang baik kedua-duanya.

Artinya, semua pihak di arena politik Indonesia kini memiliki Pekerjaan Rumah yang cukup berat, yakni meningkatkan Party ID tadi, salah satunya dengan menurunkan dominasi politik kepentingan yang berorientasi kekuasaan atau ekonomi, dan menajamkan kembali orientasi kebangsaan. Jangan sampai demokrasi dengan sistem politik yang mahal ini tak berkontribusi pada kemajuan, atau bahkan malah mundur.

Paling tidak, jangan sampai sindiran Tiro melekat erat dalam dunia politik Indonesia.

Coki Lubis