fbpx

[Video] Forum Komunitas Hijau; Berkolaborasi Kampanyekan Gaya Hidup Pro Lingkungan

Pola pergerakan warga perkotaan untuk kota yang lebih baik melalui komunitas kini telah sampai pada titik kolaborasi. Di Kota Depok, Forum Komunitas Hijau (FKH) Depok menjadi bukti kolaborasi antar komunitas yang tak henti mengampanyekan gaya hidup peduli lingkungan.

Lahirnya komunitas berwawasan lingkungan bukan tanpa alasan, permasalahan seperti  Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang minim, pemborosan energi dan lain lain menjadi alasan bagi masyarakat untuk berkumpul dan menyikapinya.

Sebut saja komunitas Earth Hour Depok, Depok Berkebun, Pokja Situ (Danau) dan beberapa komunitas sepeda yang menggabungkan diri dalam satu forum bersama tersebut. Meski memiliki visi atau misi yang berbeda, namun warga yang tergabung di dalamnya menilai komunitas tersebut memiliki tujuan yang sama, Kota Depok yang lebih baik, layak huni dan pro lingkungan.

Berjalan bersama selama satu tahun, FKH telah melahirkan banyak kegiatan yang menjadi landmark gerakan warga pro lingkungan, seperti Festival Situ Depok serta sejumlah workshop berwawasan lingkungan yang menjadi program rutinnya.

Bergabungnya pelajar di dalam kolaborasi besar komunitas ini, mendorong FKH membentuk sayap kolaborasi baru di kalangan muda, yakni FKH Muda.

Berikut paparan tentang FKH Depok dari seorang warga yang berprofesi sebagai landscaper, Heri Syaefudin atau akrab disapa Heri Blangkon, yang didaulat sebagai koordinator kolaborasi ini.

http://youtu.be/asOxeOmIO-c

Casandra Gitaputri/Hes

[Video] Institut Musik Jalanan; ‘Melawan’ dengan Cara Terhormat

Tidak semua pengamen dan anak jalanan bisa dicap “pemalas“. Meski berasal dari golongan keluarga tidak mampu dan diantaranya putus sekolah, namun sebagian besar memang memiliki talenta dalam bermusik. Problemnya adalah, kesempatan dan ruang berkarya tidak berlaku ramah pada mereka karena cap tadi. Dan ini lah cara musisi jalanan di Kota Depok “melawan†aturan yang “memenjara†dan kerasnya kehidupan.

Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok No. 16 tahun 2012 tentang larangan memberi uang kepada pengemis / pengamen dan anak jalanan dianggap tak berkonsep, karena tidak ada solusi yang menyelesaikan masalah sosial atas itu. Sementara, di lapangan, pengamen / anak jalanan tidak lagi memiliki ruang untuk menyalurkan talenta bermusik yang mereka miliki, dan lebih jauh lagi persoalan bertahan hidup.

Tidak diam, musisi jalanan pun melawan kondisi ini dengan cara terhormat. Berkumpul dan berjaring bersama aktivis dan seniman lainnya, mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) sebagai jawaban.

Bukan juga sekadar tempat singgah, namun IMJ menjadi kawah candradimuka-nya karya jalanan. Album berjudul “Kalahkan Hari Ini†yang dirilis Agustus 2014 lalu dan berdirinya Kedai Ekspresi sebagai fund-raising, adalah bukti nyata keberhasilan jangka pendek IMJ.

Kini, IMJ tidak lagi sendirian. Dukungan dan suara komunitas warga di Depok terus menggelembung, memperkuat gerakan IMJ. Kedai Ekspresi pun kini menjadi ruang publik, sentra kumpul komunitas di kawasan Depok yang dinilai menjadi salah satu fondasi peningkatan livability kota.

Berikut “suara jalanan†Andi Malewa, Founder IMJ.

http://youtu.be/MWiukod5K8A

Casandra Gitaputri/Hes

[Video] Depok Heritage Community; Jangan Hilangkan Jejak Sejarah Depok!

Berkembangnya sebuah kota tidak terlepas dari sejarahnya. Namun, tak banyak orang yang mengetahui tentang sejarah kota yang ditempatinya.

Komunitas warga Depok yang fokus pada pelestarian budaya dan sejarah, Depok Heritage Community (DHC) melihat sisi keistimewaan dari sejarah Kota Depok. DHC menilai, situs-situs dan dokumen sejarah, yang selama ini teracuhkan, perlu di data kembali dan dilestarikan.

Tak hanya berkolaborasi dengan komunitas warga lainnya, DHC juga aktif melibatkan diri dalam instansi nasional yang terkait, seperti Asosiasi Museum Indonesia (AMI), perpustakaan nasional dan lain lain. Hal ini dimaksudkan agar sejarah dan budaya Kota Depok bisa dikenal hingga ke seluruh Indonesia.

Kolaborasi DHC, komunitas dan instansi yang berkenaan dengan sejarah ini dilakukan karena kurangnya respon dan dukungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Bahkan, kurang seriusnya Pemkot Depok dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah peninggalan bersejarah yang tak terawat bahkan ada yang dihancurkan atas nama pembangunan.

Meski belakangan Pemkot sudah mulai merespon pelestarian ini, namun DHC dengan dukungan sejumlah pihak tak henti menyuarakan dan terjun langsung melakukan pelestarian dan pendataan situs serta dokumen sejarah Depok, baik sejarah di masa kolonial maupun sejarah budaya pribumi.

Apakah kita hanya akan meninggalkan cerita tanpa bukti pada generasi seterusnya tentang Kota Depok? Tentu tidak! Ini lah yang membuat Ratu Farah Diba selaku Koordinator DHC angkat suara soal hal ini dan bercerita seputar komunitasnya.

Casandra Gitaputri/Hes

[Video] Forum Kesatuan Pelajar Depok; Stop Tawuran!

Saat melihat berita tawuran pelajar, seolah buruknya sifat remaja saat ini seketika tergambar di benak. Urakan dan gampang tersulut emosi menjadi cap baru bagi kaum terdidik ini. Apalagi kini, paling tidak di kawasan kita, angka tawuran pelajar meningkat.

Namun, setitik harapan muncul saat sekelompok pelajar gencar menyuarakan Stop Tawuran! Pelajar-pelajar ini menyatukan diri dalam sebuah komunitas, yaitu, Forum Kesatuan Pelajar Depok (FKPD), yang merupakan afiliasi anggota OSIS dan MPK yang masih aktif dari berbagai sekolah di Depok.

FKPD memegang kuat prinsipnya, yakni A5, Anti Tawuran, Anti Seks Bebas, Anti Merokok, Anti Narkoba dan miras serta Anti Mencontek. Prinsip yang telah dideklarasian ini tak henti-henti dikampanyekan oleh FKPD.

Selain aktif mengurai problematika di kalangan pelajar,FKPD juga aktif di bidang lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan menanam 1000 pohon pada Maret 2014 lalu.

Tapi sangat disayangkan apabila pergerakan FKPD terhambat karena kurangnya ruang publik yang bisa dipergunakan untuk berkumpul serta mengampanyekan A5 dan program lainnya. Taman kota dan perpustakaan, yang diharapkan dapat menjadi ruang bersinergi antar pelajar dan komunitas lainnya, dirasa masih minim.

Agus Dwi Nur Santoso, Ketua FKPD, turut angkat bicara tentang hal ini. Melalui sebuah interview di Rumah Komunitas, Agus bicara tentang FKPD, harapan pelajar Depok dan ruang publik.

Casandra Gitaputri/Hes

[Video] Madrid Indo Depok; Dari Ruang Publik Kawal Klub Kebanggaan

Menyaksikan pertandingan sepakbola, apalagi klub kebanggaan, tentu semakin seru bila ramai-ramai dibanding nonton sendiri di rumah. Tak heran bila kini banyak fans club sepakbola menggabungkan diri dan membuat sebuah komunitas. Tak hanya persoalan nonton bareng, para fans club ini pun dapat bertukar informasi dalam komunitasnya.

Contoh saja Rẻal Madrid, sebuah klub besar asal Madrid, Spanyol yang berdiri sejak tahun 1902. Dengan 31 kali gelar juara La Liga dan 9 kali juara Piala Eropa/Liga Champions UEFA, membuat Real Madrid memiliki fans besar yang tersebar di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, yang menamakan diri Pẻna Rẻal Madrid Dẻ Indonesia.

Di kawasan kita sendiri, warga penggemar Real Madrid menggabungkan diri dalam sebuah komunitas di bawah Pẻna Rẻal Madrid Dẻ Indonesia, yaitu Pẻna Rẻal Madrid Dẻ Indonesia Regional Depok atau biasa disebut Madrid Indo Depok.

Sama halnya dengan komunitas lain, gathering Madrid Indo Depok pun dilakukan secara rutin, baik saat nonton bareng (nobar) pertandingan Real Madrid maupun sekadar bermain futsal bersama hingga diskusi. Hal ini biasanya dilakukan di arena-arena futsal di kawasan kita atau pun dari kafe ke kafe. Maklum, ruang publik di Kota Depok masih dirasa minim.

Kondisi ini lah yang mendorong Madrid Indo Depok turut angkat bicara soal ruang publik yang layak dan mudah di akses untuk kumpul komunitasnya.

Berikut hasil interview Rumah Komunitas dengan Ketua Regional Madrid Indo Depok, Angga Septian.

Casandra Gitaputri/Hes