fbpx

Andi Gunawan, Siap Mewarnai Sastra Indonesia

Di balik penampilan preppy-nya, Andi Gunawan adalah sosok yang sangat ramah dan sederhana. Tak perlu berbincang lama untuk tahu bagaimana sastra dan seni mengalir dalam diri pemuda 22 tahun yang juga warga Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Kepada depoklik, penulis buku kumpulan prosa “Kejutan!†ini bercerita banyak mengenai hidup dan kecintaannya terhadap bahasa.

\\r\\nDua Puluh Empat Jam Sehari\\r\\n\\r\\nHanya sempat empat semester mengenyam pendidikan Komunikasi Massa di FISIP UHAMKA, Jakarta Selatan, Andi tetap dapat membuktikan bahwa faktor ekonomi sama sekali bukan halangan. Kini ia bekerja di PT. Intuisi Karya Pratama sebagai wartawan untuk tiga media cetak, yaitu Thawaf Magazine, Mutiara News, dan tabloid What’s In Bali.\\r\\n\\r\\nTak cukup dihantam jam lembur dan mengasuh empat orang keponakannya yang masih kecil-kecil, ia masih menyisakan waktunya sebagai relawan di Akademi Berbagi Jakarta, sebuah gerakan sosial bidang pendidikan non-formal. Di sela-sela kesibukannya, blog-nya Opera Aksara pun tak pernah ia telantarkan. Sepertinya, memang bukan Andi namanya jika tumbang sebelum benar-benar kehabisan energi.\\r\\n\\r\\nAndi dan Sastra\\r\\n\\r\\n“Sejak SMP saya gemar menulis, tanpa tahu apa yang saya tulis,†tutur Andi. Awalnya ia menulis puisi, yang pertama dikenalnya melalui karya Chairil Anwar dari guru Bahasa Indonesia SMP-nya. Kemudian, tulisannya berkembang menjadi berbagai karya prosa yang dipajangnya di berbagai tempat—facebook, blog, dan berbagai situs lain, termasuk Kompasiana. “Menulis dan dibaca oleh orang lain ternyata menimbulkan afeksi yang entah-apa-namanya-tetapi-mirip-candu,†akunya.\\r\\n\\r\\nKetimbang modern-pop, Andi lebih memilih membaca karya modern-klasik. Karya lawas banyak menjadi favoritnya. “Saya salut pada sajak mbelingnya Remy Silado. Saya mengagumi puisi-narasi-nya Sapardi Djoko Damoni. Saya mencintai kelembutan sajak Aan Mansyur. Untuk prosa, saya menggilai Pramoedya Ananta Toer,bernas. Sekarang, saya sedang gemar membaca esai-esai Linda Christanty,†demikian Andi mengungkapkan tokoh-tokoh sastra yang banyak menjadi inspirasinya.\\r\\n\\r\\nSelain nama-nama tersebut, ada satu nama lagi yang selalu harus ia sebut meski menurutnya mungkin bukan penulis: Gus Dur. “Beliau memberi banyak hal ke dalam kepala saya. Semangat pluralismenya adalah hal yang ingin saya jaga.â€\\r\\n\\r\\nKejutan! dan Impian\\r\\n\\r\\nBerawal dari mendaftarkan diri dalam program 99 Writers in 9 Days yang digelar oleh sebuah penerbitan pada bulan Oktober 2010, Andi mengumpulkan 20 judul prosa yang pernah ditulisnya, dan Voilà!—begitu ia berseru—“anak†pertamanya dengan judul “Kejutan!†pun lahir dan siap dibaca. “Sesuatu yang terlanjur basah,†tukas Andi setengah berkelakar.\\r\\n\\r\\nTak lama kemudian, Andi keluar dari penerbitan tersebut dan mencetak ulang bukunya sendiri. Buku tersebut ditawarkannya sendiri dari mulut ke mulut. “Akhirnya sampailah ke seorang editor di Yogyakarta yang berniat membuat penerbitan sendiri, Daniel Prasatyo. Ia menawarkan menerbitkan ulang ‘Kejutan!’ dengan perubahan kemasan dan penambahan konten,†kisahnya, “total kini berisi 40 prosa, dengan selipan beberapa ilustrasi yang digambar tangan oleh kawan di Jogja, Gita Listya.â€\\r\\n\\r\\nNamun, Andi tak lantas begitu saja merasa puas. Diam-diam ia mempunyai keinginan membentuk Kelompok Baca Sastra. “Ada banyak pendidikan menulis, tetapi tak banyak belajar membaca,†ujarnya. Selain itu, ia juga berimpian memiliki media cetak sendiri, entah koran atau majalan. “Yang pasti, kontennya bukan gosip terkini selebriti,†selorohnya—tapi saya tahu ia serius.\\r\\n\\r\\nDisa Tannos\\r\\nFoto: Suryo Brahmantyo

Anna Margret, Dosen Politik Bersepatu Lari

Cara Anna Margret bercerita kepada depoklik menunjukkan bagaimana ia memiliki passion yang sangat besar terhadap olahraga lari.\r\n\r\nSesekali ia tertawa lepas dengan wajah berseri-seri. Lalu, bagaimana Anna terjun ke dunia lari yang dulu tak pernah digelutinya, dan apa yang membuatnya jatuh cinta?\r\n\r\n \r\n\r\nDari 3 Menit ke Runner‘s High\r\n\r\nSebelum mengenal dunia lari, Anna Margret hanya seorang wanita 30-an biasa, yang hanya bertahan di atas treadmill selama tiga menit. Juga selalu minta tugas kliping tambahan tiap ujian atletik di sekolahnya dulu.\r\n\r\nKini, dosen Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia justru ‘kecanduan’ lari. Gandrungnya Anna pada dunia lari dimulai awal 2010 dari ajakan seorang teman yang dikenalnya di sebuah gym. Meski awalnya ragu karena pernah mengalami cedera, Anna justru merasakan kesenangan tersendiri ketika sudah mencoba.\r\n\r\n“Belakangan baru tahu ada yang namanya runner’s high,  yaitu ketika hormon endorfin keluar,†jelas Anna. “Pernah coba olahraga lain,tapi rasanya beda dari lari. Lari itu paling bikin happy. Tapi istilah runner’s high memang cuma ada di lari,†lanjutnya.\r\n\r\nAdination of Runners Indonesia\r\n\r\nBegitu cepat jatuh cinta pada olahraga lari membawa Anna menjadi salah satu duta Adination of Runners Indonesia, yaitu sebuah komunitas lari yang dengan sengaja bermaksud mengajak pelari-pelari baru—baik yang baru menyukai lari ataupun baru mau mencoba. Komunitas ini diluncurkan pada akhir bulan Oktober 2010, dengan Adidas sebagai supporter.\r\n\r\n“Kami difasilitasi untuk ketemu tiap Minggu pagi, dan tiap lari disediakan air minum dan pisang,†jelas Anna. Bersama keempat duta lainnya Pasha Yudadibrata, Heru Hendrajito, Muara Robin Sianturi, dan Erwin Wibowo, Anna ingin mengajak sebanyak mungkin orang untuk berlari.\r\n\r\nBagi Anna, yang paling penting dalam berlari adalah kemauan untuk meluangkan tenaga dan waktu. “Kalau aku yang baru berlari di usia 30 tahun lebih saja bisa, apalagi orang lain? Ini nggak cuma propaganda kosong tapi memang bukti. Karena kan nggak langsung ‘digeber’, mulai pelan-pelan, lalu baru pakai target waktu dan jarak,†jelasnya.\r\n\r\nAnna dan Dunia Lari\r\n\r\nMengapa Anna sangat mencintai lari? “Lari bikin awet muda. Ketahanan tubuh dan konsentrasi juga lebih baik. Untuk kerja lebih rileks, dan jam produktif jadi lebih panjang. Kalau habis lari jarak pendek (di bawah 15 kilo. red), malamnya pulang kerja bisa lebih lama terjaga,†jelasnya.\r\n\r\nBagi Anna, berlari sama seperti men-charge baterai. “Ada saatnya saya bangun pagi dan malas lari, lalu tidur lagi. Tapi di hari-hari lain, kadang sedang sakit pun saya memaksa lari. Kadang tambah ambruk, kadang malah sembuh. Itu rasanya kalau melakukan sesuatu yang kita senangi,†cerita Anna sambil tertawa.\r\n\r\nAnna mengakui bahwa lari selalu menjadi pelampiasannya ketika mood sedang kacau atau banyak pikiran. “Jadinya ringan banget; bebas, lepas. Dan memang ada penjelasan ilmiahnya yaitu hormon endorfin,†jelasnya. Sadar bahwa mood lari bisa muncul kapan saja, sepatu lari merah muda tak pernah lepas dari kakinya. “Beruntung di UI, kapan pun mau lari tinggal lari,†tukasnya.\r\n\r\nIa pun tak ambil pusing meski merasa tak jago berlari. “Tempo saya lambat,†akunya. Meski begitu Anna tetap rajin mengikuti berbagai kejuaraan lari, bahkan pernah meraih juara III. “Tapi saya masih yakin itu karena pesertanya kurang,†selorohnya sambil tertawa lepas.\r\n\r\nYang lebih membanggakan bagi Anna justru keberhasilannya mencapai garis finish tanpa terjatuh dan pingsan pada marathon pertamanya pada bulan Mei 2011. “Sampai garis finish terharu norak gitu, tahu dulu seperti apa, seantipati apa saya terhadap lari. Ternyata nggak  ada yang mustahil,†ungkap Anna dengan wajah berseri-seri.\r\n\r\n \r\n\r\nDisa Tannos

Inilah Dokter Pertama di Depok

Dokter merupakan profesi yang sangat vital dalam sebuah wilayah kependudukan. Informasi kesehatan sampai pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan merupakan hal utama yang menjadikan betapa penting kehadiran seorang dokter.rnrnMenarik bila kita mengetahui perjalanan seorang dokter yang merupakan dokter pertama yang ada di kawasan kita, setelah sebelumnya warga pribumi di Depok ini mengandalkan tabib tradisional.rnrnBeliau adalah dr. John Wilhelm Karundeng atau yang lebih dikenal dengan nama dr. Karundeng, adalah dokter pertama di Depok. Lahir di Mojokerto pada tanggal 19 Juni 1932, dr. Karundeng juga mantan pejuang perang di masa kemerdekaan RI.rnrnPria ini mengenyam pendidikan di Europesche Lagere School (ELS) Purwokerto tahun 1938, Dai Ichi Sjogako (Sekolah Jepang) Palembang tahun 1943, dan MULO Palembang tahun 1945, kemudian di tahun yang sama ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Palembang.rnrnSemasa Kecil Dr. JW. Karundeng terbiasa dalam kehidupannya berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah dikarenakan orang tuanya, yaitu Ernest Karundeng adalah seorang Kepala Stasiun pada Perusahaan Negara Kereta API (PNKA) pada saat itu (Sekarang PT. KAI/red), yang memang selalu berpindah-pindah semasa tugasnya.rnrnPada tahun 1953, JW Karundeng mengenyam pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sampai dengan semester akhir, dan beliau ditugaskan ikut sebagai tenaga pengajar di Makasar sehingga beliau menyelesaikan gelar Dokternya di Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makasar. Tahun 1963 beliau kembali ke Ibu Kota dan bertugas di RS Cikini Jakarta sebagai Dokter Full Time sampai dengan akhir tahun 1964.rnrnDiawal tahun 1965 dr. JW Karundeng diminta Departemen kesehatan Jakarta untuk bertugas menjadi dokter di wilayah kewedanaan Depok (sekarang Kota Depok/red) sampai beliau pensiun tahun 1994.rnrndr. JW. Karundeng adalah dokter pertama di Kota Depok yang telah banyak memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat Depok dan sekitarnya, jabatan demi jabatan pernah beliau emban semasa bertugas di Kota ini, beliau juga pernah menjabat kepala Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kab. Bogor tahun 1980-1989, semasa Depok masih menjadi Kota Administratif.rnrnMenurut redaksi depoklik, pria ini merupakan salah satu tokoh legendaris di Depok.rnrnrnBiodatarnNama : JOHN WILHELM KARUNDENGrnGelar  : DokterrnTempat, Tgl Lahir : Mojokerto, 19 Juni 1932rnAlamat Tinggal : Jl. Citayam Raya No. 12 B,C,D,E Depok Lama, Kota Depok, Jawa Barat.rnRiwayat pendidikan :rnrn1. Europesche Lagere School (ELS) Purwokerto 1938rn2. Dai Ichi Sjogako (Sekolah Jepang) Palembang 1943rn3. MULO Palembang 1945rn4. Sekolah Militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Palembang 1945rn5. SMA N 1 Palembang 1951rn6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1953 s.d. semester akhir.rn7. Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makasar 1963.rnrnIstri   : Ny. Marlie Karundeng-SoedirarnAnak :rnErnts Victor Karundeng, SHrnIr. Johannes Eduard KarundengrnDr. Dicki Julianus KarundengrnDonald Oscar Karundeng S.Sos. M.Si.rnDr. Mario Kristiaan KarundengrnrnWafat : Depok, 23 Nopember 1995 (dimakamkan di Taman Makam Nasional Kalibata)rnrnPengalaman Jabatan :rn

      rn

    1. Kepala Puskesmas Depok (1967 – 1979)

rn

  • Kepala Puskesmas Tjimanggis (1967 – 1979)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Sawangan (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Parung (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Gunung Sindur (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Pondok Tjina (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Ling-kes Kanwil Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (1974 – 1979)

 

rn

  • Kepala Rumah Sakit Harapan Depok (1967 – 1980)

 

rn

  • Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kab. Bogor (1980 – 1989)

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Hamengku Karya Depok.

 

rn

  • Penanggung jawab Klinik Mekar Sari Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Pancaran Kasih Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Budhi Jaya Depok.

 

rn

  • Penanggung jawab Klinik Anugrah Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Rumah Bersalin Sumber Bahagia Depok.

 

rn

  • Pendiri Yayasan Pendidikan 66 Depok.

 

rn

  • Ketua Umum Legiun Veteran RI Kota DepokrnrnrnTanda Penghargaan :rn1. Surat Tanda Jasa Pahlawan Oleh Presiden Soekarno.rn2. Bintang Gerilya No. 82584/1958.rn3. Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I No : 202314/1958.rn4. Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II No : 202314/1958.rn5. Satyalencana Gerakan Operasi Militer III No : 36004/1959.rn6. Satyalencana Gerakan Operasi Militer IV No : 222508/1959rn7. Penghargaan dari perusahaan Negara Kereta Api dalam peristiwa Kecelakaan Kereta I di Depok, Bulan September 1968.rn8. Penghargaan Gabungan Bridge seluruh Indonesia (GABSI) No : 0900/SEKMA/K-IX/1974.rn9. Penghargaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) No : 090/SEKMA/K-IX/1974.rn10. Penghargaan Bupati Bogor No : III/303/T.U/1974 tanggal 13 Juli 1974.rn11. Penghargaan Bupati Bogor No : 104/A-IV/1979 tanggal 22 Desember 1979.rn12. Penghargaan Walikota Depok Tanggal 17 Agustus 1995.

 

rn

rnCLrnrnSumber: http://www.facebook.com/groups/drjhonwilhelmkarundeng/

Ketika Memutar Pulpen Bukan Sekadar Pengusir Bosan

Memainkan atau memutar-mutar pulpen atau pensil di tangan mungkin sesuatu yang biasa dilakukan di dalam kelas atau di tengah rapat. Namun, tetangga kita yang satu ini menyulap aktivitas iseng ini menjadi sebuah atraksi yang mencengangkan.rnrnDia adalah Gland Satriavianto, warga Jalan Pekapuran, Kelurahan Sukatanni, Tapos, Depok, Jawa Barat yang sudah terbiasa berakrobat dengan pulpen dalam ratusan trik berbeda. Jumat (15/7) malam lalu, pria kelahiran Jakarta, 21 tahun silam ini telah membuat depoklik tercengang melihat pulpen yang menari-nari di jarinya.rnrnGland, yang kini menjadi moderator forum Komunitas Pen Spinning Indonesia, mengaku mulai tertarik dengan aksi pen spinning sejak menonton sebuah video di Youtube. Merasa tertantang, Gland giat mencari tutorial via internet dan berlatih mulai dari trik-trik dasar, seperti thumb around, charge, sonic, dan fingerpass.rnrnDengan menguasai 150 hingga 200 trik, Gland pernah mengikuti kejuaraan internasional Universal Pen Spinning Tournament, yang digelar oleh Amerika dan Kanada pada Februari 2011. Saat itu, ia berhasil lolos hingga ke babak semifinal. “Hingga kini, baru Jepang dan Cina yang pernah menggelar kejuaraan internasional,†jelas Gland. Kejuaraan ini biasanya digelar secara online, dengan mengunggah video atraksi Pen Spinning dan kemudian dinilai oleh tim juri.rnrnUntuk melakukan Pen Spinning dibutuhkan pulpen khusus, kecuali untuk trik-trik dasar. “Kalau pakai pulpen biasa, nggak dapet momentumnya,†jelas Gland. Pulpen tersebut dibuat dengan menggabungkan bagian-bagian tertentu dari beberapa pulpen biasa yang tintanya telah dibuang. Jika dijual, kisaran harga pulpen modifikasi yang dibuat sendiri untuk Pen Spinning berkisar pada harga Rp 100.000 hingga Rp 300.000.rnrnMeskipun terlihat sederhana hanya dengan modal sebuah pulpen, dibutuhkan niat, fokus, dan latihan rutin untuk dapat menguasai trik-trik Pen Spinning. “Banyak yang minta diajarin, terus bosan,†aku Gland. Padahal, untuk menguasai satu trik saja dibutuhkan cukup banyak perjuangan. Selain berlatih, lanjut Gland, sebaiknya mereka yang ingin bisa harus perbanyak sharing dengan komunitas, nonton atau upload video, latihan trik-trik baru.rnrnSebagai moderator forum, Gland mengakui sangat berharap agar Komunitas Pen Spinning dapat lebih dikenal di Indonesia, khususnya di Depok.rnrnTertarik bergabung? Silakan kunjungi halaman Facebook: Indonesia Pen Spinning Board, atau forum:  http://ipsb-online.co.cc.rnrn rnrnDisa TannosrnrnFoto: Disa

Farida Rachmayanti: Keluarga Kecil Saya Adalah Tim Yang Solid

MEMULAI hari dengan ibadah pagi, mendampingi anak dan suami yang ingin berkatifitas, lalu mengunjungi para ketua RW sebelum berangkat menuju kantor adalah gambaran keseharian dari Farida Rachmayanti, anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Depok. Tetangga kita yang berdomisili di Tanah Baru – Beji ini selalu terlihat aktif, bahkan sepertinya hampir tidak pernah terlihat letih dengan setumpuk aktivitasnya. Tidak hanya dalam hal legeslasi, anggaran kota, dan advokasi masyarakat, ternyata sosok ibu yang satu ini sangat mumpuni dalam mengurus dan mengatur keluarganya. depoklik sempat menyambangi kantornya dan berbincang-bincang santai dengan ibu dari tiga anak ini, Jumat (28/1) pagi lalu.”depoklik (d) : Apa sebenarnya tugas Anda di DPRD?”Farida Rahmayanti (F): Saya menangani dua alat kelengkapan dewan. Pertama,  Komisi B yang menangani ekonomi dan keuangan, selain itu juga di badan anggaran. Kedua,  representatif atau perwakilan. Saya mewakili warga wilayah pemilihan saya, yaitu Beji. Jadi, lebih kepada melanjutkan aspirasi dan advokasi (pendampingan).”d: Sebagai wakil masyarakat Depok, sejauh apa usaha Anda menampung aspirasi?”F : Secara aktif, saya bersilaturahmi ke masyarakat daerah pemilihan saya. Setiap pagi sebelum ke kantor sekitar pukul delapan saya mengunjungi para ketua RW di Beji. Tahun lalu saya baru bisa mengunjungi 27 RW, karena agenda DPRD cukup padat. Di luar program pribadi itu, saya juga menghadiri undangan dari acara warga. Secara pasif, saya menerima aspirasi melaui telepon, telepon saya siap 24 jam.”d : Sebagai seorang ibu, isteri, dan wakil rakyat, bagaimana Anda membagi porsi waktunya?”F : Kami adalah satu tim yang solid, satu sama lain saling menguatkan. Secara simultan kami bersama membangun manajemen waktu yg baik. Alhamdulillah, nilai-nilai relijius menguatkan itu, sehingga baik anak dan suami tidak ada dikotomi benturan waktu. Lagipula suami dan anak-anak sudah tidak kaget, sebelum menjadi anggota dewan saya memang sudah aktif di masyarakat dan organisai-organisasi sejak anak-anak masih kecil, jadi anak-anak sudah terbiasa tuh.”d : Apa anak-anak pernah mengeluh?”F : Sebagai ibu, saya membuat program dan manajemen waktu bagi anak-anak, mulai dari pulang sekolah di sore hari, mandi makan, ke masjid, dan belajar di malam hari. Bahkan saya juga membuat aturan kapan anak-anak boleh nonton televisi, saya pikir semua ada waktunya. Namun, komunikasi saya dan anak-anak paling efektif di malam hari. Saat itulah, saya selalu menyempatkan mendampingi mereka belajar di malam hari. Tapi namanya anak-anak, terkadang juga ada keluhan soal waktu ibunya, tapi bagi saya itu proses. Misalnya, anak-anak kadang kecewa saat saya tidak bisa menemani mereka renang. Kebetulan saya hanya punya satu kendaraan, hahaha.. Disitulah mereka kecewa karena tidak bisa diantar. Kalau sudah begitu, saya minta maaf pada mereka dan memberikan pemahaman. Tapi, saya bersyukur anak-anak saya dapat berdialog dan mau diajak bermitra.”d : Apa Anda meminta ijin kepada anak-anak saat maju dalam pemilihan anggota dewan?”F : Saya ajak mereka berdiskusi. Terutama, kegiatan yang padat sebagai anggota dewan. Mereka memang sempat mengeluh, tapi saya menjelaskan dengan nalar bahwa saya diamanahkan untuk membantu masyarakat. Saya katakan, Insya Allah bila membantu orang maka keluarga kita akan dimudahkan. Alhamdulillah anak-anak bisa mengerti.”d : Apa saat itu Anda siap menjadi seorang ibu dengan diiringi tugas yang padat?”F : Semua orang tua pasti ingin menjadikan anaknya adalah investasi dunia akhirat. Karena semua orang tua ingin anaknya soleh. Soleh itu artinya berdaya, ketika berdaya ia akan bermanfaat untuk banyak orang. Bagi saya inilah cara menunjukkannya, ibu yang aktif di masyarakat akan memberikan aura yang sama ke anak-anaknya. Itu filosofi yang saya dan suami yakini.”d : Dilema antara keluarga dan tugas?”F : Selalu ada perbenturan waktu, namun itu sifatnya teknis. Masalah teknis seperti waktu, bagi saya bisa dikondisikan. Soal waktu, saya dan suami menerapkan pendekatan manajemen, saya tidak menggunakan pendekatan ‘membenturkan’. Saya pun tidak menyepelekan agenda anak-anak, karena mereka memang perlu berkembang. Namun saat saya tidak bisa bersama keluarga, saya tetap minta maaf dan coba memberi pemahaman.”d : Apa me time Anda  untuk menghilangkan jenuh dan mendapatkan energi lagi?”F : Saya suka baca buku. Saya suka baca buku –buku sejarah, karena seru seperti nonton film, itu refreshing buat saya. Selain itu, saya memanjakan diri sendiri dengan hobi memadupadankan baju, menghayal mendisain pakaian, hahaha.. saya bukan disainer kok, tapi hanya hiburan saja. Kadang saya hunting bahan pakaian untuk menghilangkan kejenuhan. Saya juga bisnis kecil-kecilan jual kerudung bersama teman-teman dekat, yaa..itu sebagai hobi aja.”d : Bicara soal Depok, omong-omong sejak kapan Anda berdomisili di kawasan ini?”F :Saya di Depok sejak tahun 2000. Saya sendiri lahir dan besar di Petojo, Jakarta Pusat. Saya baru pindah ke Depok saat hamil anak ketiga. Bagi saya, Depok adalah kota yang nyaman untuk tempat tinggal. Dulu, Depok itu adem, tapi sekarang tidak se-adem dulu.  Padahal, rasa nyaman dan udara sejuk di Depok harusnya senantiasa dijaga.”d : Dimana tempat favorit Anda sekeluarga menghabiskan waktu bersama di kawasan?”F : Paling sering di daerah Margonda. Biasanya kami, wisata kuliner dan pergi ke toko buku.  Kami juga sering bersepeda dan jalan pagi di UI.”d : Lalu jajanan favorit di Margonda?”F :  Kedai atau resto yang menjual makanan pempek, bakso, pokoknya yang pedas-pedas, atau yang manis-manis. Tapi sejujurnya sih, hampir semua makanan saya suka, hehe..”d : Dari kacamata Anda sebagai warga, apa kendala yang ditemui saat tinggal di Depok?”F :Menurut saya, persoalan sampah perlu menjadi perhatian. Masalah sampah di Depok perlu solusi yang sistematis. Selain pemerintah, peran serta masyarakat juga penting, karena berdasarkan data, sampah terbesar berasal dari sampah keluarga 70%. Selain sampah, kendala lain yang mengganggu kenyamanan adalah kemacetan dan angkutan umum yang kurang tertib. Namun inilah dampak pertambahan penduduk. Selama ini kan kota kita itu namanya kota 59, pergi jam 5 pulang jam 9 (tertawa­). Artinya, banyak warga kita yang bekerja di Jakarta, namun masih harus melewati macet di kota sendiri juga. Depok harus nyaman, dan tetap harus ada penyelesaian soal kemacetan”d : Terakhir, apa harapan Anda untuk Depok?”F : Saya harap, potensi asri Depok tetap terjaga. Menurut saya, warga Depok adalah warga yang ramah, jadi saya harap dalam konteks sosial warga Depok bisa mempertahankan nilai-nilai relijinya serta keramahannya.” “T. Farida Rachmayanti SE, Msirn

    rn

  • Tempat / Tanggal lahir : Jakarta, 28 Oktober 1971
  • rn

  • Suami: Syarifudin, Skom, Msi
  • rn

  • Anak: Ismail Abdullah (13), Nisrina Maliha (12), Muhammad Nur Robbani (10)
  • rn

  • Pendidikan: S2 ekonomi islam UI
  • rn

rn “CLrnFoto: dok. keluarga