fbpx

Berpenampilan Berandal, Rumah Baca Samudra Sempat Ditolak Warga

Setiap perjuangan pasti ada rintangan. Itu pula yang dialami Qosim dan pemuda Kampung Grogol, Pancoran Mas, Depok, saat membangun Rumah Baca Samudra. Warga sempat menolak karena penampilan para pemuda seperti berandalan.

Tapi, hal itu tidak mengurungkan niat para pemuda untuk tetap membangun Rumah Baca Samudra. Benar saja, tak lama berselang warga melunak dan berbalik mendukung pemuda ini.

“Warga ragu karena penampilan kami yang tampak seperti berandalan. Tapi, warga melunak setelah melihat banyak kegiatan positif yang kami lakukan,” kata Ketua Rumah Baca Samudra, Qosim, Rabu (31/10).

Sayang, dukungan ini belum sepenuhnya didapat Rumah Baca Samudra. Ketua RT yang menjanjikan akan memberikan aliran listrik sebagai penerangan.

“Alhamdulillah rumah sebelah mengizinkan kami menyambung listrik dari sana,” tambahnya.

Rumah Baca Samudra dibangun di atas lahan seluas 7×7 meter. Dengan koleksi 1.000 buku, warga sekitar bisa berlatih marawis dan membuat pupuk kompos.

Ricky Juliansyah
Foto: Ricky

Muda Mudi Kampung Grogol Bangun Rumah Baca Samudra

Banyak cara untuk memajukan anak bangsa. Tak perlu banyak uang atau pemikiran yang terlampau tinggi. Kemauan yang kuat akan mengalahkan semuanya. Inilah yang dilakukan sekumpulan pemuda di Kampung Grogol RT 02/002 Rangkapan Jaya Lama, Pancoran Mas, Depok.

Sekumpulan pemuda itu membangun taman baca yang diberi nama Rumah Baca Samudra. Seperti namanya, tempat ini digunakan untuk sarana membaca gratis bagi pelajar di sekitar rumah baca.

Koleksi bukunya cukup banyak. Sejak berdiri 13 April 2012 lalu, Rumah Baca Samudra telah memiliki total 1.000 buku. Berdiri di atas lahan 7×7 meter, koleksi buku tersedia mulai dari SD, SMP, SMA, majalah, komik, hingga skripsi.

“Awalnya kami hanya memberikan bimbel kepada anak-anak SD, atas masukan dari senior pemuda di sini yang tidak menginginkan bimbel ini putus, maka kami mendirikan Rumah baca samudra,” kata Ketua Rumah Baca Samudra, Qosim, Rabu (31/10).

Tak hanya digunakan untuk membaca, Rumah Baca Samudra juga menjadi pusat kegiatan positif lain. Mereka menjadikan tempat itu untuk latihan marawis, membuat pupuk kompos, dan pelatihan untuk membuat keset.

“Dan dari hasil inilah kami mendapatkan dana untuk mengembangkan tempat ini,” katanya.

Meski hanya berlasakan karpet dan beratap terpal, tapi Rumah Baca Samudra tidak pernah bocor saat hujan tiba. Hanya, air yang terbawa oleh angin kadang membasahi sekitar rumah baca. Wajar saja karena tempat ini juga tak berdinding.

Qosim berharap, Rumah baca Samudra dapat memiliki manfaat yang besar khususnya bagi warga sekitar.

“Semoga tempat ini bisa lebih besar, para pemuda disini bisa kreatif dan minat baca masyarakat meningkat,” tandasnya.

Ricky Juliansyah
Foto: Ricky

Amelia Agatha, Si Seksi Yang ‘Cuco Dech…’

[slideshow post_id=”20265″]

Memulai karir dari kafe ke kafe, Amelia Agatha, pelantun lagu ‘Cuco Dech’ ini seakan tak mau menyerah untuk menembus pasar lagu dangdut nasional. Saat berbincang santai di markas depoklik, si seksi asal Sukabumi ini mengaku optimis bila lagunya bisa dinikmati penggemar musik dangdut.

“Kalau aku show ke daerah, masyarakat sepertinya sudah kenal dekat dengan lagu-laguku, terutama
single ‘Pilihan Hati’,†tutur Amel. Targetnya, lanjut Amel, akhir tahun 2012 ini dirinya akan membuat album dangdut koplo. Selain itu, penggemar cappuccino ini dalam waktu dekat rencananya ingin menyempurnakan video klip single ‘Cuco Dech’ miliknya.

Darah seni nampaknya memang sudah mengalir dalam diri Amel, ayahnya seorang musisi, ibunya pun penyanyi. “Sejak SMP aku sudah mulai nyanyi di pentas-pentas seni, hingga akhirnya menetapkan karir di musik dangdut,†ungkap anak kedua dari tujuh bersaudara ini.

Bincang-bincang soal Depok, Amel sudah tak asing dengan kota ini, pasalnya, Ayahnya asli Depok dan menetap di kota ini sejak dulu. Menurutnya, Depok sekarang lebih asyik. “Asyik, sudah banyak mall. Soalnya aku suka shopping, hehe wajar kan ya, cewek.â€

Amel juga mengaku bahwa dirinya adalah coffee addict, semua kedai kopi di Depok sudah disambangi. “Aku paling sering ngopi di mall.†Bahkan, lanjutnya, dalam sehari bisa sepuluh kali ngopi. “Gak cuco deh kalau ngobrol gak sambil ngopi.†ujarnya.

Cewek sintal berkulit putih ini mengaku menyukai pria berbadan besar dan berkulit gelap. “Salah satu yang kusuka dari Depok adalah cowok-cowoknya. Apalagi kalau perutnya six pack,†kata Amel seraya tertawa.

Saat ini, cewek kelahiran tahun 1982 ini masih single lho. Saat ditanya, mengapa di usia tiga puluh belum juga menikah, dengan santai dan tanpa panik, Amel mengaku ingin mengejar karir di dunia dangdut. “Ngumpulin duit dulu deh,†tandas Amel di sela-sela seruputan kopinya.

Penasaran dengan Amelia Agatha? intip aja cewek ini di Youtube nya.

HD
Foto: Wisnu Hari Santoso

Siswa SDN Mekarjaya 30 Belajar di Masjid

SDN MEKARJAYA 30 YANG TERBENGKALAI: Pelajar kelas 6 SDN Mekarjaya 30 Depok, Jl. Danau Maninjau Raya Ujung Depok II Timur, sudah setahun belajar tidak menggunakan kelas. Para murid tersebut belajar dalam ruangan perpustakaan dan masjid di sekitar lingkungan sekolah. Guru SDN Mekarjaya 30 berharap pihak pemerintah Depok memperhatikan dan cepat bertindak untuk membantu perbaikan sekolah tersebut.

[slideshow post_id=”23686″]

Foto: Wisnu Hari Santoso

Harga Kedelai Tinggi, Pengusaha Tahu Kian “Tercekik”

Harga kacang kedelai yang tak kunjung turun sejak Juni dikeluhkan pelaku industri tahu dan tempe di Depok. Akibatnya, beberapa pelaku usaha mengaku keuntungannya semakin menipis.

Hal ini terjadi pada salah satu pengusaha tahu skala kecil, Adi Sucipto (35). Pria yang membuka usaha di RT02/19 Kelurahan Tapos ini mengatakan,  naiknya harga kedelai dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.800/kg membuat dirinya harus memutar otak untuk menjalankan usaha itu.

Adi mengatakan, dampak kenaikan harga kedelai membuat margin profitnya menyusut hingga 30 persen. Padahal, keuntungan yang didapat harus mampu membiayai seluruh biaya operasional dan membayar gaji 9 pegawainya.

“Sehari kami hanya bisa memproduksi 5 kuintal,” lirihnya, saat ditemui depoklik, Sabtu (6/10) sore.

Ia berharap, pemerintah bisa melakukan upaya-upaya untuk menurunkan harga kedelai di pasaran. Selama ini, Adi memasarkan hasil produksinya ke pasar tradisional di Depok dan Bekasi.

“Harga jual tetap, tapi kedelai harganya naik.” tutupnya.

Gatot Suherman

Foto: Wisnu Hari Santoso

Tanggalkan Baju PNS Demi Sang Ayah

Lahir di Yogyakarta, 7 juli 1952, Farkhan kecil dibesarkan di lingkungan pedesaan dengan kultur jawa tradisional, yang sangat erat kaitannya dengan pergerakan ormas Islam seperti, Muhammadiyah. Terang saja, tanah kelahirannya itu, khususnya daerah Kauman, merupakan situs sarat nilai historis, sebagai tempat lahirnya pergerakan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam Muhammadiyah.

Seabad silam, di daerah inilah, sosok pendiri ormas Islam terbesar kedua, Muhamadiyah, KH Ahmad Dahlan, mencetuskan berdirinya ormas Islam tersebut, pada  18 November 1912. Bisa ditebak, kedua orangtuanya, AR Fakhrudin (Ayah), dan Siti Komariyah (Ibu), sangat kentara mendidik Farkhan kecil dengan nilai ajaran Muhammadiyah. Ia pun dibebaskan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, untuk menemukan orientasi hidupnya kelak.

Lazimnya kebanyakan anak muda Yogyakarta, pasca menyelesaikan pendidikan SMA tahun 1971, Farkhan remaja, menambatkan hati untuk berlabuh di Universitas Gajah Mada (UGM), sebagai tangga lanjutan kursi akademisnya. Namun sayang,  ia pun urung kuliah di UGM karena gagal tes masuk. Tak ingin meratapi kegagalan berlama lama, di tahun yang sama, keputusan besar diambilnya, dengan merantau ke Ibukota DKI Jakarta, dan melanjutkan ke perguruan tinggi swasta, kemudian lulus pada 1976. Farkhan pun meniti karir secara professional sebagai tenaga kantoran di beberapa perusahaan tekstil ternama, salah satunya Sandratex.

Perlu dicatat, kurun waktu 1968-1990,  Ayahanda, AR Fakhrudin merupakan ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Jabatan penting sang ayah, tak membuat Farkhan muda mengendurkan semangat kemandiriannya.

” Saat muda dulu, saya belum terbersit untuk terjun di organisasi Muhammadiyah,” kenang pria ramah senyum ini.

Urusan asmara, pria yang satu ini tak punya banyak cerita. Melalui proses ta’aruf, pada 1979, Farkhan dipertemukan dengan SA Budi Hartati, teman SMA nya dulu di Yogyakarta,  yang di kemudian hari memberikannya 3 orang anak, Fitrianur, Faizati setyorini, dan Farida utami.

Setahun menikah, Farkhan diterima untuk berkarir sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tepatnya di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Karir sebagai birokrat, diakhirinya pada 2005, dengan status golongan terakhir pejabat eselon 3. Masuk dalam lingkaran birokrasi, hasrat bergelut dalam dunia organisasi muncul perlahan.

Pindah ke Depok pada 1984, sejak saat itulah  Farkhan menekuni secara serius untuk bergelut dalam organisasi. Darah leadership (kepemimpinan) sang ayah mengalir jelas, dan pada 1986 Farkhan dipilih menjadi ketua ranting Muhammadiyah Kecamatan Sukmajaya. Karirnya terus menanjak, hingga akhirnya dipercaya untuk menjadi Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Depok, sejak 2005 hingga saat ini, dan akan berakhir pada tahun 2015.

“Insya Allah, semua tenaga dan pikiran ini akan saya berikan untuk kemajuan Muhammadiyah,” tutup pria yang khas dengan rambut putihnya ini.

Gatot SuhermanFoto: GS

 

Sopir Angkot Tolak Dibilang Jadi Biang Kemacetan

Bicara soal kesemrawutan lalu lintas di Jalan Margonda Raya, salah satunya adalah soal kemacetan. Kasat mata dapat dilihat dengan mudah, bagaimana para supir kendaraan umum menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. Bahkan, ngetem di tempat yang tidak seharusnya untuk menunggu penumpang, alias terminal bayangan.

Namun, pangkal permasalahan itu tidak bisa semata mata dialamatkan kepada para supir angkutan kota (angkot). Faktanya, di sepanjang jalan Margonda Raya, minim keberadaan halte yang seyogyanya diperuntukkan bagi angkot menaik-manurunkan penumpang.

Salah satu supir M-04 Jurusan Pasar Minggu- Depok, Ridwan mengaku terpaksa mengambil dan menurunkan penumpang di sembarang tempat karena keterbatasan halte. Sejauh ini, sepanjang Jalan Margonda hanya ada dua halte, yakni di Jalan Kedondong dan di Pondok Cina.

“Jangan cuma kita yang disalahkan,” ujarnya kepada depoklik, Jumat, (21/9).

Keberadaan beberapa pusat perniagaan, semisal Margo City dan Detos merupakan titik penumpukan penumpang angkot yang kerap berjejer di tepi jalan. Tak ayal, kemacetan tidak dapat dihindari lagi

“Kalau enggak boleh naik turunin penumpang sembarangan, Pemkot buat halte lagi dong,” tutupnya.

Gatot Suherman

Foto: GS

Warga Geram Rumahnya Tertutup Batu dan Tanah Perbaikan Drainase

Pembangunan saluran air atau drainase sepanjang 60 meter di Jalan Pramuka, Kelurahan Mampang, menuai kecaman warga. Pasalnya, pihak penanggung jawab proyek seakan lepas tangan dan tidak profesional dalam teknis pengerjaannya. Bahkan, batu kali dan tumpukan tanah hasil galian, ditimbun begitu saja di depan rumah warga.

Dari pantauan depoklik, tidak tampak satu pun pekerja proyek di lokasi. Tumpukan tanah galian masih ada di beberapa ruas jalan. Salah satu warga, Duno Ttriyono, warga RT02/06, Mampang mengaku geram dengan ulah kontraktor proyek yang main kabur begitu saja, padahal pekerjaan belum selesai.

“Kontraktor ini enggak bener, batu kali sama galian tanah main tumpuk begitu saja. Harusnya Pemerintah Kota Depok, jalankan pengawasan dong,” ujarnya di lokasi, Kamis (20/9).

Duno menambahkan, salah satu warga bahkan memprotes depan rumahnya ditutup tumpukan tanah galian dan batu kali. Perwakilan warga sudah menghubungi penanggung jawanbn proyek tersebut, dan berjanji Senin(24/9) akan datang ke lokasi.

“Mereka harus tanggung jawab, jangan seenaknya,” ujarnya.

Gatot Suherman

Foto: GS

Takut Gagal Panen, Petani Abaikan Lahan

Kemarau yang berkepanjangan membuat petani enggan menggarap lahannya. Gagal panen atau tidak berkembang jadi momok bagi mereka. Kondisi ini juga dialami oleh petani di Krukut, Limo, Depok.

Petani sayuran Grogol, Marbun (56) mengatakan, petani banyak yang mengabaikan lahannya karena kekurangan air. Para petani khawatir mengalami gagal panen jika sumber daya air tidak mencukupi.  Meskipun demikian, Marbun mengaku lebih beruntung karena posisi lahannya lebih tinggi daripada milik petani lain.

“Kalau di sini saya masih bisa dapat air, tapi kalau di bawah sudah enggak dapat air,†kata pria yang sudah bertani selama sepuluh tahun ini, Rabu (19/9).

Sementara petani sayuran di daerah Mampang, Hasan (68), mengatakan dirinya baru mulai menanam sayuran kembali saat ini. Dia mengaku belum mendapatkan air yang cukup untuk budidaya tanaman sayur. Namun, dia optimistis kalau hujan akan mulai turun secara rutin dalam waktu dekat ini.

“Kalau dilihat sudah mulai, kemarin malah sempat hujan walaupun cuma gerimis,†katanya.

Icha
Foto: ist.

Warga Sambut Positif Razia Angkot

Operasi gabungan yang dilakukan Dishub, bekerja sama dengan kepolisian dan aparat TNI, berhasil menjaring angkutan kota (angkot) dan pengendara lalu lintas yang melanggar aturan. Tak ayal, beberapa angkot dan kendaraan roda dua harus diparkir di bahu jalan Margonda untuk ditindak lenbih jauh.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari para penumpang angkot, meskipun terpaksa harus menunggu sang supir diperiksa kelengkapan dokumennya oleh petugas. Bagi yang terbukti melanggar, langsung diproses sidang di tempat.

Salah satu penumpang M04 jurusan Pasar Minggu-Depok, Sri Mulyani, warga Lenteng Agung mengaku kaget melihat Jalan Margonda dipenuhi aparat. “Kaget sih memang tiba-tiba banyak polisi berhentiin angkot,” terangnya, Rabu (19/9).

Meski kaget, dia menyambut baik kegiatan ini sebagai wujud penegakan aturan dalam menciptakan kenyamanan menggunakan kendaraan umum bagi masyarakat.

“Biar harus nunggu supir disidang, enggak apa-apa lah, demi kenyamanan kita bersama,” ujarnya.

Gatot Suherman

Foto: GS