fbpx

UPT Sawangan Gelar Pelatihan Kelas Maya

[caption id="attachment_20734" align="alignleft" width="300"] 23 operator dari 23 Sekolah Dasar di Sawangan mengikuti pelatihan Kelas Maya di SD Sawangan 05, Rabu (23/10). (foto: HD/disdik)[/caption]

Menjelang peluncuran program Kelas Maya pada November mendatang, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kecamatan Sawangan mengadakan pelatihan program kelas maya di SD Sawangan 5, Depok, Rabu (23/10). Pelatihan ini diikuti oleh para operator dari 23 Sekolah Dasar di Sawangan.

“Program kelas maya ini sudah diawali dengan pemasangan access point di 23 sekolah. Setelah pemasangan, saat ini kami mengadakan pelatihannya untuk para operator sekolah,†jelas Ebeng Djayadi Sofhyan, Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Sawangan.

Melalui pelatihan tersebut, Ebeng berharap seluruh perangkat pendidikan di Depok, khususnya di Kecamatan Sawangan dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa melalui teknologi internet.

“Mari kita ubah pikiran siswa mengenai internet yang hanya sekedar untuk bermain, Pada program ini siswa dengan mudah mengakses tugas sekolah yang diberikan gurunya melalui website sekolahnya,†ujarnya.

Dalam pelatihan ini, UPT Sawangan menggandeng PT. Telkom Indonesia yang sedang menjalani program barunya, Indi School.

Majid, Manager Wireless Broadband Witel Bogor mengatakan, program Indi School yang diluncurkan oleh PT. Telkom Indonesia diharapkan dapat membawa perubahan dalam dunia pendidikan di Depok.

“Program ini kami buat untuk TK sampai dengan SMA,†tandas Majid.

HD

832 Dokter Kecil dari Tapos Dilantik

Sebanyak 832 siswa Sekolah Dasar dari 45 sekolah di Kecamatan Tapos, Depok dilantik sebagai Dokter Kecil di kantor kecamatan Tapos, Depok, Rabu (23/10).

Para siswa yang terlibat langsung dalam Unit Kesehatan Sekolah (UKS) ini dilantik oleh Camat Tapos, Mukhsin Mawardi.

“Dokcil (dokter kecil) ini berguna untuk merangsang perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini di lingkungan sekolah masing-masing,†ucapnya. Dokcil, lanjutnya, akan memberikan informasi kepada teman-teman di sekolahnya mengenai perilaku hidup sehat ini.

Menjadi dokcil pun memiliki syarat, yakni, harus dapat melaksanakan ketentuan pola hidup sehat, berpakaian rapi hingga bertutur kata sopan.

“Dengan begitu, Dockil menjadi parameter UKS. Membawa pengaruh dan peran positif bagi kualitas kesehatan sekolah,†tandasnya.

HD

Buat e-KTP di Sekolah

Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok mengadakan kerjasama dengan SMA Negeri se-Kota Depok dalam rangka perekaman KTP Elektronik atau e-KTP.

Ditemui di SMAN 6 Depok, Cinere, Operator Disdukcapil Kota Depok, Herdandy, mengatakan perekaman e-KTP di setiap SMA Negeri Depok ini bertujuan memudahkan para siswa dalam pembuatan e-KTP.

“Biasanya perekaman e-KTP dilakukan di setiap kelurahan pada jam sekolah. Maka dari itu Disdukcapil lakukan jemput bola, agar dengan mudah diikuti para siswa,†ujarnya kepada depoklik, Senin (21/10).

Tidak hanya untuk siswa yang berusia 17 tahun, siswa yang masih berusia dibawah 17 tahun pun diperbolehkan mengikuti perekaman e-KTP ini.

“Bagi para siswa yang masih berusia dibawah 17 tahun juga ikut melakukan perekaman, akan tetapi e-KTP nya baru dapat diambil setelah usianya 17 tahun. Kami hanya membantu agar data cepat diterima Kemendagri (Kementerian Dalam Negeri), “ jelasnya.

Sementara itu, Humas SMAN 6 Depok, Retno mengaku senang dengan adanya kegiatan ini, karena siswanya tidak perlu membolos ketika melakukan pembuatan e-KTP.

“Meski agak sedikit menganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), namun kami para pengajar tidak mempermasalahkannya, karena mereka tetap dapat mengikuti kegiatan sekolah,†akunya.

Kegiatan ini ditargetkan akan selesai pada akhir bulan Oktober 2013.

HD

Kadisdik Imbau Setiap Kelas Ada Bendera Merah-Putih

[caption id="attachment_20709" align="alignright" width="300"] ist.[/caption]

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Depok Herry Pansila mengimbau agar setiap kelas sekolah dilengkapi bendera kebangsaan, merah-putih.

Menurut Herry, hal ini dimaksudkan agar sekolah juga berperan aktif mengarahkan siswanya untuk menghargai perjuangan mencapai kemerdekaan.

“Tidak mudah dan memakan waktu yang cukup lama perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pelajar kita harus memiliki rasa menghargai itu. Adanya bendera merah-putih di kelas turut membangun suasana dan rasa cinta tanah air,†ujarnya kepada depoklik di sela-sela acara workshop guru depok tentang pendidikan karakter, di SIT Nurul Fikri, Kamis (17/10).

Saat ini, sambung Herry, pelajaran sejarah sudah diperbanyak, penguatan 4 pilar kebangsaan pun harus dimaksimalkan, agar generasi yang akan datang memiliki mindset menghargai dan membangun bangsa.

“Di Depok, sangat banyak sekolah-sekolah yang tidak melengkapi kelasnya dengan bendera merah-putih. Saya menyayangkan hal itu,” katanya.

Dengan menciptakan suasana menghargai negeri, mantan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Depok ini berharap pula pendidikan karakter bangsa pada kurikulum 2013 ini berhasil.

CL

Pertajam Pendidikan Karakter, Guru Depok Gelar ”Workshop”

[caption id="attachment_20698" align="alignright" width="300"] Kadisdik Kota Depok Herry Pansila saat menyampaikan materi Pendidikan Karakter dalam 4 Pilar Kebangsaan dan Pendidikan Anti Korupsi, pada workshop guru di SIT Nurul Fikri, Kamis (17/10).[/caption]

Sejumlah 46 guru dari 18 SMP dan SD di Kota Depok berkumpul di Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri, Kelapadua, Depok, Kamis (17/10) pagi ini. Para guru hadir untuk mengikuti workshop tentang pendidikan berkarakter dan implementasi kurikulum 2013.

Kegiatan ini digelar selama empat hari hingga tanggal 20 Oktober, dengan tema “Integrasi Pendidikan Karakter Bangsa Dalam Kurikulum 2013 Pada Pendidikan Dasar se-Kota Depok Berbasis Kearifan Lokalâ€.

“Melalui workshop empat hari ini, diharapkan para guru dapat menerapkan pendidikan karakter di sekolahnya dan menjadi budaya sehari-hari,†tutur Abdul Rahman Kadafi, Ketua Panitia di lokasi workshop.

Hadir pula dalam workshop tersebut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok Herry Pansila. Herry, yang saat itu masuk dalam jajaran pembicara dan pembuka acara, menyampaikan pentingnya workshop bagi para guru ini.

“Cita-cita luhur bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara harus diteruskan dan diabadikan, yakni, salah satunya adalah pendidikan karakter berbasis kearifan lokal,†jelas Herry kepada depoklik.

Untuk itu, lanjutnya, workshop ini pun harus bisa membuat para guru mulai mengarahkan siswanya tidak sekadar belajar, pilih jurusan dan bekerja atau berorientasi mencari hidup di negeri ini, namun perlu dibangun mindset sebagai pewaris negeri. “Siswa harus punya mindset membangun negeri dan sifat menghargai apa yang sudah diperjuangkan para founding fathers.â€

Selain itu, dalam workshop guru ini akan dibahas secara bersama mengenai kurikulum 2013 dan implementasinya, silabus, RPP, bahan ajar berbasis karakter serta media pembelajarannya.

CL

 

BI Less Cash Society, 2014 Kartu Mahasiswa UI Bisa Untuk Commuter Line

[caption id="attachment_20692" align="alignright" width="300"] ist.[/caption]

Sosialisasi pengurangan transaksi menggunakan uang tunai kembali dilakukan oleh Bank Indonesia, dengan meluncurkan Less Cash Society di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Rabu (2/10).

Peluncuran Less Cash Society ini dilakukan langsung oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Ronald Waas bersama beberapa perbankan, antara lain, Bank Mandiri, BNI, BCA, BRI, CIMB Niaga, dan Bank Permata.

Ronald mengatakan, less cash society merupakan masyarakat yang terbiasa menggunakan alat pembayaran nontunai. Alternatif instrumen pembayaran yang digunakan yaitu uang elektronik (e-money), cek, bilyet, giro, kartu debit, dan kartu kredit.

“UI dipilih sebagai lokasi pilot project karena memiliki populasi tinggi, sekitar 60 ribu orang dengan mayoritas usia muda, yang senang mencoba hal baru dengan transaksi ritel tinggi,†ujarnya.

Menurut Ronald, minimal terdapat tiga keuntungan dari terwujudnya less cash society. Pertama, transaksi nontunai lebih efisien, karena setiap orang tidak perlu repot membawa uang tunai ke mana pun untuk melakukan transaksi bisnis. Kedua, transaksi non tunai relatif tidak berbiaya mahal. Ketiga, transaksi nontunai lebih memudahkan untuk dilacak apabila terjadi tindak pidana.

Sementara itu, Pejabat Rektor UI Muhammad Anis menambahkan, UI akan terus mengembangkan teknologi sistem pembayaran yang bisa diterapkan dalam lingkup mahasiswa UI. Hal itu terutama untuk mempermudah transaksi dan pembayaran.

Anis berharap, pada 2014, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) UI dapat digunakan untuk pembayaran ongkos commuter line yang sering digunakan mahasiswa UI menuju kampus. Saat ini, KTM UI dapat digunakan untuk layanan tarik tunai melalui ATM dari bank rekanan UI.

“Pada 1-4 Oktober 2013 kami melakukan sosialisasi, serta bazzar, yang dilengkapi layanan top up,†imbuh Anis.

Sebelumnya, UI menggelar seminar sosialisasi program Less Cash Society (LCS) pada Kamis (05/09) di Balai Sidang Kampus UI Depok. Setelah melakukan sosialisasi kepada mahasiswa baru UI angkatan 2013, saat itu sosialisasi dilakukan terhadap perwakilan pedagang-pedagang di kantin UI serta pihak-pihak terkait, seperti pihak ventura di masing-masing fakultas.

rw

BEM STAI Al-Hamidiyah: Profesi Guru Agama Tetap Diminati

[caption id="attachment_20686" align="alignleft" width="300"] Mahasiswa STAI Al Hamidiyah saat mengikuti Masa Ta’aruf Mahasiswa Al-Hamidiyah (Mastama) di kampus Rangkapan Jaya, Pancoran Mas selama tiga hari (20-22/9).[/caption]

Profesi sebagai guru agama tetap diminati di Depok, terbukti, banyak Perguruan Tinggi yang menyediakan program pendidikan agama yang juga diminati.

Hal tersebut diungkapkan Ketua BEM Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Hamidiyah Ian Rudianto di kampus Rangkapan Jaya, Pancoran Mas. “Guru agama tetap eksis. Buktinya, jurusan guru agama Islam tetap diminati.”

Ian juga mengatakan, satu hal mendasar yang melatarbelakangi mereka memilih profesi guru agama adalah semangat ibadah dalam mengamalkan ilmu.

“Saya tetap yakin bahwa masyarakat membutuhkan guru agama.  Sebab, saat menyekolahkan, mereka berharap agar si anak memiliki akhlak dan karakter yang baik,” ujarnya, Minggu (22/9).

Sementara itu, Ketua  Masa Ta’aruf Mahasiswa Al-Hamidiyah (Mastama), Muhadis mengaku saat ini banyak mahasiswa yang mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan PGRA. Di samping itu, kebanyakan para mahasiswa yang masuk juga ada yang sudah berprofesi sebagai guru.

“Selama tiga hari (20-22/9) mereka mengikuti kegiatan Mastama. Kegiatan berupa pengenalan pada kampus, dunia pendidikan, motivasi kuliah dan lainnya,” ujarnya.

Salah satu peserta Mastama, Nadia mengaku menjadi  guru adalah panggilan jiwa. Pasalnya, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. Selain itu, jasa guru tak bisa dilupakan  dan  dikenang.

“Memang ada tuntutan materi, tapi cita-cita dan semangat nilai agama itu kita junjung tinggi,” harapnya.

Julian

SMK Nasional Juarai Lomba PBB Kodim Depok

Setelah adu kebolehan dalam berbaris dengan 15 sekolah lain, akhirnya SMK Nasional keluar sebagai juara dalam lomba Peraturan Baris Berbaris (PBB) yang digelar oleh Kodim 0508/Depok.

Sementara itu, SMKN 2 Depok keluar sebagai juara kedua dan disusul SMAN 6 Depok sebagai juara ketiganya. Sedangkan juara Harapan 1 diraih SMK Bina Rahayu, Harapan 2 SMAN 1 Tajur Halang, dan Harapan 3 SMK Karya Putra Bangsa.

Rata-rata, peserta yang mengikuti kegiatan tersebut adalah siswa yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) di sekolahnya.

Dandim 0508/Depok, Letkol Inf. Moch. Zamroni, mengatakan, kegiatan ini bertujuan menghindari hal-hal negatif seperti tawuran pelajar atau narkoba.

“Diharapkan, melalui kegiatan positif ini dapat meningkatkan disiplin, percaya diri, kebersamaan, cinta Tanah Air dan bela negara di kalangan pelajar,†ucapnya saat memberikan sambutan, Kamis (19/9).

Selamat bagi para pemenang!

rw

foto: okezone

Polantas Isi Materi MOS di SMK Putra Bangsa

[caption id="attachment_20665" align="alignright" width="300"] Unit Dikyasa Satlantas Polresta Depok ikut memberi materi dalam MOS SMK Putra Bangsa, Kamis (29/8). (Foto: Marieska/okezone)[/caption]

Biasanya, masa orientasi siswa baru (MOS) diisi dengan perkenalan senior dan sekolah secara khusus. Namun pemandangan berbeda hadir di SMK Putra Bangsa, Depok. Tak hanya siswa senior dan guru, namun, Polresta Depok pun ikut serta memberikan materi.

Polresta Depok, yang diwakilkan Unit Dikyasa Satlantas, memberi pengarahan kepada siswa baru seputar lalu lintas dan etika berkendara, seraya menyosialisasikan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas.

Menurut Aiptu Ponco Budiyanto, salah seorang anggota Unit Dikyasa, sosialisasi ini akan dilakukan secara berkelanjutan kepada setiap siswa di Depok, terkait masih tingginya angka kecelakaan di kalangan pelajar.

“25 persen dari kecelakaan lalulintas adalah usia pelajar antara 15-17 tahun,” jelasnya kepada wartawan, Kamis (29/8).

Selain itu, lanjutnya, masih banyak ditemukan pelanggaran yang dilakukan pengendara di kalangan pelajar, diantaranya tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), dan tidak mematuhi peraturan.

Ponco berharap, dengan sosialisasi lalu lintas di MOS ini, siswa SMK Putra Bangsa bisa disiplin dalam berkendara, mematuhi peraturan, serta dapat menjadi pelopor dalam keselamatan berlalulintas.

rw

Bakti Sosial FIB UI 2013

Bakti Sosial FIB UI merupakan salah satu wadah aksi nyata yang dilakukan oleh mahasiswa/i FIB UI. Program kerja ini merupakan program kerja turunan dari BEM FIB UI Divisi Sosial Masyarakat, yang memfasilitasi mahasiswa/i FIB UI untuk berkontribusi secara langsung kepada masyarakat, yang dilakukan dalam waktu setahun sekali. Di dalam program kerja ini, mahasiswa/i dapat bebas mengonsep bentuk bakti sosial yang diinginkan. Bebas di sini memiliki acuan yaitu harus menginspirasi banyak pihak, baik kepada masyarakat maupun mahasiswa/i UI lainnya. Sebagai wujud bakti sosial kali ini, bentuk kegiatan yang ditawarkan berbeda dengan bakti sosial di tahun sebelumnya. Sebelumnya orang mengenal kegiatan bakti sosial sebagai kegiatan yang memberikan bantuan bersifat materi dan jangka pendek. Namun kali ini, kegiatan yang dibawa adalah program yang bersifat masyarakat binaan dan jangka panjang. Hal itu diwujudkan dengan program pembuatan bank sampah dan pembangunan taman bacaan.

Pembuatan bank sampah dimaksudkan untuk memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat agar masyarakat bisa ikut andil dalam mengatasi masalah sampah dan memahami bahwa inti masalah dari sampah kota adalah sikap kepedulian masing-masing individu terhadap lingkungan. Masyarakat akan diajari bagaimana memilah sampah, mengolahnya dan memanfaatkannya, sehingga dapat merubah pandangan bahwa sampah bukanlah musibah melainkan anugerah. Kemudian, pembangunan taman bacaan dimaksudkan untuk memberikan tempat kepada target ajar berupa anak-anak usia sekolah dasar untuk bisa membaca buku dan mengikuti kegiatan pendidikan yang diberikan oleh mahasiswa/i. Kegiatan pendidikan tersebut berbentuk bimbingan belajar dan belajar sambil bermain. Dengan adanya taman bacaan tersebut, diharapkan target ajar menjadi hobi membaca buku, mendapatkan pengetahuan tambahan dan terbantu bila ada yang mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tertentu. Untuk melihat perkembangannya, baik bank sampah maupun taman bacaan akan diberikan waktu pelaksanaan awal selama 6 bulan.

Dalam kesempatan tersebut, bakti sosial tahun 2013 membawa tema “Aksi Menginspirasiâ€. Gambaran yang diwujudkan dalam tema ini, terwujud dalam sisi internal dan eksternal. Dalam sisi internal, diharapkan bakti sosial mampu melahirkan kader-kader pejuang bakti sosial berikutnya yang lebih sadar akan lingkungan sekitar mereka. Seluruh mahasiswa/i UI, khususnya FIB, mampu melakukan aksi inspiratif yang berkaitan dengan isu lingkungan dan pendidikan. Kemudian untuk sisi eksternal, diharapkan bakti sosial mampu menanamkan kesadaran lingkungan kepada masyarakat dan mencetak agen-agen perubahan melalui pendidikan kepada anak-anak usia sekolah dasar.