fbpx

Wali Kota Osaki Apresiasi UMKM dan Bank Sampah Mpok Lili

Walikota Osaki Town Jepang Higasi Yasuhiro mengunjungi Uaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Bank Sampah MPOK LILI (Merupakan Kelompok Peduli Lingkungan) di Griya Lembah, Sukmajaya, Depok.”Higasi mengapresiasi kreasi yang diciptakan di UMKM tersebut yang mengandalkan bahan baku dari sampah. Pengolahan  tidak hanya pada sampah organik, tapi juga non-organik. Bahkan, hari itu Higasi juga sempat membeli karya-karya Mpok lili”Mpok Lili mendapat respon positif dari Walikota Osaki Town Jepang beserta rombongan berupa ajakan kerjasama untuk menciptakan kreasi-kreasi yang bernilai ekonomis dari sampah non-organik.”“Saya sangat mengapresiasi dengan adanya kelompok ini, melalui program bank sampahnya karena sedikit banyak dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA,†katanya kepada wartawan, Selasa (27/9).”Sarannya kepada warga Depok, sebaiknya warga bisa mengolah sampah secara mandiri untuk membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.”Higasi menginformasikan bahwa tidak boleh mengadakan penambangan pada sampah yang berada dipaling bawah tumpukan sampah, karena komposnya dianggap sudah rusak akibat sudah mengendap terlalu lama dan akan berbahaya bagi tanaman.”“Apabila ingin digunakan harus melalui penelitian lebih lanjut dari kandungan-kandungan kompos tersebut. Jangan ada pembakaran sampah karena dapat merusak lingkungan,†tandasnya.”IcharnFoto: Dok. Pemkot

Anna Margret, Dosen Politik Bersepatu Lari

Cara Anna Margret bercerita kepada depoklik menunjukkan bagaimana ia memiliki passion yang sangat besar terhadap olahraga lari.\r\n\r\nSesekali ia tertawa lepas dengan wajah berseri-seri. Lalu, bagaimana Anna terjun ke dunia lari yang dulu tak pernah digelutinya, dan apa yang membuatnya jatuh cinta?\r\n\r\n \r\n\r\nDari 3 Menit ke Runner‘s High\r\n\r\nSebelum mengenal dunia lari, Anna Margret hanya seorang wanita 30-an biasa, yang hanya bertahan di atas treadmill selama tiga menit. Juga selalu minta tugas kliping tambahan tiap ujian atletik di sekolahnya dulu.\r\n\r\nKini, dosen Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia justru ‘kecanduan’ lari. Gandrungnya Anna pada dunia lari dimulai awal 2010 dari ajakan seorang teman yang dikenalnya di sebuah gym. Meski awalnya ragu karena pernah mengalami cedera, Anna justru merasakan kesenangan tersendiri ketika sudah mencoba.\r\n\r\n“Belakangan baru tahu ada yang namanya runner’s high,  yaitu ketika hormon endorfin keluar,†jelas Anna. “Pernah coba olahraga lain,tapi rasanya beda dari lari. Lari itu paling bikin happy. Tapi istilah runner’s high memang cuma ada di lari,†lanjutnya.\r\n\r\nAdination of Runners Indonesia\r\n\r\nBegitu cepat jatuh cinta pada olahraga lari membawa Anna menjadi salah satu duta Adination of Runners Indonesia, yaitu sebuah komunitas lari yang dengan sengaja bermaksud mengajak pelari-pelari baru—baik yang baru menyukai lari ataupun baru mau mencoba. Komunitas ini diluncurkan pada akhir bulan Oktober 2010, dengan Adidas sebagai supporter.\r\n\r\n“Kami difasilitasi untuk ketemu tiap Minggu pagi, dan tiap lari disediakan air minum dan pisang,†jelas Anna. Bersama keempat duta lainnya Pasha Yudadibrata, Heru Hendrajito, Muara Robin Sianturi, dan Erwin Wibowo, Anna ingin mengajak sebanyak mungkin orang untuk berlari.\r\n\r\nBagi Anna, yang paling penting dalam berlari adalah kemauan untuk meluangkan tenaga dan waktu. “Kalau aku yang baru berlari di usia 30 tahun lebih saja bisa, apalagi orang lain? Ini nggak cuma propaganda kosong tapi memang bukti. Karena kan nggak langsung ‘digeber’, mulai pelan-pelan, lalu baru pakai target waktu dan jarak,†jelasnya.\r\n\r\nAnna dan Dunia Lari\r\n\r\nMengapa Anna sangat mencintai lari? “Lari bikin awet muda. Ketahanan tubuh dan konsentrasi juga lebih baik. Untuk kerja lebih rileks, dan jam produktif jadi lebih panjang. Kalau habis lari jarak pendek (di bawah 15 kilo. red), malamnya pulang kerja bisa lebih lama terjaga,†jelasnya.\r\n\r\nBagi Anna, berlari sama seperti men-charge baterai. “Ada saatnya saya bangun pagi dan malas lari, lalu tidur lagi. Tapi di hari-hari lain, kadang sedang sakit pun saya memaksa lari. Kadang tambah ambruk, kadang malah sembuh. Itu rasanya kalau melakukan sesuatu yang kita senangi,†cerita Anna sambil tertawa.\r\n\r\nAnna mengakui bahwa lari selalu menjadi pelampiasannya ketika mood sedang kacau atau banyak pikiran. “Jadinya ringan banget; bebas, lepas. Dan memang ada penjelasan ilmiahnya yaitu hormon endorfin,†jelasnya. Sadar bahwa mood lari bisa muncul kapan saja, sepatu lari merah muda tak pernah lepas dari kakinya. “Beruntung di UI, kapan pun mau lari tinggal lari,†tukasnya.\r\n\r\nIa pun tak ambil pusing meski merasa tak jago berlari. “Tempo saya lambat,†akunya. Meski begitu Anna tetap rajin mengikuti berbagai kejuaraan lari, bahkan pernah meraih juara III. “Tapi saya masih yakin itu karena pesertanya kurang,†selorohnya sambil tertawa lepas.\r\n\r\nYang lebih membanggakan bagi Anna justru keberhasilannya mencapai garis finish tanpa terjatuh dan pingsan pada marathon pertamanya pada bulan Mei 2011. “Sampai garis finish terharu norak gitu, tahu dulu seperti apa, seantipati apa saya terhadap lari. Ternyata nggak  ada yang mustahil,†ungkap Anna dengan wajah berseri-seri.\r\n\r\n \r\n\r\nDisa Tannos

Lebaranan Ala Keluarga Wakil Wali Kota Depok

Bagaimana rasanya lebaran dengan delapan anggota keluarga? Pastinya sangat meriah. Itulah yang dirasakan keluarga M Idris A. Shomad (50), Wakil Wali Kota Depok. Idul Fitri tak pernah dirayakan dengan biasa-biasa saja oleh Idris dan keluarganya. Dengan enam anak—Aufa Taqiya (21), Hasna Zahida (19), Dhiya Al-Huda (17), Khansa Aidah (15), Fida Faizah (13), dan Huda Atqiya (7), selalu ada sesuatu yang spesial yang mereka lakukan di hari raya.

 

“Meskipun sedang tidak shalat, semuanya harus ikut mendengarkan khotbah,†tutur Elly Farida (46), istri Idris. “Setelah silaturahim, kita evaluasi siapa yang paling banyak khatam Alquran, biasanya dapat bonus uang. Seperti ajang lomba kebaikan, tapi ada reward-nya.â€

 

Keluarga Idris juga telah mengemas bingkisan untuk anak-anak di pinggir jalan, yang akan dibagikan setelah Idris selesai melakukan khotbah.  Selain itu, mereka juga selalu menggelar acara tukar kado dengan aneka permainan, di mana masing-masing anggota keluarga membeli kado tanpa batasan harga dan ditukar secara acak. “Ada kebiasaan juga, dari uang anak-anak yang dikumpulkan, mereka kasih hadiah ke bapak dan ibunya,†tutur Elly lagi.

 

Sebagai keluarga pemerintahan Kota Depok, tahun ini mungkin tak seperti biasanya, di mana ia selalu memasak makanan khas lebaran seperti opor ayam, sambal goreng, dan semur. “Kali ini rencananya akan digelar open house di rumah, terbuka bagi masyarakat dan menggunakan jasa catering yang telah disiapkan Pemkot Depok,†jelasnya.

Aisyah Khairunnisa/Disa Tannos

Laris Manis Bisnis Busana Muslim

Tidak salah bila Ramadhan disebut bulan penuh berkah. Paling tidak bagi para pengusaha busana muslim di Depok. Omzet penjualannya meningkat hingga 200 persen.\r\n\r\nBagi para penjual busana muslim, bulan suci Ramadhan sulit untuk dilewatkan begitu saja. Justru inilah momen untuk menggenjot produksi dan meningkatkan penjualan.\r\n\r\nRisna, pemilik usaha Molina batik di ITC Depok, mengaku omzet penjualan tahun ini naik hingga berlipat-lipat.\r\n\r\n“Penjualan sajadah batik dan gamis batik saya meningkat pesat hingga 55 persen,†ujar Risna kepada depoklik, Kamis (11/8). Penjualan online via internet pun meningkat pesat. “Kemarin satu kantor pesan 200 sajadah batik,†tambah Risna yang sudah menjalankan usahanya sejak 2008.\r\n\r\nSenada dengan Risna, Rima Waswasy, Manajer Operasional toko busana muslim D’Ajeng, Margonda,  juga mengakui naiknya omzet jelang Hari Raya ini. “Omzet penjualan D’Ajeng meningkat pesat hingga 150 persen setiap bulan Ramadhan,†ujarnya.\r\n\r\nBila pengusaha yang menjual busana muslim menikmati peningkatan omzet berlipat, bagaimana dengan produsen busana muslim. Apakah mereka mampu menangani permintaan produksi yang berlipat-lipat?\r\n\r\nPengalaman Ikbal Hasan bisa menjadi jawabannya. Pemilik usaha baju gamis bermerek Khalifa asal Pancoran Mas ini kewalahan hadapi lonjakan permintaan yang begitu besar. “Peningkatan produksi bisa dua kali lipat,” ujar Ikbal, yang memulai bisnis pembuatan baju gamis sejak 1999 ini.\r\n\r\nNamun, seperti perlengkapan ibadah lainnya, penjualan baju gamis ini juga mengenal musim. “Sekarang ini status produksi sedang tinggi, namun dua bulan lagi produksi kita turun,” jelas Ikbal.\r\n\r\nDi saat Ramadhan, Ikbal mampu memproduksi hingga 300 kodi setiap minggu. Padahal, pada bulan-bulan biasa produksinya hanya 50 hingga 100 kodi per minggu. Harga per kodi Rp 900.000 hingga Rp 1,5 juta. “Saya hanya melayani pembelian grosir,” tutur Ikbal.\r\n\r\nMeski telah meningkatkan produksi, lanjut Ikbal, ia belum bisa memenuhi seluruh permintaan. “Kami terkendala sumber daya manusia,” keluhnya. Maklum, untuk saat ini ia hanya mempekerjakan 30 pekerja borongan.\r\n\r\nBulan Ramadhan memang bulan yang penuh berkah. Peningkatan omzet berlipat tentunya juga harus diimbangi dengan persiapan produksi yang mampu memenuhi permintaan pasar, serta kualitas yang terjaga tentunya.\r\n\r\nM. Ikhsan

Inilah Dokter Pertama di Depok

Dokter merupakan profesi yang sangat vital dalam sebuah wilayah kependudukan. Informasi kesehatan sampai pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan merupakan hal utama yang menjadikan betapa penting kehadiran seorang dokter.rnrnMenarik bila kita mengetahui perjalanan seorang dokter yang merupakan dokter pertama yang ada di kawasan kita, setelah sebelumnya warga pribumi di Depok ini mengandalkan tabib tradisional.rnrnBeliau adalah dr. John Wilhelm Karundeng atau yang lebih dikenal dengan nama dr. Karundeng, adalah dokter pertama di Depok. Lahir di Mojokerto pada tanggal 19 Juni 1932, dr. Karundeng juga mantan pejuang perang di masa kemerdekaan RI.rnrnPria ini mengenyam pendidikan di Europesche Lagere School (ELS) Purwokerto tahun 1938, Dai Ichi Sjogako (Sekolah Jepang) Palembang tahun 1943, dan MULO Palembang tahun 1945, kemudian di tahun yang sama ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Palembang.rnrnSemasa Kecil Dr. JW. Karundeng terbiasa dalam kehidupannya berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah dikarenakan orang tuanya, yaitu Ernest Karundeng adalah seorang Kepala Stasiun pada Perusahaan Negara Kereta API (PNKA) pada saat itu (Sekarang PT. KAI/red), yang memang selalu berpindah-pindah semasa tugasnya.rnrnPada tahun 1953, JW Karundeng mengenyam pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sampai dengan semester akhir, dan beliau ditugaskan ikut sebagai tenaga pengajar di Makasar sehingga beliau menyelesaikan gelar Dokternya di Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makasar. Tahun 1963 beliau kembali ke Ibu Kota dan bertugas di RS Cikini Jakarta sebagai Dokter Full Time sampai dengan akhir tahun 1964.rnrnDiawal tahun 1965 dr. JW Karundeng diminta Departemen kesehatan Jakarta untuk bertugas menjadi dokter di wilayah kewedanaan Depok (sekarang Kota Depok/red) sampai beliau pensiun tahun 1994.rnrndr. JW. Karundeng adalah dokter pertama di Kota Depok yang telah banyak memberikan sumbangsihnya bagi masyarakat Depok dan sekitarnya, jabatan demi jabatan pernah beliau emban semasa bertugas di Kota ini, beliau juga pernah menjabat kepala Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kab. Bogor tahun 1980-1989, semasa Depok masih menjadi Kota Administratif.rnrnMenurut redaksi depoklik, pria ini merupakan salah satu tokoh legendaris di Depok.rnrnrnBiodatarnNama : JOHN WILHELM KARUNDENGrnGelar  : DokterrnTempat, Tgl Lahir : Mojokerto, 19 Juni 1932rnAlamat Tinggal : Jl. Citayam Raya No. 12 B,C,D,E Depok Lama, Kota Depok, Jawa Barat.rnRiwayat pendidikan :rnrn1. Europesche Lagere School (ELS) Purwokerto 1938rn2. Dai Ichi Sjogako (Sekolah Jepang) Palembang 1943rn3. MULO Palembang 1945rn4. Sekolah Militer Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Palembang 1945rn5. SMA N 1 Palembang 1951rn6. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1953 s.d. semester akhir.rn7. Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin Makasar 1963.rnrnIstri   : Ny. Marlie Karundeng-SoedirarnAnak :rnErnts Victor Karundeng, SHrnIr. Johannes Eduard KarundengrnDr. Dicki Julianus KarundengrnDonald Oscar Karundeng S.Sos. M.Si.rnDr. Mario Kristiaan KarundengrnrnWafat : Depok, 23 Nopember 1995 (dimakamkan di Taman Makam Nasional Kalibata)rnrnPengalaman Jabatan :rn

      rn

    1. Kepala Puskesmas Depok (1967 – 1979)

rn

  • Kepala Puskesmas Tjimanggis (1967 – 1979)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Sawangan (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Parung (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Gunung Sindur (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Puskesmas Pondok Tjina (1967 – 1974)

 

rn

  • Kepala Ling-kes Kanwil Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor (1974 – 1979)

 

rn

  • Kepala Rumah Sakit Harapan Depok (1967 – 1980)

 

rn

  • Kepala Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong Kab. Bogor (1980 – 1989)

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Hamengku Karya Depok.

 

rn

  • Penanggung jawab Klinik Mekar Sari Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Pancaran Kasih Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Klinik Budhi Jaya Depok.

 

rn

  • Penanggung jawab Klinik Anugrah Depok.

 

rn

  • Penanggung Jawab Rumah Bersalin Sumber Bahagia Depok.

 

rn

  • Pendiri Yayasan Pendidikan 66 Depok.

 

rn

  • Ketua Umum Legiun Veteran RI Kota DepokrnrnrnTanda Penghargaan :rn1. Surat Tanda Jasa Pahlawan Oleh Presiden Soekarno.rn2. Bintang Gerilya No. 82584/1958.rn3. Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan I No : 202314/1958.rn4. Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan II No : 202314/1958.rn5. Satyalencana Gerakan Operasi Militer III No : 36004/1959.rn6. Satyalencana Gerakan Operasi Militer IV No : 222508/1959rn7. Penghargaan dari perusahaan Negara Kereta Api dalam peristiwa Kecelakaan Kereta I di Depok, Bulan September 1968.rn8. Penghargaan Gabungan Bridge seluruh Indonesia (GABSI) No : 0900/SEKMA/K-IX/1974.rn9. Penghargaan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) No : 090/SEKMA/K-IX/1974.rn10. Penghargaan Bupati Bogor No : III/303/T.U/1974 tanggal 13 Juli 1974.rn11. Penghargaan Bupati Bogor No : 104/A-IV/1979 tanggal 22 Desember 1979.rn12. Penghargaan Walikota Depok Tanggal 17 Agustus 1995.

 

rn

rnCLrnrnSumber: http://www.facebook.com/groups/drjhonwilhelmkarundeng/

Kelompok Industri Kreatif Depok Terbentuk

Berlokasi di Aula Bapeda Kota Depok, Kamis (28/7) siang ini para pelaku wirausaha industri kreatif Kota Depok, Jawa Barat berkumpul. Mulai dari pengusaha kerajinan, agrobisnis, hingga media duduk bersama dalam sebuah forum yang digelar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Depok.\r\n\r\nForum yang dipimpin oleh A. Limbong, wakil dari Disperindag ini merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden RI soal Industri kreatif, yang meliputi; Periklanan, Arsitektur, Pasar Seni dan Barang Antik, Kerajinan, Desain, Fashion, Film/Video/Fotografi, Permainan Interaktif, Musik, Seni Pertunjukan, Penerbitan dan Percetakan, Layanan Komputer dan Piranti Lunak, Radio dan Televisi, serta Riset dan Pengembangan.\r\n\r\nForum yang turut dihadiri oleh Staf Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat ini mengusung tema ‘Penumbuhan Industri Kreatif Berbasis Komunitas’. Selain sosialisasi dan bertukar pikiran mengenai industri kreatif, siang itu forum juga menetapkan Ketua Formatur atau pimpinan sementara. Wisnu Gardjito, pengusaha agroindustri Depok, dipilih oleh forum sebagai ketua sementara hingga terpilih dan terbentuknya pengurus tetap Kelompok Industri Kreatif Depok. Sementara itu, Coki Lubis, Pemimpin Umum depoklik.com, sebagai Wakil Ketua sementara.\r\n\r\n”Di Depok banyak wirausaha industri kreatif, namun lemah di pemasaran. Untuk itu kita memang perlu berjaring dan mendapat dukungan pemerintah setempat, menentukan program, dan pendampingan usaha-usaha yang baru,” ujar Wilmar Mawan, Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) cabang Depok, yang siang itu menetapkan diri sebagai anggota komunitas yang baru terbentuk ini. Menurut Wilmar, setelah komunitas ini terbentuk sempurna, salah satu program yang direncanakan adalah Depok Expo.\r\n\r\nMenurut Wisnu, kelompok ini akan terus melebarkan jaringannya. “Kita akan terus mengajak teman-teman wirausaha lainnya untuk bersama-sama berjaring di komunitas ini,” ujarnya. Wisnu juga berharap agar Depok memiliki sebuah gedung yang bisa mewadahi pelaku industri kreatif berkumpul dan menjadi pusat perdagangan (Trading Center) lokal, nasional sekaligus ekspor-impor.\r\n\r\nBaiklah, maju terus wirausaha lokal kota Depok. Ditunggu ya gebrakannya.\r\n\r\nDisa Tannos\r\nFoto: AN\r\n\r\n\r\n \r\n\r\n \r\n\r\n \r\n\r\n \r\n\r\n

Abon Ikan Patin a la Warga Pancoran Mas

Berawal dari program pelatihan usaha di Universitas Indonesia (UI), sejumlah ibu-ibu warga Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, kini memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di sekitar lingkungan untuk membangun usaha bersama. Kaum ibu ini kini sukses memproduksi abon dari bahan ikan patin. Menariknya, ikan patin yang digunakan juga hasil budidaya warga setempat.\r\n\r\n“Dalam sehari, kami biasa mengolah 10 hingga 15 kilogram ikan patin dan menghasilkan 40 bungkus abon ikan patin,†ujar Sri Wulan, penggagas Abon Ikan Patin kepada depoklik, Senin (11/7) siang kemarin. Ikan patin menjadi pilihan bahan utama, karena protein yang dikandung cukup tinggi dan mudah didapat. “Anak-anak pun suka dengan kelezatan abon ikan ini,†ungkapnya.\r\n\r\nSemua bagian tubuh ikan patin dapat dimanfaatkan menjadi olahan makanan. Dagingnya dibuat abon, kepalanya dibuat gulai kepala ikan dan kulitnya dijadikan kerupuk. Jadi semuanya bermanfaat, yang terbuang hanya tulangnya saja.\r\n\r\nUntuk membuat abon ikan patin diperlukan bahan-bahan khusus agar tidak amis dan gurih, seperti; bawang merah, lengkuas, jahe, kunyit, sereh, daun salam. “Sebelumnya ikan dikukus terlebih dahulu menggunakan daun salam selama beberapa jam. Bumbu-bumbu lainnya dihaluskan dan kemudian dikeringkan dengan menggunakan alat khusus sehingga menjadi abon. Biasanya untuk membuat abon menghabiskan waktu hingga seharian,†kata Sri.\r\n\r\nKegiatan ini juga bertujuan untuk menambah income para ibu-ibu warga Pancoran Mas. “Alhamdulillah, meski belum mendatangkan omzet besar namun usaha ini cukup menjanjikan,†jelas Sri. Saat ini, Sri dan rekan-rekannya sedang menunggu perijinan sertifikasi halal dari pihak yang bersangkutan. “Memang agak lama waktunya, tapi kami tetap menunggu. Jika sudah mengantongi sertifikasi halal, tak menutup kemungkinan bisa berekspansi lagi,†ungkapnya.\r\n\r\nProduk abon ikan patin dengan merk Ibu Ratu (Ikatan Ibu-Ibu RT Satu) tersebut sudah mulai dipasarkan. “Kami sering mengikuti bazaar-bazaar. Abon ini akan bertahan hingga dua bulan, karena kami tak menggunakan pengawet. Kami memasarkannya dengan harga yang bervariasi. Untuk ukuran 50 gram kami tawarkan dengan harga Rp 10 ribu sedangkan untuk ukuran 100 gram kami jual dengan harga Rp 20 ribu,†tandas Sri.\r\n\r\nTertarik untuk cicipi abon ikan patin a la ibu-ibu RT Satu? Berkunjung saja ke Jalan Makam Pitara, RT 01, RW 13, No.96, Pancoran Mas, Depok.\r\n\r\nRetno Yulianti\r\nFoto: eno

Warung Depok, Usaha Online yang Menjanjikan

Bagi Rani Trianggarini, mengikuti kemajuan teknologi dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Di bawah bendera usahanya www.warungdepok.com, warga Permata Depok, Citayem, Jawa Barat ini telah memulai usaha online shopping sejak tiga tahun yang lalu.”Awalnya, Rani menjual berbagai mainan anak-anak dan pakaian, hingga akhirnya Rani memutuskan untuk menjual berbagai jenis produk makanan pada satu setengah tahun belakang ini. Hal ini dikarenakan lebih banyak permintaan akan produk makanan.”Produk makanannya bukan sekedar kebutuhan sehari-hari. Situs warungdepok.com menampilkan berbagai makanan sehat, seperti seperti kaldu non-msg, bubur bayi organik, mie organik, kerupuk organik dan yang paling banyak dipesan adalah abon cabe.”â€Sebulan saya dapat memesan produk abon cabe sebanyak 45 kilo abon atau 450 abon cabe ke produsennya di Jakarta,†terangnya. Dirinya memilih produk abon cabe tersebut, karena abon cabe masih jarang tersedia di Depok. Dalam sebulan, Rani mengaku dapat meraih omzet sekitar dua juta rupiah per hari. Bahkan sekitar tiga bulan yang lalu, dirinya mengaku dapat menembus angka tujuh juta rupiah dalam sehari. Pendapatan tersebut ia dapatkan dari penjualan abon cabe, dengan harga berkisar Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per botol.”Omzet yang menggiurkan tersebut tak Rani dapatkan secara serta merta. Awalnya, Rani yang bekerja di sebuah hotel berbintang di Jakarta hanya ingin bekerja di rumah agar lebih fokus dengan keluarga. Dengan gigih, Rani mengelola online shopping dengan pemasaran melalui jejaring sosial, seperti twitter.”Selain itu, sebagai pelaku usaha, Rani menjalankan usahanya dengan strategi ‘menjemput bola’. Dirinya mengambil langsung barang dagangannya tersebut dari produsen di Jakarta ataupun di luar daerah yaitu di Yogyakarta. Rani menambahkan, bagi seseorang yang ingin berkecimpung di usaha online, tak perlu ragu jika belum memiliki modal. Pasalnya, banyak usaha sejenis yang menawarkan kerja sama dengan sistem dropsipping. Sistem dropsipping adalah sistem kerja sama antar distributor barang dengan supplier. Konsumen yang memesan barang dari supplier akan dikirimkan langsung dari distributor besarnya. Jadi, supplier tak perlu menyetok barang yang dijual di online shop-nya.”Pelan tapi pasti, Rani yang dulu menggunakan rumahnya sebagai kantor dan  gudang barang dagangan kini telah berkembang. Ia telah memiliki kantor “Warung Depok†dan memiliki pegawai dan dua kurir yang mengelola jasa layan antar produknya kepada konsumen di Depok, Jakarta, dan sekitarnya.  Tertarik mencoba?”Retno YuliantirnFoto     : Eno” 

Tanaman Hias, Peluang Menjanjikan Agrobisnis

Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Depok menyatakan tanaman hias merupakan salah satu proses pemberdayaan dan pemahaman berkelanjutan bagi masyarakat untuk menuju pada tahap kesejahteraan. “Tanaman hias merupakan agrobisnis yang berpotensi,” ujar Widyati Riyandani, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perikanan Depok. “Menurut Widyati saat ditemui depoklik di Pameran Tanaman Hias Depok Town Square (Detos), Rabu (4/5) lalu, salah satu cara memberdayakan tanaman hias adalah melalui pameran. Sebab, dapat memberdayakan kelembagaan kelompok tani untuk mewujudkan petani sejahtera dengan mengenalkan komoditi tanaman hias pada warga Depok. Berbagai tanaman hias pun turut menghiasi Detos hari Rabu lalu, seperti, jenis landscape, yakni tanaman hias yang biasa berada pada taman yaitu  soka, tapak dara, pucuk merah. Selain itu, jenis tanaman buah juga ikut dipamerkan dalam kegiatan ini.”Ia menyatakan bahwa pihaknya akan terus berupaya mendorong para petani agar mampu meningkatkan hasil usahanya. “Langkah yang kita terapkan saat ini adalah melakukan pembinaan kepada para petani, dan itu bukan hanya petani belimbing saja. Petani tanaman hias pun juga ikut merasakan pembinaan yang kami lakukan, seperti yang dialami oleh sejumlah petani tanaman hias yang berada di lingkungan Bojong Sari, Depok,†tuturnya.”Salah satu faktor yang mendukung bahwa tanaman hias adalah peluang yang menjanjikan adalah faktor tempat. Depok bukanlah sekedar kota urban, namun berpeluang besar menjadi sentra usaha pembudidayaan tanaman hias. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk usaha tanaman hias, termasuk pekarangan rumah. Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Depok terus membuka dan meningkatkan peluang pasar untuk komoditi tanaman hias dengan berbagai cara, yaitu dengan melakukan pelatihan, mengadakan pameran di luar Depok, dan memfasilitasi permodalan bagi para petani. “Permodalan tergantung dari skala usaha yang petani miliki. Lahan dan komoditi berbeda juga. Misalnya, anthurium berbeda karena bisa berkisar 1,5 juta rupiah. Investasinya besar, tingkat perawatannya rumit, dan daun tidak boleh berlubang atau cacat, untuk memiliki nilai lebih,” tutur Widyati.”Retno YuliantiFoto: Eno

New Hunteria: Bisnis Sepatu Kulit Sapi Khas Depok

\r\n\r\nBila Anda mencari sepatu berkualitas baik dengan harga terjangkau, plus Anda dapat melihat langsung proses pembuatannya cobalah berkunjung ke home industri New Hunteria yang berlokasi di Jalan Siliwangi nomor 7, Depok. Usaha produksi sepatu yang dirintis Muhammad Ahda bersama orang tuanya sejak 1987 ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu penggunaan kulit sapi asli sebagai bahan pembuatan sepatu.\r\n\r\n \r\n\r\nHak Paten Kulit Sapi.\r\n\r\nâ€Dulu bapak saya ahli membuat sepatu dan membuat usaha ini, kini saya meneruskan keahlian dan usaha tersebut,†tutur Muhammad Ahda saat ditemui depoklik. Jam terbang yang tinggi  tersebut tentu telah diuji kualitasnya. Bila masih ragu Anda dapat melihat langsung proses pembuatannya. Sebab, pabriknya berada persis di belakang  toko New Hunteria. Desain sepatu pun dibuat sendiri dengan mengikuti tren. Sepatu yang dijual pun dibuat dari bahan kulit sapi berkualitas baik, yaitu yang lembut agar mudah dibentuk atau dipola dalam proses pengerjaannya.\r\n\r\nProduk sepatu dari bahan kulit sapi asli di Kota Depok bahkan telah dipatenkan. Hal ini bermula dari keikusertaan Ahda mengikuti acara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok yang kemudian disarankan untuk membuat hak paten. Hak paten ini yang membuatnya mengubah nama Hunteria menjadi New Hunteria. Alasannya sederhana, nama Hunteria telah digunakan dalam daftar hak paten nasional. Nama New Hunteria sendiri merupakan gabungan dari beberapa nama. “Kalau New itu diambil dari nama istri Neldawati, Hu diambil dari nama orangtua Husni, kalau Te itu artinya Telmisi adalah ibu, huruf R artinya Ridwan adalah anak dan A itu diambil dari nama saya Ahda. Maka jadilah New Hunteria,†jelasnya.\r\n\r\nJam terbang tinggi dan bermodal hak paten, tentu bukan berarti usahanya mulus bak jalan tol. Masalah pemasaran masih menjadi kendala yang cukup berarti. Ahda mengakui untuk saat ini sepatu produksinya belum bisa merambah ke pusat perbelanjaan. Menurut Ahda, karena target yang diminta pihak pengelola pusat perbelanjaan dengan harga yang dibayarkan ke produsen sepatu tidak sesuai. Hal itu tentu  bisa mempengaruhi kualitas dari sepatu. “Misalnya, saya diminta memenuhi target dalam waktu satu bulan menghasilkan 1000 pasang sepatu untuk dijual di mal tetapi pembayarannya dari pihak mal dua bulan setelah pengiriman. Sementara, target 1000 pasang sepatu berarti memproduksi 2000 sepatu. Sedangkan harga sepatu per pasang 100 ribu rupiah yang saya tawarkan, kalau sudah begini berapa modal awal yang harus dikeluarkan?.Sementara harga sepatu dijual di mal ditekan, kan kita tidak bisa memberikan kualitas sepatu yang bagus dengan harga diatas 300 ribu. Padahal, kalau saya menjual di toko hanya sekitar 250 ribu ribu dan kualitasnya dijamin bagus,†Ahda menjelaskan dengan bersemangat.\r\n\r\n \r\n\r\nLangganannya Para Guru\r\n\r\nUntuk produksi sendiri, New Hunteria termasuk dalam kategori produktif. Dalam sebulan New Hunteria dapat memproduksi 200 hingga 300 pasang sepatu. Untuk harganya, sepatu perempuan berkisar Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Sedangkan, sepatu pria berkisar Rp 150.000 hingga Rp 350.000. “Konsumen yang datang biasanya membeli dalam jumlah yang tak tentu. Bisa sepasang, bisa juga memesan atau membeli sepatu dalam jumlah yang banyak. Kebanyakan, perusahaan  memesan dalam jumlah banyak,†jelas pemilik usaha yang sudah memiliki banyak pelanggan tetap ini. Sampai sekarang pelanggan terbanyak memang datang dari kalangan pendidik di sekolah. Bukan tanpa alasan para guru memilih New Hunteria. Menurut pengakuan Ahda, para guru tersebut menyukai kualitas bahannya dan daya tahan sepatu yang cukup lama.\r\n\r\nSedangkan, omset dari bisnis ini terus naik setiap tahunnya. “Sejak  tahun 1987 kenaikannya berkisar sepuluh persen tiap tahun. Tetapi, tahun paling stabil adalah  2002 hingga sekarang,†kata Ahda, yang enggan menyebutkan nominal kenaikan omsetnya.\r\n\r\nToko New Hunteria yang memiliki sekitar tujuh pegawai ini masih memiliki beberapa rencana. Salah satunya, mempromosikan sepatu buatannya ke sekolah-sekolah di Depok. Penasaran dengan sepatu dari kulit sapi asli? Mampirlah ke salah satu toko New Hunteria di kawasan kita ini.\r\n\r\n \r\n\r\nYaitu, Jalan Siliwangi nomor 7 Depok yang berdiri pada 2001, kemudian di Jalan Arif Rachman Hakim nomor 2 Depok, ini adalah tempat usaha pertama kali pada 1987, selain itu berada di Jalan tole Iskandar nomor 55 Depok yang berdiri usahanya pada 1991.\r\n\r\n \r\n\r\nNew Hunteria\r\n

      \r\n

    • Jl. Siliwangi No.7

\r\n

  • Jl. Arif Rachman Hakim No. 2

 

\r\n

  • Jl. Tole Iskandar No. 55

 

\r\n

\r\n \r\n\r\nRetno Yulianti\r\n\r\nFoto: Noe