fbpx

Eddy Faisal: Sejatinya, Negara Kita Belum Merdeka! (3)

Sebagaimana sebelumnya depoklik.com mengulas catatan perjalanan hidup Eddy Faisal, yang pada akhirnya menambatkan diri ke ranah politik, maka dalam tulisan kali ini kami mencoba mendalami lebih jauh pandangan beliau seputar politik. Ditemui di ruang kerjanya, di Duta Holding Company, berikut petikan wawancara eksklusif bersama Eddy Faisal.

T: Apa yang mendasari Anda untuk memilih jalur politik sebagai salah satu dari sekian aktifitas yang sudah Anda tekuni?
J: Begini, jadi segala sesuatunya bukanlah tanpa sebab. Semua adalah kausalitas, atau ada kaitan erat sebagai hukum sebab akibat. Kiprah saya sebagai tenaga ahli di DPR RI sejak 2009-2012, saya merasa perlu untuk masuk ke dimensi politik praktis. Banyak ketidaksempurnaan tata kelola negara, yang membuat saya terpanggil untuk menceburkan diri ke politik.

T: Adakah hal krusial yang kemudian membuat Anda mantap terjun ke politik?
J: Tanah Air kita saat ini, sejatinya belum merdeka sepenuhnya. Beberapa sektor, tidak hanya soal moneter, kita masih “dikontrol” oleh pengaruh asing. Akibatnya, negeri ini tidak leluasa memposisikan diri untuk secara utuh meletakkan dasar kebijakan negara. Misalnya, segala kebutuhan pokok pemerintah kita kerap impor, buruh kita kerap teriak soal UMR, masyarakat mengeluhkan naiknya harga komoditas. Itu semua sedikit buah dari tata kelola yang tidak sempurna, dan saya berkeyakinan salah satu upaya membenarkan kekeliruan itu ialah melalui ranah politik, melalui regulasi yang disusun di parlemen. Dan saya mengambil pilihan itu.

T: Mengapa harus PKB? Bukankah pilihan partai yang lain cukup variatif?
J: (Tertawa) Saya dibesarkan dari kalangan NU di Medan dulu. Sejak kecil saya sudah diajarkan mengenai ajaran, nilai, serta ideologi Nahdliyin. PKB, saya anggap sebagai salah satu wadah politik, untuk mengakomodir pemikir NU menuangkan potensinya di Politik. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap partai lain, PKB memberikan saya rasa nyaman untuk berekspresi dalam berpolitik. PKB sangat concern untuk memberikan sumbang peran dan saran bagi Republik kita tercinta ini.

T: Anda salah satu kandidat DPR RI, dari PKB, dalam Pemilu 2014 nanti. Apa ekspektasi Anda untuk itu?
J: Pertama, saya meyakinkan diri saya bahwa momentum 2014, adalah kesempatan emas bagi PKB untuk bangkit. Baik kadernya, Ulamanya, Cendekianya. Kehadiran saya bukan untuk menang atau kalah, kalau soal itu saya akan berikhtiar dan bertawakal sepenuh hati. Akan tetapi, lebih bagaimana menstimulus kekuatan energi  yang ada, untuk mari berjuang membangun negeri. Saya tentunya berharap, geliat itu memberi atmosfer positif bagi PKB di Depok, Bekasi dan daerah lainnya dalam mengembangkan dan memaksimalkan peran dalam ranah politik.

T: Seandainya Anda terpilih, apa yang menjadi fokus Anda kelak ?
J: Aamiin.. Saya sudah mempelajari sepenuhnya bagaimana kondisi realita di Depok dan Bekasi. Di Depok, misalnya soal keberpihakan layanan pendidikan kesehatan terhadap warga miskin, kesempatan kerja, dan lain sebagainya. Semua belum sempurna. Tentunya inventarisasi setiap masalah yang ada, akan saya tuangkan dalam remind value yang akan saya perjuangkan di parlemen DPR RI nantinya, bila Allah SWT mentakdirkan saya ke sana. Selain meletakkan pondasi dan road map pembenahan negara, saya pun ingin keberadaan saya memiliki peran dalam menciptakan peningkatan derajat hidup masyarakat.

Gatot Suherman
Foto: Dok. Pribadi

Eddy Faisal: Terpanggil Benahi Negara, Pilih PKB Sebagai Tambatan Politik (2)

Aktifitasnya sebagai tenaga Ahli di DPR RI, tepatnya di Komisi XI, menjadikan Eddy Faisal sosok yang paham betul segala sesuatu yang perlu dibenahi di Negara ini. Interaksinya dengan para politisi di Senayan, disisi lain, mematangkan dirinya dalam mempelajari dan memahami seluk beluk wajah politik Nasional.

Akhir Tahun 2012, Eddy Faisal mengundurkan diri dari posisi Tenaga Ahli Komisi XI. Kegundahan hati dan keterpanggilan diri membenahi negeri, “mendoktrin” dirinya untuk benar benar terjun ke politik.

Sosok Eddy yang memiliki basis intelektual muda, berkarakter, dan produktif dalam menyumbangkan gagasan konstruktif, membuat beberapa bendera Partai Politik mendekat. Anak Medan ini seketika menjelma menjadi magnet, bagi beberapa partai untuk meminangnya, sebagai bekal amunisi menjelang pesta politik Pemilu 2014.

Bukan Eddy Faisal bila bisa didikte, dan diarahkan kemana ia akan berlabuh. Pilihannya mantap untuk menambatkan idealisme politiknya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Alasannya minimalis, kedekatan historis keagamaan keluarganya di Medan, dan pembumian nilai-nilai Nahdliyin sejak ia kecil, menjadikannya mantap bergabung dengan partai yang identik dengan keluarga besar NU tersebut.

Back to Basic, mungkin menjadi istilah yang mendekati sepadan dengan alur pikir Eddy Faisal, untuk kembali ke NU melalui pilihannya berkiprah di PKB.

Kini, sosok pria murah senyum itu, didaulat menjadi Calon Legislatif (Caleg) DPR RI, dari PKB untuk wilayah pemilihan Kota Depok-Bekasi. Karakter leadership nya yang sudah ditempa sejak keaktifannya semasa mahasiswa di STAN, serta kiprahnya di beberapa organisasi di Depok, seperti FKPPI, Kadin Kota Depok, menjadikannya figur yang sangat diperhitungkan para kompetitornya.

Tidak tanggung-tanggung, Eddy Faisal siap jatuh bangun membesarkan nama PKB baik di kancah Nasional maupun di Depok, lepas dari pragmatisme jangka pendek momentum 2014.

Gatot Suherman
Foto: Dok. Pribadi

Eddy Faisal: Perkenalannya Dengan Politik, Berawal Dari Senayan

Jalan hidup seseorang tak pernah bisa diduga secara empiris ataupun analitis. Begitu pula tentang alur lingkar hidup, seorang Eddy Faisal. Sukses menjadi role model pengusaha tangguh, sekaligus motivator entrepreneur, lelaki perantauan Medan ini akhirnya terjun ke dunia Politik. Satu dimensi yang sarat persaingan, kompetisi gagasan, dan menuntut kecakapan karakter kepemimpinan.

Bagi Eddy Faisal, ranah politik bukan merupakan hal baru dalam perjalanan hidupnya. Kepribadiannya yang supel dalam bergaul, mempertemukannya dengan iklim politik, disaat melakoni profesinya sebagai seorang pengusaha dan ahli perpajakan. Jangan heran, pada tahun 2009, dirinya sudah disodorkan tawaran untuk mendaftar menjadi Calon Legislatif (Caleg) dari Partai Demokrat. Namun, lulusan STAN ini menolak tawaran tersebut, dan memilih untuk mendalami dunia yang sudah sejak lama ia selami, yakni perpajakan dan financial planner.

Meski belum memilih untuk berpolitik praktis, ketersinggungannya dalam dunia politik, dimulai sejak tahun 2009, dimana owner Duta Holding Company (DHÇ) ini, diangkat menjadi Tenaga Ahli di Komisi 8 DPR RI. Sebuah posisi yang secara langsung ataupun tidak, “memaksa” Eddy untuk bersinggungan taktis dengan alam politik di Senayan. Kehadirannya sebagai Tenaga Ahli profesional, di Komisi VIII, hanya berlangsung 1,5 tahun. Eddy memilih berhenti, dengan alasan yang sederhana ala seorang akademisi: “..ini bukan dunia saya.â€

Historinya, di Komisi VIII dirinya harus membantu para legislator di Senayan, berkenaan dengan sisi agama, sosial, kebencanaan, hingga perlindungan anak. Sebuah tempat yang dirasa kurang pas dengan potensinya sebagai seorang ahli fiskal dan keuangan negara. Namun alih-alih enggan kehilangan potensi, mantan Jaka-Dara Medan ini, kembali ditawarkan posisi sebagai Tenaga Ahli, kali ini tawaran datang untuk mengisi posisi Tenaga Ahli di Komisi XI.

Eddy tak bisa mengelak, komisi XI adalah komisi yang berhubungan dengan lembaga keuangan negara seperti Kemenkeu, Bank Indonesia dan BPK ini, memang sangat cocok dengan potensi dan skill Eddy. Pria Medan ini pun mau tidak mau, menerima pinangan tersebut. Sebuah pilihan, yang tidak ia sadari kelak akan menuntun dirinya secara utuh ke alam politik.

Gatot Suherman
Foto: Dok. Pribadi

Gagal Masuk IPB, Waras Wasisto Pernah Jadi Supir Angkot

Menjadi seorang Waras Wasisto seperti sekarang tentu tidak didapat dengan mudah begitu saja, banyak lika-liku kehidupan yang harus di jalani.

Pria yang dikenal sangat dekat dengan para crew awak media baik cetak maupun elektronik tersebut merupakan sosok yang sangat ramah dan sangat terbuka di dalam memberikan semua informasi terkait semua kegiatan yang diselenggarakan partai baik tingkat regional maupun nasional.

Setelah lulus SMA tahun 1989, pria yang akrap dipanggil dengan Mas Waras ini langsung pergi ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah jurusan pertamanan di Institiut Pertanian Bogor (IPB).

“Berangkat ke Jakarta, kebetulan bule (Bibi) saya tinggal di Kranji, begitu dapat ijazah saya langsung ke Jakarta dengan harapan melanjutkan kuliah di IPB,†ucapnya saat ditemui depoklikcom.

Sayang, keinginan untuk menjadi mahasiswa IPB tidak terlaksana lantaran Mas Waras saat itu sakit misterius selama 6 bulan.

“Di situ saya sakit 6 bulan, tidak tahu sakit apa bahkan hampir mati, dengan pertimbangan akhirnya saya tidak jadi melanjutkan kuliah ke IPB, jadi cuma daftar ulang saja,†jelasnya.

Setelah sembuh dari sakit dan menganggur selama 1 tahun, dirinya mengisi aktivitas dengan menjadi timer dan belajar menyetir mobil, hingga akhirnya menjadi sopir angkot 03 jurusan Bekasi-Pondok Kopi.

“Kalau malam kadang bantu nyuci mobil, itu dilakukan selama 1 setengah tahun, kalau ditanya sama temen-temen supir angkot 03, semua mungkin masih kenal saya sampai sekarang,†kenangnya.

Khatam menjadi sopir angkot, Waras Wasisto ditawari oleh pimpinan perusahaan Tom Yang, yaitu pabrik sepatu merek Reebok di Bekasi Timur.

“Kebetulan GM (General Manager) nya orang madiun menawari saya kerja di sana, itu sekitar bulan Februari tahun 1991,†ucap pria kelahiran Madiun, 43 tahun lalu.

Setelah empat bulan bekerja, saat itu ada pemilihan ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), karena berkat pengalaman organisasi selama Sekolah dan di dorong rekan-rekan dari departemen dirinya bekerja, akhirnya Waras mencalonkan diri dan di tahun 1991, Mas Waras terpilh menjadi ketua SPSI di PT Tom Yam menjabat selama lebih kurang tiga tahun.

Di tahun 1993, rupanya karir organisasinya tidak berhenti disitu saja. Ada musyawarah Cabang (Muscab) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) SPSI se-kota Kabupaten Bekasi yang saat itu masih belum terpisah. Kemudian Pria kelahiran Madiun itu pun terpilih menjadi Wakil Sekretaris.

Tak hanya itu, di tahun 1996 Mas Waras dipanggil pimpinan perusahaan dan harus memilih, mau berkarir di perusahaan atau berkarir di organisasi, saat itu juga dirinya dengan tegas memberikan jawaban untuk berkarir di organisasi.

“Karena berorganisasi itu membuat saya senang dan nyaman, meskipun itu beresiko terhadap kondisi perekonomian saya, ketika berorganisasi, saya makan dan minum dari mana, saya tidak berfikir sejauh itu,†ungkapnya.

Ketika diminta membuat surat pengunduran diri oleh perusahaan tempat Ia bekerja, saat itu dirinya mendapat pesangon yang lumayan. Uang pesangon yang didapat tersebut kemudian dibelikan sebuah rumah.

“Saya langsung belikan rumah, untuk pertama kali, jadi saya bujangan sudah punya rumah,” jelasnya sambil tertawa.

Setelah mengundurkan diri dari perusahaan, dirinya mulai belajar mengurusi orang banyak di DPC SPSI yang waktu itu kota kabupaten Bekasi menjadi kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara. Hingga saat ini, hubungannya dengan serikat buruh maupun managemen perusahaan masih terjalin baik.

Biodata:

Nama                     : Waras Wasisto. SH
TTL                         : Madiun, 9 oktober 1970
Jabatan                 : Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat
Istri                        : Lisa Ifana Putri. SE
Anak                      : Mutua Ellena Wasisto, Ghina Rabbani Wasisto, Drinne Hasna Wasisto, Amira    Prameswari Wasisto

Karir

– Wakil Ketua DPC SPTSK SPSI Kabupaten – Kota Bekasi  1991 s/d 1993.
– Sekretaris DPC SPTSK SPSI  Kabupaten – Kota Bekasi 1993 s/d 1998.
– Sekretaris DPC SPN Kabupaten – Kota Bekasi 1998 s/d 2001.
– Ketua DPC SPN Kab. Bekasi 2001 s/d 2003.
– Ketua DPD SPN Propinsi Jawa Barat 2003 s/d 2006.
– Departemen Buruh Tani dan Nelayan DPD PDI Perjuangan Jawa Barat.
– Wakil Ketua Bidang Infokom DPD PDI Perjuangan Jawa Barat 2010 s/d sekarang

Ricky Juliansyah

 

Muda, Berani & Peduli, Waras Wasisto: Jangan Tipu Mereka!

Waras Wasisto, pria bersosok hitam manis ini dikenal semua kalangan masyarakat di wilayah Jawa Barat terkait jabatannya sebagai salah satu pengurus DPD PDI Perjuangan yang membidangi infokom. Setiap kegiatan dan hajat yang diselenggarakan partai tentunya tak terlepas dari peran seorang Waras Wasisto.

Bicara soal kehidupannya, Waras mengaku perjuangan panjang di sepanjang karir organisasi yang pernah digelutinya selama ini menempanya untuk tetap eksis berjuang di dalam memperjuangkan hak masyarakat yang sering pula terabaikan.

“Tak ada yang namanya perjuangan itu berakhir,†ucap pria kelahiran Madiun, 43 tahun yang lalu itu.

Waras membuktikan hal itu saat dirinya pernah gagal di dalam perjalanan sebagai calon legislatif, namun hal itu tidak lantas menyurutkan semangatnya untuk tetap berjuang membela masyarakat kecil.

“Selama ini masyarakat hanya disuguhi dengan harapan palsu yang tidak ada realisasinya..,†ungkapnya miris.

Waras ingin membuktikan, apabila kelak dipercaya oleh masyarakat menjadi anggota Dewan, ia akan selalu siap sebagai pihak yang melayani masyarakat dengan segala macam konsekuensinya.

“Masyarakat ingin sesuatu yang membawa perubahan, maka saat mereka memilih seseorang untuk menjadi wakilnya, ada harapan mereka disitu,†tegasnya.

Beliau berharap agar semua unsur politik partai bergandengan tangan, melangkah bersama masyarakat untuk menuju perubahan. Tanpa adanya sinergi antara satu pihak dengan pihak lainnya maka semua akan mustahil terjadi.

“Saling ASAH-ASIH-ASUH demi terwujudnya sebuah cita-cita,†tutupnya..

Biodata:

Nama                    : Waras Wasisto, SH
TTL                         : Madiun, 9 Oktober 1970
Istri                        : Lisa Ifana Putri, SE
Anak                      : – Mutua Ellena Wasisto
– Ghina Rabbani Wasisto
– Drinne Hasna Wasisto
– Amira Prameswari Wasisto
Karir:

– Wakil Ketua DPC SPTSK SPSI Kabupaten – Kota Bekasi  1991 s/d 1993.
– Sekretaris DPC SPTSK SPSI  Kabupaten – Kota Bekasi 1993 s/d 1998.
– Sekretaris DPC SPN Kabupaten – Kota Bekasi 1998 s/d 2001.
– Ketua DPC SPN Kab. Bekasi 2001 s/d 2003.
– Ketua DPD SPN Propinsi Jawa Barat 2003 s/d 2006.
– Departemen Buruh Tani dan Nelayan DPD PDI Perjuangan Jawa Barat.
– Wakil Ketua Bidang Infokom DPD PDI Perjuangan Jawa Barat 2010 s/d sekarang

Ricky Juliansyah

Eddy Faisal: Tanamkan Kedisiplinan Kepada Anak (3)

Menjalani aktifitas sebagai pebisnis, akademisi, dan politikus secara bersamaan, bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan. Kapasitas dalam memanajerialisasi waktu, untuk membagi secara proporsional dengan kebutuhan waktu untuk keluarga, menjadi syarat mutlak yang wajib dimiliki Eddy Faisal, sebagai seorang suami dari Khadijah, dan ayah bagi dua putrinya, Fanny Ekaputri Faisal (14) dan Emilia Maharani Faisal (9). Mau tahu, bagaimana kehidupan keluarga Eddy Faisal lebih dekat?  Berikut wawancara depoklik.com dengan Eddy Faisal.

T: Seberapa penting faktor keluarga bagi Anda secara pribadi?
J: Bagi saya, keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk mengenal dunia dan menyalurkan hasrat kasih sayang antara orang tua dengan anak-anaknya. Saya bisa seperti sekarang ini, tidak lepas dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga saya dulu. Sehingga, keluarga adalah faktor yang pertama dan utama, bagi kita dalam membentuk karakter kepribadian seseorang.

T: Sebagai seorang Ayah, Pebisnis dan Politisi, bagaimana Anda mensinkronkan ketiganya?
J: Keluarga, bisnis, dan perpolitikan harus mampu disinergikan dengan cerdas agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Keluarga bagi saya merupakan inspirasi untuk pencapaian objektif, bisnis merupakan wujud kreatifitas dan inovasi yang tak kunjung padam, dan perpolitikan adalah sebagai sebuah kawah candra dimuka sebuah pengabdian seorang anak bangsa yang ingin mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan dan kemakmuran negeri tercinta.

T: Keluarga pernah protes soal waktu Anda yang terbatas?
J: Alhamdulillah, keluarga sangat mendukung aktifitas saya, walaupun sesekali sempat kesal karena waktu yang berkurang, terutama sekali saat saya awal merintis usaha bisnis. Oleh karenanya, saya jadwalkan, Sabtu-Minggu adalah family time. Waktu saya khusus untuk keluarga.

T: Bagaimana cara Anda mendidik anak?
J: Saya dibesarkan oleh keluarga yang sangat religious dan ektra disiplin. Nah, pada suatu titik, saya menyadari bahwa saya harus memformulasikan pendekatan yang efektif untuk perkembangan anak saya. Kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas, menjadi nilai utama yang saya tanamkan kepada mereka. Sebagai kepala keluarga, saya bertanggung jawab penuh terhadap character building anak-anak saya.

T: Adakah arahan orientasi tersendiri bagi masa depan anakanak Anda kelak?
J: Saya selalu memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih. Akan tetapi dalam memilih, mereka sudah saya tanamkan apa itu konsekuensinya. Era sekarang ini, kita dihadapkan pada iklim persaingan sumber daya manusia yang ketat. Oleh karenanya, terlepas dari mereka mau menjadi apa, mereka sudah harus memiliki spirit dan semangat kompetisi yang tangguh. Saya selalu ingatkan, bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil selama kita mau bekerja keras untuk terus menjaga hasrat mewujudkan mimpi-mimpi itu.

T: Apa filosofi Anda dalam menjadi kepala keluarga? Dan apa tantangan yang Anda alami selama ini, sebagai sosok multiple business yang padat aktifitas?
J: Filosofi saya sesungguhnya dalam membesarkan keluarga, sangat erat dengan ajaran tokoh pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yakni Ing Ngarso Sungtulodo, Ing Ngadyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Kalau berbicara soal tantangan yang saya hadapi, tidak lain adalah bagaimana saya bisa terus menerus memperbaiki diri secara kapasitas dan kompetensi untuk benar benar mampu menjadi role model dan teladan bagi keluarga saya. Saya adalah pribadi yang haus akan ilmu, dan faedah semua hal yang saya pelajari, sejatinya adalah untuk keluarga saya tercinta.

Gatot Suherman
Foto: Dok. Pribadi

Sebelumnya:
Eddy Faisal: Temukan Tambatan Hati di Kampus, Jatuh Bangun Bersama

Eddy Faisal: Laut Jadi Tempat Favorit Kami diakhir Pekan (2)

Eddy Faisal: Laut Jadi Tempat Favorit Kami diakhir Pekan (2)

Padatnya aktifitas seorang Eddy Faisal, sebagai pebisnis muda, sekaligus motivator entrepreneur, menjadikannya tantangan tersendiri untuk mengalokasikan perhatian dan waktunya untuk keluarga. Terlebih, owner Duta Holding Company (DHC) ini, didaulat untuk menjadi Caleg DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) daerah pemilihan Depok-Bekasi, untuk Pemilu 2014.

Kiprahnya di pelbagai bidang, tentunya menjadi sisi menarik tersendiri tentang bagaimana peran pengusaha muda sukses ini menjadi nakhoda bagi rumah tangganya.

Eddy Faisal berprinsip bahwa keluarga, bisnis, dan perpolitikan harus mampu disinergikan dengan cerdas agar dapat berjalan dengan baik dan lancar. Baginya, keluarga merupakan inspirasi untuk pencapaian objektif, bisnis merupakan wujud kreatifitas dan inovasi yang tak kunjung padam, serta perpolitikan adalah sebuah kawah candradimuka pengabdian anak bangsa yang ingin mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan dan kemakmuran negeri tercinta.

[slideshow post_id=”20494″]

Khusus keluarga, Eddy Faisal memiliki trik manajemen waktu tersendiri dimana khusus akhir pekan, ia memproporsikan waktunya full untuk keluarga, tidak bisa ditawar lagi.

“Keluarga di atas segalanya. Mereka adalah nafas hidup saya. Bicara tempat favorit, kami pilih laut untuk merelaksasikan diri. Suasana laut bagi kami memberi kedamaian dan romantisme tersendiri sebagai penawar stres dan kejenuhan aktifitas,” ujarnya.

Soal mendidik anak, dirinya senantiasa menekankan karakter unggul dan bertanggung jawab kepada dua buah hatinya, Fanny Ekaputri Faisal (14) dan Emilia Maharani Faisal (9), sebagai bekal utama meniti kehidupannya kelak. Meski berpembawaan tegas, Eddy Faisal selalu memberi ruang bagi anak-anaknya untuk berekspresi, dan urusan berpendapat, pengusaha muda ini dikenal sosok yang demokratis, di mata istri dan anak anaknya.

â€Setiap zaman pasti berbeda generasinya. Saya selalu terbuka bagi keluarga untuk mengekspresikan segala hal, tanpa menghilangkan peran saya sebagai seorang kepala rumah tangga,” jelasnya seraya tersenyum.

Gatot Suherman

Sebelumnya:
Eddy Faisal: Temukan Tambatan Hati di Kampus, Jatuh Bangun Bersama

Eddy Faisal: Temukan Tambatan Hati di Kampus, Jatuh Bangun Bersama

Semasa kuliah, Eddy Faisal dikenal sebagai sosok pribadi yang cenderung pendiam, namun kental dengan corak ketegasan khas anak Medan. Selain itu, sisi lain kepribadiannya yang mencolok ialah soal keberaniannya untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap prinsipil. Faktor pembeda tersebutlah, yang menjadikannya didaulat menjadi anggota kepengurusan Senat Mahasiswa STAN pada tahun 1997.

Saat menjabat sebagai Senator di Senat Mahasiswa, ia dianggap menjadi figur representatif dalam memperjuangkan aspirasi rekan-rekannya. Kepribadiannya yang keras, dan idealis, bukan tanpa resiko kala itu, bahkan dirinya sempat diancam dipecat lantaran ngotot memperjuangkan aspirasi 300an Mahasiswa STAN untuk berstatus PNS. Sejak saat itu, seantero kampus semakin “kenal” dan “dekat” dengan sosok Eddy Faisal.

Layaknya kehidupan seorang aktivis mahasiswa, kisah heroik Eddy Faisal muda pada akhirnya berbuah pada kisah asmara semasanya di kampus. Mahasiswi itu adalah Khadijah, yang kemudian mengkaruniainya dua orang putri kesayangan yang masing-masing bernama Fanny Ekaputri Faisal (14) dan Emilia Maharani Faisal (9). Perjalanan hidup suka dan duka Eddy Faisal dalam merintis bisnisnya, dijalani bersama seiring berdua hingga ia sukses saat ini.

Mungkin sedikit yang mampu membayangkan, betapa sulitnya masa-masa awal rumah tangga pria muda sukses ini. Daya tahan bisnisnya, berawal dari sebuah rumah kontrakan di bilangan Jalan Arif Rahman Hakim, tepatnya di Jalan Komodo. Lingkungan rawan banjir, mau tidak mau menjadi istana laboratorium Eddy Faisal dan istri untuk merajut mimpinya hingga sukses seperti sekarang ini.

“Awalnya, dimulai dari nol. Kekuatan kami adalah keyakinan bahwa semua mimpi dapat terwujud, selama kita berikhtiar kepadaNya. Saya semakin merasa sangat beruntung, ditemani seorang istri yang tangguh,” kenangnya sambil tersenyum.

Biodata:
Nama            : H. Eddy Faisal, S.E., S.H., M.M., M.Ak., B.K.P., C.P.M.A.
TTL                : Medan, 16 Agustus 1976
Pendidikan :
– Spesialisasi Perpajakan, STAN, Jakarta (D3)
– Akutansi, Universitas Mercubuana, Jakarta (S1)
– Hukum Perdata, Universitas Kartini, Surabaya (S1)
– Manajemen, Universitas Narotama, Surabaya (S2)
– Akutansi, Universitas Mercubuana, Jakarta (S2)
– Bersertifikat Konsultan Pajak dari IKPI Pusat
– Bersertifikat Profesi Akuntan Manajemen dari IAMI Pusat
Bisnis            : Managing Director pada Duta Holding Company dengan pelbagai strategic business units yang terintegrasi (2007-sekarang)

Gatot Suherman
Foto: Dok. Pribadi