fbpx

Menelisik Studi Kasus Anastesi Siloam Dan Buvanest

Kasus anastesi kalbe farma
Menyelami Studi Kasus Anastesi kalbe farma dan Siloam. Berdasarkan investigasi ada dugaan kuat adanya human error

Belajar dari pengalaman dan menganalisa lalu memperbaiki merupakan pilihan terbaik. Demikian juga dengan dunia kedokteran yang dialami RS Siloam. Kasus anastesi ang melibatkan antara rs siloam dan kalbe farma sebagai pemasok sekaligus produsen obat menjadi perbincangan yang cukup memanas, khususnya di kampus saya (maklum anak kedokteran, topik bahasan ngak akan jauh). Kasus anastesi diduga tertukarnya obat bupivacaine alias buvanest dengan asam tranexamat, terbilang cukup aneh!!

Keanehan pertama yakni kasus tertukarnya obat (terkhusus anastesi) tidak pernah terjadi sebelumnya, sementara keanehan kedua yakni kasus anastesi ini justru terjadi pada rumah sakit internasional sementara obat buvanest yang diproduksi secara massal oleh kalbe farma dan tersebar luas diberbagai daerah tidak terdapat adanya kasus anastesi serupa (tertukarnya obat anastesi)

Dalam pelaksanaan tindakan medis di kasus anastesi siloam ini diduga terjadi human error dalam proses sign in saat dokter yang bertugas di RS Siloam, seperti yang disangkakan DPR terhadap kasus obat anastesi produksi kalbe ketika dokter RS Siloam akan melakukan proses anastesi buvanest spinal. Prediksi ini kuat, sebab ketika ditelisik tentang studi kasus anastesi siloam obat yang diproduksi PT kalbe farma dilakukan secara massal yang kemudian disebar pada berbagai rumah sakit telah beredar dalam waktu yang cukup lama namun kasus anastesi ini justru hanya terjadi pada RS Siloam yang notebanenya justru rumah sakit ber-standard Internasional.

Hasil investigasi studi kasus anastesi buvanest terhadap siloam mengungkapkan bahwa kuat dugaan terjadi ketidak sengajaan berupa human error dalam proses sign in yang melibatkan dokter anastesi. Dalam kasus anastesi ini, Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek menyatakan pihak RS Siloam mendapat peringatan atas kasus obat Buvanest Spinal yang diproduksi PT Kalbe Farma.

Sementara kalbe farma melakukan pembekuan produksi untuk obat buvanest dan asam tranexamat sebagai langkah pencegahan untuk tindak lanjut investigasi yang akan dilakukan BPOM, DPR dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Sebelum kita membahas ke tahap investigasi perlu kita mengetahui bagaimana produk kalbe farma (obat anstesi) tersebut diproduksi. selanjutnya kita mengenal secara medis kenapa obat buvanest diperlukan dan pada bagian apa obat anastesi tersebut dipergunakan hingga dikenala dengan “Buvanest spinal”.

Mengenal Produksi Buvanest dan Asam Tranexamat

PT Kalbe farma dalam melakukan produksinya, melewati proses fabrikasi dengan tujuan mengurangi adanya potensi human error. Obat anastesi buvanest dan asam tranexamat memang sama sama obat bius namun dengan detil yang berbeda. Obat buvanest biasa dilakukan untuk pembedahan, yang salah satu bagiannya kita kenal dengan nama populer “Spinal” oleh sebab itu dikenal dengan nama medis “buvanest spinal”. Sementara Asam Tranexamat berfungsi untuk pembekuan darah, yang dalam kasus anastesi RS siloam terdapat dugaan salah suntik oleh dokter anastesi.

Masih menurut dosen saya, berikut analisisnya…

Obat Buvanest merupakan obat anastesi atau obat bius yang digunakan dalam proses pembedahan sedangkan spinal adalah bagian atau lokasi obat anastesi dilakukan injeksi. Sebagai calon dokter kita perlu mengenal beda buvanest dan asam tranexamat, karna salah pakai bisa beresiko tinggi untuk pasien.

Dalam perkuliahan kedokteran hal yang patut kita waspadai adalah bahaya alergi. Sering kali pasien menderita alergi untuk suatu obat ataupun zat kimia, yang sebenarnya tidak berbahaya namun dapat berakibat fatal sebab alergi tersebut.

Kembali ke buvanest dan asam tranexamat untuk kasus anastesi siloam

Pernah denger dua kata diatas? Asam Tranexamat dan Buvanest Spinal. Dahulu dosen kami mengatakan kasus kandungan dan injeksi buvanest spinal ini aneh, sebab Buvanest spinal ini sudah tersebar di pelosok nusantara bahkan di daerah terpencil yang terafiliasi kalbe. Seperti yang diketahui, obat Buvanest Spinal dan asam trenexenamat yang seharusnya mengandung bupivance menyebabkan penghambatan pendarahan. Hal ini bertujuan untuk anastesia yang diberikan secara injeksi.

Setiap akan melakukan tindakan operasi diperlukan adanya Anestesi alias pembiusan sebagai langkah awal yang wajib dilakukan sebelum seseorang menjalani prosedur pembedahan. Sayangnya sering kali pasien keburu fokus pada bagaimana prosedur pembedahannya sehingga mungkin kurang memperhatikan proses anastesi yang dilakukan.

Padahal dalam ilmu kedokteran anastesi adalah spesialisasi yang berdiri sendiri dan membutuhkan keahlian tersendiri. Jangan sampai salah injeksi seperti halnya perlu mengetahui perbedaan antara Asam Tranexamat dan fungsi Buvanest Spinal.

Sebab itulah para pemerhati dunia kedokteran maupun DPR menduga kasus anastesi siloam ini terjadi saat proses sign in yang dilakukan dokter anastesi setiap akan melakukan proses injeksi. Berdasarkan kronologisnya terjadi kecurigaan kuat bahwa proses sign in dalam kasus anastesi kalbe dilakukan oleh dokter yang belum memiliki banyak pengalaman.

Menurut DPR, apabila proses injeksi dilakukan oleh mereka yang berpengalaman maka akan mudah diketahui berisi apa, obat injeksi yang disuntikan. Terlihat dari warna, kekentalan, hingga pola pola lainnya. Sehingga perbedaan antara obat buvanest dan asam tranexamat dapat terlihat lebih mudah.
Alhasil, dapat diduga kuat terjadinya human error untuk proses anastesi dalam kasus anatesi kalbe farma ini.

Leave a Comment