Mengenal Sosok Dwiarso Budi, Hakim Adil Yang Dirindukan Bangsa

Setiap hari, dari rumah ke kantor, pulang-pergi, ia  naik busway Transjakarta. Rasanya sulit dipercaya, namun itulah hakim H Dwiarso Budi Satriarto SH Mhum, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang memimpin majelis hakim di sidang perkara penodaan agama oleh Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Di mata kawan-kawannya, ia dijuluki bonek (bondo nekat). Bukan hanya karena lahir di Surabaya 14 Maret 1962, Inoenk, begitu panggilan akrabnya, menunjuk pada integritasnya sebagai hakim.

“Antisuap, antikgertak,” kata seorang sahabatnya.

Inoenk sampai sekarang pun masih tinggal di rumah dinas. Suami Yanti SH MH dan ayah dua anak, Rio dan Anya ini, pernah menjadi ketua pengadilan di Kotabumi, Kraksaan, Depok, Banjarmasin, dan Semarang.

Puteranya, Rio saat ini tinggal di Jepang bekerja sebagai pelayan toko. Sedangkan Anya, sebagai pegawai pajak di Palangka Raya.

Sarjana Hukum jebolan SI Universitas Airlangga, S2 Universitas Gajahmada dan Lemhanas (2016) ini adalah mantan Atlet Hoki PON Jatim dan Atlet Tennis mewakili Provinsi  di mana dia bertugas waktu itu.

Membuktikan Integritasnya sebagai hakim

Sewaktu bertugas sebagai Hakim Pengadilan Negeri Jakarta  Pusat, Inoenk memutus hukuman seumur hidup untuk koruptor BLBI. Bahkan, waktu bertugas di Semarang, ia juga memutus sengketa Gubernur Jateng lawan pengacara kondang Yusril dengan menghukum hakim temannya sendiri karena menerima suap dan beberapa koruptor serta pejabat Bupati Karang Anyar.

Keberaniannya untuk berbeda dengan alasan hukum yang rasional itulah yang membuat Ketua Mahkamah Agung Marsekal Sarwata sangat membanggakannya.

Ada kisah menarik dari putera puteri Inoenk, ketika terjadi penangkapan terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Kompak kedua anaknya meminta Inoenk berhenti jadi hakim karena merasa malu dengan profesi ayahnya.

Kini, Dosen  favorit  Fakultas Hukum Universitas Trisakti itu menjadi tempat bergantung harapan keputusan adil dari persidangan kasus penistaan agama.

Selasa (9/5) siang, akhirnya, ia membuktikan integritasnya sebagai hakim. Meskipun sempat dibayangi spekulasi, vonisnya terhadap Ahok yaitu hukuman penjara 2 tahun dan langsung ditahan di LP Cipinang. Melumat berbagai manuver aparat penegak hukum lainnya yang masuk angin.

Sekian lama, ia memang menjadi gantungan harapan para penuntut keadilan yang mengharapkan vonis terhadap Ahok, bebas dari intervensi supaya wajah hukum kita mendapat kepercayaan publik.

Leave a Reply