fbpx

Meninjau Pembangunan Depok Dalam Bingkai Sosial, Pendidikan, Ekonomi, Dan Lingkungan

DEPOKLIK. Letaknya yang strategis di selatan Jakarta menjadikan Depok surga baru untuk hunian bagi kaum pekerja yang menggantungkan hidupnya di ibukota. Tidak heran bila masyarakat berharap adanya kemudahan akses jalan serta transportasi umum yang memandai.

Meski demikian, dalam melakukan pembangunan infrastruktur, seperti jalan, pemerintah juga perlu melihat banyak aspek.

Tak melulu soal kemudahan akses, perbaikan juga perlu ditinjau dari sisi sosial dan dampak lingkungan yang akan ditimbulkan.

Jangan sampai masifnya pembangunan malah membuat prilaku warga menjadi semakin apatis terhadap kotanya, sehingga hanya menjadikan Depok sebagai tempat singgah.

Dosen arsitektur Universitas Gunadarma, Yonav Partana menyebut dalam hal ini perlu ada sudut pandang baru terhadap pembangunan di Depok dengan mengedepankan prinsip kota yang berkelanjutan.

Menurutnya pembangunan diperlukan namun juga perlu melihat sisi sosial dan lingkungan. Karena tanpa hal itu akan merubah prilaku masyarakat menjadi acuh dengan tempat tinggalnya.

“Kalau Kota Seoul di Korea Selatan, dulu ada jalan tol dalam kota. Konsep tol harusnya tidak membelah kota. Karena dengan membelah kota malah akan merubah struktur kota. Kini mereka sadar kalau itu kesalahan besar. Akhirnya jalan tol itu dihancurkan dan sungai di bawahnya dihidupkan dan dibagusin,” ujarnya kepada Depoklik, di Kampus E Gunadarma, Kelapa Dua, Depok, Rabu (19/10/2016).

Demi mengurai kemacetan di Kota Depok, pembenahan transportasi publik juga perlu dilakukan agar kesemerawutan di jalan protokol bisa teratasi.

Shuttle bus kota kita sedikit. Kita lebih mengandalkan angkot. Angkot kan gak sustainable. Muatannya gak banyak tapi ngabisin bensinnya banyak,” ujarnya.

Peraih master aristektur dan urban design dari Tu Delft University ini juga menyebut bila potensi alam di Depok seperti keberadaan 24 situ dan Sungai Ciliwung merupakan aset berharga yang perlu dilestarikan dan dikembangkan pemerintah kota.

20151231132720

Selain sebagai tempat resapan air, dengan memaksimalkan penggunaan ruang terbuka hijau (RTH) diharapkan akan menjadi area sosialisasi baru untuk warga Depok.

Kelestarian lingkungan sendiri di dalam smart city menjadi standar penting yang tidak bisa dipisahkan.

“Kita punya potensi alam, ada ciliwung dan situ. Jadi bisa diarahin ke kota ekologis,” tuturnya.

Kampus Membangkitkan Perekonomian Depok

Sejarah perkembangan Kota Depok juga tidak lepas dari keberadaan universitas. Dengan adanya kampus seperti Universitas Indonesia, Gunadarma, BSI, dan LP3I juga turut mendorong pertumbuhan perekonomian Depok.

“Secara teori kota kalau sudah ada kampus itu mempengaruhi ekonominya. Itu bisa dilihat dengan menjamurnya apartemen,” ujarnya.

Salah satu wilayah pendidikan di Depok yang mudah terlihat perkembangan ekonominya di jalan Akses UI, Kelapa Dua. Keberadaan SD, SMP, SMK, hingga kampus membuat perekonomian warga sekitar semakin tumbuh.

“Bisa dilihat di sepanjang jalan akses UI. Sentra ekonomi yang hidup ternyata bukan kuliner saja, ada showroom mobil bekas, sampai toko komputer. Kalo bicara keamanan di sini (akses UI, red) ada brimob.”

Banyaknya populasi mahasiswa, Depok juga perlu ditunjang pusat kreatifitas sebagai sarana penyaluran minat dan bakat anak muda. Dengan begitu akan menekan permasalahan sosial di Kota Depok.

Keberadaan anak muda di Depok, tambah Yonav, adalah modal untuk membangun Depok menjadi lebih baik.

“Karena pendidikan tidak lepas dari kreatifitas. Jadi energinya bisa dialihkan ke sana. Jadi kalau pemerintah gak liat ini sebagai resource agak salah juga menurut saya,” ujarnya.

(baf)

Leave a Comment