Mewaspadai Gerakan Kaum Khowarij Yang Tumbuh Di Indonesia

Dalam satu kajian Islam yang digelar di Masjid al-Ikhlas Perum Grand Cibubur, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (6/5) lalu, Ustadz Muhtarom mencoba menjelaskan salah satu tanda kecil akan datangnya kiamat dengan munculnya berbagai fitnah (ujian) yang bagi kaum Muslimin dari berbagai sisi. Fitnah akhir zaman itu salah satunya akan datang dari kaum khowarij.

Siapa orang-orang khowarij itu sebenarnya. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Muhtarom menjelaskan, kaum khowarij adalah satu golongan dalam umat Islam yang pandai membaca Al Quran, bahkan sangat memahaminya. Namun, mereka tidak mengamalkan isi Al Quran tersebut dengan cara yang sesuai dengan yang diajarkan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam.

“Orang-orang khowarij sangat luar biasa ibadahnya. Baik shalatnya, puasanya, juga bacaan Al Quran. Begitu berlebihannya orang-orang khowarij itu dalam beribadah, sehingga Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam pun menyebut ibadah yang dilakukan para sahabat tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka,” jelas Ustadz Muhtarom.

Dilihat dari penampilannya, orang-orang khowarij sangat sulit dibedakan dengan kaum Muslimin pada umumnya.

Dalam satu hadits sohih, Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara umatku ada orang-orang yang membaca Al Quran, tapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam secepat anak panah melesat dari busurnya. Sungguh, jika aku mendapati mereka, pasti aku akan bunuh mereka seperti (Nabi Hud) membunuh kaum Aad,” (HR Muslim No 1.762).

Sebagian dari mereka kerap berpenampilan selayaknya yang dilakukan para pengikut sunnah. Mereka juga mahir mengutip ayat-ayat Al Quran dalam berbagai kajiannya.

“Sayangnya, mereka itu suka mengkafirkan para Muslim yang melakukan dosa besar. Di sinilah letak kesalahan kaum khowarij itu. Menurut akidah mereka, Muslim yang berbohong adalah kafir, Muslim yang mencuri pun adalah kafir. Begitu pula dengan Muslim yang berzina, juga disebut kafir dan keluar dari Islam menurut pemahaman mereka,” kata Ustadz Muhtarom.

Ciri lain dari kaum khowarij adalah mereka menyatakan diri keluar dari pemerintahan yang sah yang dipimpin oleh kaum Muslimin. Tidak hanya itu, mereka juga tidak segan-segan menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak sepemahaman dengan mereka.

Ustadz Muhtarom menjelaskan lebih lanjut, kemunculan kaum khowarij sendiri bermula sejak wafatnya Kholifah Umar bin Khottob RA. Ketika itu, mereka berhasil memecah belah umat Islam menjadi dua golongan, yaitu kelompok mereka sendiri dan kelompok salaf (orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam ). Mereka juga yang memiliki andil besar dalam peristiwa pembunuhan Kholifah Usman bin Affan RA.

Di zaman pemerintahan Kholifah Ali bin Abi Tholib RA, tentara Muslim pernah menghancurkan pasukan khowarij dengan telak. Namun, sepeninggalnya Ali RA, generasi dari sisa-sisa kelompok khowarij itu kembali menunjukkan eksistensinya.

Kemunculan kaum khowarij akan terus berlangsung hingga akhir zaman. Di dalam hadits lain dijelaskan, kaum khowarij generasi terakhir kelak akan menjadi pengikut Dajjal. “Akan muncul sekelompok manusia dari arah timur, yang membaca Al Quran, tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Tiap kali generasi mereka putus, muncul generasi berikutnya hingga generasi akhir mereka akan bersama Dajjal,” (HR Thabrani dan Ahmad).

Ustadz Muhtarom mengingatkan, umat Islam harus mewaspadai fitnah yang ditimbulkan oleh kelompok khowarij. Pasalnya, kajian-kajian agama yang mereka sampaikan nyaris sulit sekali dibedakan dengan dakwah yang disampaikan oleh para ulama salaf.

“Ketika membahas kitab-kitab tauhid atau pun kitab fikih dalam pengajiannya, materi yang disampaikan orang-orang khowarij hampir sama dengan yang dipakai oleh kelompok salaf. Namun, mereka pada akhirnya akan menggiring dan mengajak kita untuk mengkafirkan sesama saudara Muslim,” ujar Ustadz.

Di Indonesia sendiri, pernah muncul satu aliran yang suka mengkafirkan sesama Muslim. Aliran itu dicetuskan oleh seorang tokoh bernama Nur Hasan Ubaidah Lubis pada dekade 1960-an silam dengan nama Darul Hadits atau aliran Islam Djama’ah atau dikenal juga dengan nama Jama’ah 354.
Sejarah lengkap: https://www.firanda.com/index.php/artikel/30-sekte-sesat/301-rakyat-islam-jama-ah-dibohongi-rajanya-puluhan-tahun

Dalam pemahaman aliran Jama’ah 354, Nur Hasan Ubaidah menyatakan, orang-orang Islam yang berada di luar kelompoknya sebagai golongan kafir.

Tidak hanya itu, para pengikut Hasan Ubaidah pun mengganggap umat Islam di luar kelompok mereka sebagai najis sehingga mereka pun tidak mau shalat di masjid-masjid selain dari masjid mereka sendiri.

Kelompok Islam Jama’ah akhirnya dilarang berdasarkan ketetapan Jaksa Agung RI tahun 1971: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No: Kep-089/D.A./10/1971 tentang: Pelarangan terhadap Aliran- Aliran Darul Hadits, Djama’ah jang bersifat/ beradjaran serupa.

Menetapkan:
Pertama: Melarang aliran Darul Hadits, Djama’ah Qur’an Hadits, Islam Djama’ah, Jajasan Pendidikan Islam Djama’ah (JPID), Jajasan Pondok Pesantren Nasional (JAPPENAS), dan aliran-aliran lainnya yang mempunyai sifat dan mempunjai adjaran jang serupa itu di seluruh wilajah Indonesia.
Kedua: Melarang semua adjaran aliran-aliran tersebut pada bab pertama dalam keputusan ini jang bertentangan dengan/ menodai adjaran-adjaran Agama. Ketiga: Surat Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan: Djakarta pada tanggal: 29 Oktober 1971, Djaksa Agung R.I. tjap. Ttd (Soegih Arto).

Fatwa Majelis Ulama DKI Jakarta:
Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 20 Agustus 1979, Dewan Pimpinan Majelis Ulama DKI Jakarta, K.H. Abdullah Syafi’ie ketua umum, H. Gazali Syahlan sekretaris umum.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat:
Bahwa ajaran Islam Jama’ah, Darul Hadits (atau apapun nama yang dipakainya) adalah ajaran yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan penyiarannya itu adalah memancing-mancing timbulnya keresahan yang akan mengganggu kestabilan negara. (Jakarta, 06 Rabiul Awwal 1415H/ 13 Agustus 1994M, Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Ketua Umum: K.H. Hasan Basri, Sekretaris Umum: H.S. Prodjokusumo.

Leave a Reply