Minim Pelatih Bersertifikat FIFA, Kemenpora Gelar Coaching Clinic

DEPOKLIK. Saat ini jumlah pelatih di Indonesia yang memiliki standar AAFC atau FIFA masih minim. Padahal, jumlah pelatih di SSB yang tersebar di tanah air sangat banyak dan memiliki potensi besar melahirkan bakat pemain baru kebanggaan tanah air.

Selain itu, guna melahirkan pemain sepak bola yang handal dimulai dengan pelatih profesional berkualitas baik sesuai standar organisasi sepakbola internasional. Hal itu dibenarkan Asisten Deputi Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Kemenpora, Dra. Marheni Dyah kusumawati.

Menurutnya, melalui choacing clinic bagi para pelatih diharapkan mampu membawa Indonesia mendapatkan prestasi lebih tinggi di tingkat Internasional.

Selain itu, pihaknya berharap agar banyak pelatih yang mendapatkan sertifikat pelatihan dengan standar FIFA. Di samping itu, pelatih juga memahami permasalahan doping dan sport sciens.

“Ini adalah suatu bentuk perhatian dan kepedulian Bapak Menpora Imam Nahrowi dalam meningkatkan kualitas dan pelatih di tanah air yang sesuai kualifikasi Internasional,” ujarnya dalam kegiatan Coaching Clinic Kepelatihan Sepak bola usia muda Kementerian Olah Raga Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olah Raga, Makara UI, Depok.

Kabid Pelatih pada Asdev Tenaga dan Organisasi Keolahragaan Kemenpora RI Suyadi Prawiro menuturkan kegiatan yang digelar selama dua hari diikuti 50 peserta dari perwakilan pelatih berdasarkan zona.

Direncanakan, pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan serupa di Ciputat dan Bekasi dengan jumlah peserta sama.

“Ini adalah bagian dari dukungan Kemenpora dalam penyelenggaraan pelatihan bagi pelatih,” ujarnya.

Sebab, kata Suyadi, Indonesia baru memiliki tiga orang pelatih yang berlisensi AAFC untuk Youth Development. Dengan makin banyak pelatih yang berkualitas dan memiliki lisensi internasional maka akan berpengaruh pada kualitas pesepakbola.

Penyelenggara kegiatan yang juga pengamat sepak bola Muhammad Kusnaeni menuturkan perlu dipikirkan bersama kompetisi berjenjang sampai dengan U19.

Di samping itu, diharapkan juga federasi penyelenggara liga diakui PSSI atau menjadi kompetisi berjenjang.

“Kita ingin menjadi sambungan mata rantai terputus atlet sepak bola nasional. Arahan tahun depan pada peningkatan kualifikasipelatih dan wasit untuk persiapkan ASEAN GamesĀ 2018,” paparnya.

Pemerhati sepak bola ini menuturkan pelatih merupakan kunci pengembangan prestasi, sehingga 5-10 tahun kemudian akan lahir pemain nasional baru yang bisa mengharumkan nama Indonesia.

“Kalau kejar ketertinggalan mulai bina sejak usia dini. Selain itu, dari pelatih berkualitas akan mencetak pemain profesional,” ujar dia.

“Jenjang pemain bola kita mulai dari 12, 14, 16, 19 dan senior di U 21. Solusinya dari pelatih handal yang berasal dari SSB. Sampai akhir tahun ini ada 150 orang beruntung ikuti pelatihan bagi pelatih. Sebab, materi ada in door dan out door. Semoga mereka bisa mencetak tim handal dan sebarkan ilmunya,” harapnya.

(an)

Leave a Reply