fbpx

Nasib Guru Honorer yang Horor

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan pemberitaan kurang terpuji menimpa seorang pendidik. Seorang guru honorer bernama Adi Meliyati Tameno (Yati) di Kupang-NTT dipecat lantaran menanyakan honornya selama 3 tahun.

Nasib lebih tragis lagi dialami guru honorer dari Brebes-Jawa Tengah bernama Mashudi yang dilaporkan menteri Yuddy Chrisnandi. Mashudi ditahan pihak Polda Metrojaya karena kasus pencemaran nama baik oleh menteri Yuddy Chrisnandi.

Fakta sosial tersebut menjadi perhatian masyarakat. Dunia pendidikan tercederai oleh perilaku-perilaku kurang baik dari pemangku kepentingan.

Guru notabennya adalah hal pokok dalam dunia pendidikan harus berurusan dengan orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka. Pekerjaan sebagai guru dianggap sebagai pekerjaan pengabdian dimana guru harus iklas tanpa pamrih.

Guru adalah manusia dengan berbagai macam kebutuhan hidup tanpa mengesampingkan tugas mereka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Perekonomian yang masih belum stabil membuat guru, khususnya guru honorer sangat membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Dengan UU guru dan dosen sesungguhnya merupakan bentuk upaya pemerintah dalam memperhatikan nasip pendidik.

Kembali kemasa Pilpres yang lalu, Jokowi menjanjikan kesejahteraan bagi guru-guru honorer. Mengingat masa itu maka tidak heran apabila guru honorer menagih janji tersebut. Gaji guru honorer masih jauh dari UMK setiap masing-masing daerah. Bahkan ada logika terbalik yang mana rekan-rekan buruh atau karayaawan pabrik sebagaian besar dengan ijasah SMA namun gajinya standar UMK. Hal bertolak belakang yaitu guru honorer sebagian besar dengan ijasah strata S1 namun gaji jauh di bawah UMK.

Janji-janji pilpres lalu sebaiknya perlu direalisasikan oleh kementrian atau lembaga-lembaga terkait. pemerintah perlu membuat kebijakan-kebijakan pro guru honorer. Kita bisa membayangkan bagaimana pendidikan tanpa guru honorer.

Pemerintah dengan semangat meningkatkan pendidikan lebih fokus pada pendirian sekolah-sekolah baru tanpa memperhatikan prosentase guru PNS. Alhasil hampir setiap sekolah negeri dengan keterbatasan guru PNS akan di bantu oleh guru-guru honor untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar.

Orang tua siswa tidak akan melihat terlalu jauh yang mengajar putra putrinya. Mereka lebih melihat yang terpenting anaknya ke sekolah ada yang mengajar, tak peduli guru PNS atau guru honor.

Pentingnya peran guru honor tidak bisa di kesampingkan dalam dunia pendidikan. Berkat keberadaan mereka, kelangsungan pendidikan bisa berjalan dengan baik. Undang-undang sudah memberi porsi pendidikan sebanyak 20% dari APBN. Dana sebesar itu baiknya betul-betul digunakan dalam hal-hal perbaikan pendidikan.

Selain guru-guru honorer, Pemerintah harus menjaga harkat dan martabat profesi guru pada umunya baik guru sengan status PNS (ASN) maupun guru honorer. Guru perlu dilindungi dalam proses mendidikan murid-muridnya. Sering dalam mendisiplinakan seorang murid, guru harus berhadapan dengan hukum dengan dalih kekerasan terhadap anak.

Namun apabila terlalu dibiarkan dengan bebas dan anak jadi kurang disiplin maka yang salah adalah seorang guru. Guru dianggap tidak bisa mendidik siswa menjadi anak yang berkarakter. Apalagi yang melakukan kekhilafan adalah seorang guru honorer, maka orang tua akan menuntut sedemikian rupa terhadap kasus tersebut.

Berbeda jika seorang murid berhasil atau berprestasi, maka orang sekitarnya memuji anak tersebut sedemikian rupa dan lupa akan peran seorang guru. Hebatnya guru adalah mereka tidak akan merasa berjasa lalu minta penghormatan lebih atas keberhasilan anak didiknya. Dalam hati guru cukup bahagia dan bersyukur apabila melihat anak didiknya sukses. Bahkan ketika anak didiknya sudah lupa tentang gurunya.

Itulah tentang peran guru terhadap keberlangsungan anak didiknya untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa. Generasi yang saat ini menjadi pemimpin bangsa maupun generasi pemimpin bangsa yang akan datang.

Teruntuk siapapun dan dimanapun kita, mari sejenak mengingat masa kecil kita khususnya ketika masih TK maupun SD. Ingatlah sosok paruh baya dengan sabar dan penuh petuah membimbing kita menuju hidup lebih baik. Kesuksesan guru adalah ketika muridnya lebih baik dari pada gurunya. Dan semoga anak didiknya yang telah menjadi pemangku kebijakan khususnya berhubungan dengan nasip guru masih ingat keiklasan guru-gurunya dalam mendidik mereka, sehingga berusaha mengeluarkan kebijakan dalam rangka menjaga marwah dan kehidupan nasib guru.

(Penulis adalah Guru PNS di SMPN 17 Depok, Erik Kurniawan. Saat ini ia juga merupakan mahasiswa S2 Pendidikan IPS-UPI Bandung)

Leave a Comment