fbpx

Saham Tak Jadi Dibeli, Persikad Tetap Hengkang dari Depok

Skuad Persikad (foto: persikadepoknet).
Skuad Persikad (foto: persikadepoknet).

Persikad Depok sepertinya masih harus bekerja keras di Divisi Utama musim depan. Itu lantaran saham klub asal Depok itu tidak jadi dibeli oleh pengusaha Purwakarta. Namun begitu Persikad tetap hengkang dari Depok dan pindah base ke Purwakarta.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bermurah hati menyediakan lapangan untuk kandang Serigala Margonda. Pemilik tim berjuluk Pendekar Ciliwung Adi Gunaya menghadap Dedi untuk meminta izin menggunakan lapangan milik Pemkab Purwakarta setelah transaksi dengan pengusaha Purwakarta tak membuahkan hasil.

“Pengusaha Purwakarta tidak jadi membeli klub ya tidak masalah. Tapi, saya numpang untuk main di sana tahun ini. Tapi, katanya jalankan sendiri. Mereka hanya bantu tempat saja. Pembiayaan tetap saya,” kata Adi.

Ia pun disuruh memakai lapangan pemkab tersebut agar Persikad tetap bisa berlatih. Secara finansial Dedi tidak membantu. Tapi, secara moril Dedi membantu dari segi lapangan.

“Modelnya hampir sama dengan Persires Kuningan. Secara teknis, home base-nya saja yang pindah tapi tidak ada transaksi jual beli. Kalau saya sewa kan tidak sanggup. Nah saya dapat gratis dan dirapihin lagi. Mungkin, barang kali mereka ingin masyarakatnya ada hiburan bola,” terangnya.

Alasan pemilihan tempat para punggawa Badai Petir dikarenakan lapangan di Purwakarta sangat layak untuk menjadi sarana pemusatan latihan. Dan juga dilihat dari segi keuntungan finansial melalui animo masyarakat Jawa Barat. “Di sini kan kita nyari cost. Kalau ada penonton banyak kan ada kelebihannya untuk pemain. Oleh karena itu, nantinya akan muncul Persikad Purwakarta. Namun, perubahan nama itu, tidak akan menjalar ke perubahan lainnya,” tutur Adi.

Sedangkan terkait hutang, Adi akan melakukan pembicaraan lagi dengan timnya. Karena kalau Persikad tidak main sekarang, tim yang didirikan tahun 1990 itu akan terdegradasi. Dan itu tentunya akan lebih merugikan klub Pendekar Ciliwung.

“Apakah tidak lebih rugi lagi yang selama ini kita pertahankan. Bertahan di Divisi Utama biar ada harga jualnya. Lah kalau sudah terdegradasi masuk ke Liga Nusantara, apakah ada harga jual,” imbuhnya.

Sebagai presiden klub, dia tetap bertanggung jawab dan akan menyelesaikan hutang pelatih, pemain dan ofisial tim sebesar 2,3 miliar sejak tahun 2008 silam. Hanya saja, sampai saat ini belum ada yang berminat untuk membeli saham tim Badai Petir tersebut.

“Kalau ada yang mau beli, ya sudah selesai barang itu. Toh saya juga tidak akan memimpin lagi. Dan sekarang saya masih memimpinnya. Saya masih pegang ini Persikad. Lain kalau sudah tidak saya pegang lagi. Berarti sudah dimiliki orang ketiga. Ini masih milik bapak Adi Gunaya,” tutupnya.

Frd/indopos.co.id

Leave a Comment