fbpx

Sektor Sekunder Fokus Pemerintah Depok Tahun 2011

LAHAN pertanian hanya tersisa 2,3 persen dari luas kota Depok sekarang ini. Sudah sedikit penduduk yang beraktifitas pada sektor ini, contohnya petani belimbing, ikan hias, tanaman hias, dan lain-lain. “Jadi, bila ingin membangkitkan kembali sektor ini, pemerintah perlu serius dalam pertanian perkotaan atau urban agriculture,†ujar Drs. Zamrowi, Msi, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok kepada depoklik di ruangan kantornya, Rabu (6/10) lalu. Dalam kegiatan ekonomi, sektor primer sering diterjemahkan dalam aktifitas ekonomi pertanian. Saat ini, Depok sudah nyaris kehilangan sektor primer, lahan yang ada sudah terkepung dengan sektor perdagangan dan jasa. Setiap tahun ruang terbuka hijau diserbu dengan pembangunan perumahan. Menurut data statistik terakhir, warga Depok berjumlah 1,4 juta penduduk, artinya memang membutuhkan pembangunan tempat tinggal dan memakan lahan yang besar. Untuk itu, pemerintah perlu serius membangun sektor primer”Saat ini, corak perekonomian Depok berada di sektor sekunder yaitu industri pengolahan, dan tersier atau perdagangan dan jasa. Menurut Zamrowi, perkembangannya kian mengkhawatirkan, karena sekunder berkurang, dan perekonomian didominasi oleh tersier. Disinilah mau tidak mau pemerintah harus intervensi ke industri pengolahan, karena indutri pengelohan biasanya menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dibanding perdagangan dan jasa.”Saat ini, Dinas Perindustian dan Perdagangan Depok (Disperindag) berencana untuk kerjasama dengan warga yang kompeten dalam indutri pengolahan, salah satunya adalah Dr. Wisnu Gardjito, warga depok yang sudah berkecimpung di level nasional dalam industri pengolahan kelapa. “Memang depok tidak menghasilkan kelapa, tapi kita bisa dibanjiri kelapa dari daerah lain di Indonesia. Depok akan fokus pada pengolahan akhir dan pemasarannya. Karena, pasarnya sudah ada, yaitu internasional, nasional, dan tentunya pasar lokal kota kita sendiri,†jelas Zamrowi. Setelah melalui studi dan kaji kelayakan oleh Disperindag, maka industri pengolahan kelapa akan menyerap tenaga kerja cukup banyak karena pengolahannya bisa tersebar di setiap wilayah Depok. Kelapa pun bisa diolah menjadi banyak produk, dari mulai kebutuhan rumah tangga, produk kuliner, kosmetik, obat, dan lain-lain.”Hal serupa juga disampaikan oleh Martinho Vaz, Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Disperindag Kota Depok. Martin memastikan industri pengolahan akan memberikan nilai tambah dalam perekonomian Depok. “Target kami, Depok menjadi pusat perdagangan produk olahan kelapa di indonesia, baik untuk lokal maupun internasional. Yang memiliki pusat perdagangannya sekaligus industri pengolahannya,†ujarnya.”Rencana kerja tersebut akan dikaji lagi oleh Disperindag terkait penyebarannya, yang pasti berpola home industry, dan harapannya akan ada industri seperti ini di setiap kecamatan. “Tinggal pembagian perannya saja, antara pemerintah lokal, warga, dan pembina,†tambahnya. Target Disperindag program ini sudah terealisasi tahun 2011, dan akhir tahun sudah ada yang berinvestasi. Nah, bila ada warga yang tertarik berinvestasi, silahkan saja, karena investasi ini terbuka bagi warga yang tertarik dalam rencana besar ini.”Coki Lubis“Foto: dok. The Green Coco Island-UDSR

Leave a Comment