fbpx

Dikawal Ketat, Pak RW Bersaksi Soal Teroris Beji

[caption id="attachment_34276" align="alignright" width="300"] Sidang kasus terorisme dengan terdakwa Ahmad Sofyan digelar di PN Depok. Agenda pembacaan keterangan saksi, sidang menghadirkan Ketua RW 08 Kukusan, Bojonggede. Senin (1/4).[/caption]

Sidang kasus terorisme dengan terdakwa Ahmad Sofyan alias Sofyan alias Pangeran Bin Muhammad Abdu (30) digelar di Pengadilan Negeri Depok, pukul 11.00, Senin (1/4). Saat pembacaan keterangan saksi, sidang menghadirkan Deni Iskandar, Ketua RW 08 Kukusan, Bojonggede.

Dalam keterangannya, Deni mengaku sama sekali tidak mengetahui di wilayahnya, yakni di RT03/08 Kukusan Bojonggede, telah menjadi “sarang” teroris. Ia baru tahu hal tersebut setelah diminta mendampingi Densus 88 melakukan penggerebekan. Usai digerebek, Deni sempat masuk ke dalam rumah tersebut.

“Kosong. Saya cuma lihat kabel, trafometer, beras, dan alat solder,” ungkap Deni di depan Majelis Hakim.

Dalam sidang siang ini, diketahui, rumah di RT 03 RW 08 inilah yang menjadi lokasi penyimpanan bahan peledak dan beberapa senjata api jenis pistol.

Selain Deni, agenda sidang pembacaan keterangan saksi di PN Depok, juga menghadirkan dua orang saksi lainnya, yakni, Muhammad Iqbal, dan Cahayaningsih.

Sidang pembacaan keterangan saksi tersebut, berlangsung dalam pengawalan ekstra ketat dari aparat kepolisian. Tidak biasanya, seluruh pengunjung PN Depok diberlakukan “check body” guna kelancaran sidang. Beberapa polisi bersenjata laras panjang, turut siaga baik di dalam maupun di luar ruang persidangan.

Sebelumnya, telah digelar sidang dakwaan terhadap Sofyan, selaku otak intelektual rencana aksi terorisme yang justru bomnya meledak duluan di Beji. Rencananya, bom tersebut ditujukan untuk sasaran Mako Brimob dan Istana Negara.

Gatot Suherman

Disidang, Otak Terorisme Bom Beji “Cengengesan”

[caption id="attachment_34272" align="alignleft" width="300"] Pembacaan dakwaan kasus terorisme bom Beji, terdakwa Ahmad Sofyan, di Pengadilan Negeri Depok, Senin (1/4). (foto: GS)[/caption]

Pembacaan dakwaan kasus terorisme bom Beji, terhadap terdakwa Ahmad Sofyan alias Sofyan alias Pangeran Bin Muhammad Abdu (30) digelar di Pengadilan Negeri Depok, pukul 11.00, Senin (1/4). Terdakwa tampak tenang, bahkan terlihat beberapa kali mengumbar senyum kepada majelis hakim dan awak media yang sedang melakukan peliputan.

Berdasarkan dakwaan, terdakwa Sofyan merupakan pemimpin kelompok mujahidin Cileungsi. Kelompok ini merupakan pecahan Cengkareng yang bubar, setelah pemimpinnya, Abu Omar, ditangkap Polisi. Sofyan sendiri bertugas sebagai pengatur logistik, bahan peledak dan pengadaan senjata api. Target sasaran awalnya adalah pos polisi dan Bank BRI di Bekasi.

“Saya berprofesi wiraswasta buka usaha herbal, di rumah,” ujar Sofyan saat ditanya majelis hakim.

Terdakwa dalam kasus ini didakwa Pasal 15 juncto pasal 9 dan Pasal 15 juncto pasal 7 perpu no 1 2002 yg telah ditetapkan menjadi UU no 5 tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme. Agenda sidang selanjutnya, usai pembacaan dakwaan terdakwa Sofyan adalah pembacaan keterangan saksi.

Sidang dipimpin majelis hakim yang diketuai oleh Prim Haryadi, dengan hakim anggota Iman Luqmanul Hakim dan Muhammad Djauhar Setyadi. Sementara Jaksa Penuntut Umum dalam sidang kali ini dipimpin I B Alit.

Sofyan sendiri mendekam di balik jeruji terkait terorisme sejak 5 Oktober 2012. Ia ditangkap di kediamannya di Kampung Pulo Mangga RT03/04 Kelurahan Grogol, Limo.

Gatot Suherman

Minggu Depan, Thoriq Jadi Saksi Bom Beji di PN Depok

[caption id="attachment_34137" align="alignright" width="300"] Sidang perdana kasus Bom Beji di PN Depok, dengan terdakwa Abu Toto dan Agus Abdillah, Senin (25/3). (foto: GS)[/caption]

Usai berjalannya sidang perdana Kasus Bom Beji dengan terdakwa Muhammad Yusuf Rizal alias Abu toto (42) dan Agus Abdillah (33), minggu depan akan dilangsungkan sidang lanjutan dengan agenda pembacaan keterangan saksi.

Berdasarkan data Humas PN Depok, tertera 20 saksi yang akan memberikan kesaksian, termasuk tokoh utama meledaknya Bom Tambora, Muhammad Thoriq alias Bin Sukara (32).

Kepala Humas PN Depok, Iman Luqmanul Hakim menjelaskan bahwa khusus untuk sidang lanjutan minggu depan, pihaknya tetap memberikan tingkat pengamanan dengan jumlah yang sama dengan hari ini, yakni 55 personil kepolisian.

Pengamanan ekstra, lanjutnya, dikhususkan untuk internal PN Depok untuk antisipasi sabotase jelang sidang minggu depan. “Preventif dalam bentuk pemeriksaan lingkungan PN dari potensi teror,” ujarnya.

Iman menambahkan, berdasarkan berkas yang masuk, Thoriq merupakan salah satu aktor utama dari aksi teror Bom Beji. Sementara terdakwa  Abu Toto, lanjutnya, berperan sebagai penerjemah bahasa inggris untuk literatur cara pembuatan bom oleh kelompok Thoriq tersebut.

“Yang disiapkan sebagai pengantin, kalau kami lihat adalah Agus Abdillah dan Thoriq. Sementara Sofyan, sebagai pendoktrin dan penyiap logistik,” tambahnya.

Dalam sidang perdana, terdakwa Abu Toto dijerat 3 Pasal yakni Pasal 15 juncto pasal 7 Perpu no 1 Tahun 2002 dengan ancaman maksimal 20 tahun atau Seumur Hidup, Pasal 15 juncto pasal 9 Perpu no 1 thn 2002 dengan ancaman minimal 3 tahun penjara dan maksimal hukuman mati, dan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Tahun 1951 dengan ancaman hukuman penjara 20 tahun, seumur hidup hingga hukuman mati.

Sementara terdakwa Agus Abdillah, dijerat  Pasal 15 juncto pasal 7 Perpu no 1 Tahun 2002 dengan ancaman maksimal 20 tahun atau Seumur Hidup, dan Pasal 15 juncto pasal 9 Perpu no 1 thn 2002 dengan ancaman minimal 3 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

Gatot Suherman

Sidang Kasus Bom Beji, Abu Toto dan Agus ‘Calon Pengantin’

[caption id="attachment_34133" align="alignleft" width="300"] Sidang perdana kasus Bom Beji di PN Depok, Senin (25/3). (foto: GS)[/caption]

Pengadilan Negeri (PN) Depok gelar sidang terorisme “Bom Beji” dengan terdakwa Muhammad Yusuf Rizaldi alias Abu Toto dan Agus Abdillah, di ruang sidang satu, Senin (25/3) pagi. Diketahui, Abu Toto dan Agus merupakan “calon pengantin”.

Sidang dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim, Prim Haryadi didampingi hakim anggota Iman Luqmanul Hakim dan M. Jauhari. Sementara Jaksa Penuntut Umum kali ini dipimpin Iwan Setiawan dari Kejagung, serta didampingi Arnold Siahaan, Edi Azis, dan I. B. Alit. Sidang perdana kasus Bom Beji ini mengagendakan sidang pembacaan dakwaan.

Selama berlangsungnya sidang, saat pembacaan dakwaan, Abu Toto maupun Agus Abdillah hanya bisa menunduk lesu. Masing-masing terdakwa dijerat Pasal 15 juncto pasal 9 perpu no 1/2002 yg telah ditetapkan menjadi UU no 5 tahun 2003 tentang tindak pidana terorisme.

Dalam dakwaannya, Abu Toto terbukti terlibat dalam permufakatan jahat, berencana menciptakan teror kepada masyarakat dengan meledakkan Vihara Glodok, menghancurkan obyek-obyek vital negara seperti meledakkan Istana Negara, Mako Brimob Kelapa Dua, serta Gedung MPR/DPR.

Sesaat setelah bom ransel yang dirancang justru meledak duluan di tempat perakitan di Pondok Bidara, Beji, yang menewaskan Sofyan dan Anwar, Abu Toto melarikan diri ke Medan. Abu Toto merupakan “calon pengantin” untuk peledakan di Istana Negara dan gedung MPR/DPR.

“Di Medan, terdakwa setelah dibujuk keluarganya, kemudian sadar dan menyerahkan diri ke Polsek terdekat,” ujar JPU, Iwan Setiawan.

Sementara untuk terdakwa Agus Abdillah, berdasarkan dakwaan JPU, dinyatakan turut berperan sebagaimana yang dilakukan Abu Toto dalam kasus meledaknya bom ransel di Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Jalan Nusantara RT04/13 No 63 Beji, 8 September 2012 lalu. Agus Abdillah merupakan calon “pengantin” peledakan Mako Brimob dan Vihara Glodok Jakarta Barat.

“Agus merupakan kawan semasa SMK dengan terdakwa Thoriq, dan berstatus teknisi di Sony Ericcson,” tutup JPU Iwan Setiawan.

Gatot Suherman

Teroris Bom Beji Disidangkan di PN Depok

[caption id="attachment_34101" align="alignright" width="300"] Pengadilan Negeri Kota Depok. (foto: ist.)[/caption]

Terduga teroris tersangkan peledakan bom di Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Jalan Nusantara, Beji, Depok pada 8 September 2012 lalu disidangkan hari Senin (25/3) ini di Pengadilan Negeri Kota Depok.

Dua terdakwa, yakni Agus Abdillah alias Agus alias Jodi bin Rojihi dan Muhammad Yusuf alias Yusuf Rizaldi alias Rizal alias Abu Toto, diancam hukuman mati. Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Agung menuntut mereka dengan pasal pidana khusus secara alternatif.

“Ada beberapa tuntutan alternatif yang diajukan JPU berdasar limpahan dari Mabes Polri. Tiga alternatif tuntutan untuk M. Yusuf, dua alternatif untuk Agus,†jelas Iman Lukmanul Hakim, Humas Pengadilan Negeri Kota Depok kepada wartawan.

PN Depok menerima berkas dari Kejaksaan Agung pada Jumat 8 Maret 2013 lalu, yang merupakan berkas penyidikan dari Mabes Polri. Menurut Iman, kasus ini menjadi prioritas di PN Depok, karena menjadi sorotan internasional.

“PN Depok bergerak cepat dengan segera membentuk majelis hakim dan jadwal sidang sejak dua pekan berkas diterima,†ungkapnya.

Tim jaksa penuntut umum berjumlah enam orang, tiga dari Kejaksaan Agung, yakni, Iwan Setiawan, Wendi dan Suroyo. Tiga lainnya dari Kejari Kota Depok, yakni, Arnold Siahaan, Alit Ambara dan Edi Azis.

Sidang pertama pada hari ini dimulai pukul 10.00 dengan pembacaan dakwaan.

rw/met