fbpx

[Video] Institut Musik Jalanan; ‘Melawan’ dengan Cara Terhormat

Tidak semua pengamen dan anak jalanan bisa dicap “pemalas“. Meski berasal dari golongan keluarga tidak mampu dan diantaranya putus sekolah, namun sebagian besar memang memiliki talenta dalam bermusik. Problemnya adalah, kesempatan dan ruang berkarya tidak berlaku ramah pada mereka karena cap tadi. Dan ini lah cara musisi jalanan di Kota Depok “melawan†aturan yang “memenjara†dan kerasnya kehidupan.

Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok No. 16 tahun 2012 tentang larangan memberi uang kepada pengemis / pengamen dan anak jalanan dianggap tak berkonsep, karena tidak ada solusi yang menyelesaikan masalah sosial atas itu. Sementara, di lapangan, pengamen / anak jalanan tidak lagi memiliki ruang untuk menyalurkan talenta bermusik yang mereka miliki, dan lebih jauh lagi persoalan bertahan hidup.

Tidak diam, musisi jalanan pun melawan kondisi ini dengan cara terhormat. Berkumpul dan berjaring bersama aktivis dan seniman lainnya, mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) sebagai jawaban.

Bukan juga sekadar tempat singgah, namun IMJ menjadi kawah candradimuka-nya karya jalanan. Album berjudul “Kalahkan Hari Ini†yang dirilis Agustus 2014 lalu dan berdirinya Kedai Ekspresi sebagai fund-raising, adalah bukti nyata keberhasilan jangka pendek IMJ.

Kini, IMJ tidak lagi sendirian. Dukungan dan suara komunitas warga di Depok terus menggelembung, memperkuat gerakan IMJ. Kedai Ekspresi pun kini menjadi ruang publik, sentra kumpul komunitas di kawasan Depok yang dinilai menjadi salah satu fondasi peningkatan livability kota.

Berikut “suara jalanan†Andi Malewa, Founder IMJ.

http://youtu.be/MWiukod5K8A

Casandra Gitaputri/Hes

IMJ Adakan Coaching Clinic bersama Emil Dardak di Kedai Musik

[caption id="attachment_21098" align="alignright" width="300"] IMJ adakan coaching clinic di Kedai Musik, Depok, Sabtu 11 Oktober 2014 (fofo: Bobby Afif/depoklik).[/caption]

Sekelompok musik jalanan atau pengamen di Kota Depok yang tergabung dalam Institut Musik Jalan (IMJ) menggelar acara “Coaching Clinic†di Kedai Musik bersama musisi yang juga pakar tata kota, Emil Dardak, Sabtu 11 Oktober 2014.

Emil mengatakan, untuk menjadi seorang musisi dibutuhkan konsistensi dan strategi promosi saat musisi tersebut sudah memiliki album.

“Dulu waktu saya sekolah di Singapura dan Jepang, saya juga pernah ngamen di jalan. Dan di sana pengamen diberikan tempat khusus untuk mengamen yang sudah diatur oleh pemerintah setempat,†ujarnya.

Emil berbagi pengalaman kepada para musisi IMJ saat ia bermain musik di Jepang dan menyelesaian disertasi S3-nya.

“Di Jepang, waktu saya menyelesaikan disertasi, kemana-mana saya selain menenteng tas, saya juga menenteng gitar, bahkan saat saya bertemu profesor pembimbing saya,†kenangnya.

[caption id="attachment_21101" align="alignleft" width="300"] Emil Dardak membawakan beberapa lagu saat acara coaching clilic di Kedai Musik, Depok (foto: Bobby Afif/depoklik).[/caption]

Kehadiran Emil di IMJ mendapat apresiasi yang baik dari Andi Malewa, salah satu founder IMJ.

“Semoga dengan kehadiran dan sharing-sharing menjadi musisi yang baik oleh Mas Emil bisa memberikan energi positif bagi teman-teman IMJ, agar terus kreatif dan berkarya dalam bermusik,†ujar Andi.

Bukan hanya memberikan coaching clinic dalam bermusik, Emil juga bernyanyi membawakan tiga buah lagu.

“Wah, ternyata suaranya Mas Emil bagus banget ya,†kata Ningsih, salah satu pengunjung.

Emil sendiri mengawali musik di Indonesia saat mengikuti ajang A Mild Jakarta Music Festival, dan dia berhasil menjadi juara dalam acara tersebut.

Saat ini salah satu single Emil yang terkenal adalah “Sesaat Kau Hadirâ€, yang merupakan lagu cover ulang dari penyanyi Utha Likumahuwa yang merupakan penyanyi favorit dari Emil.

Bobby Afif/Frd

[Foto] Musisi Jalanan Depok Luncurkan Album Perdana ‘Kalahkan Hari Ini’

Musisi jalanan atau pengamen di Kota Depok yang tergabung dalam Institut Musik Jalanan (IMJ) berhasil luncurkan album perdananya, bertajuk “Kalahkan Hari Ini” di Kedai Ekspresi, di kawasan Stasiun Depok Baru, Minggu (17/8).

Selain dihadiri para musisi IMJ dan foundernya Andi Malewa, hadir pula dalam peluncuran album ini beberapa musisi senior, di antaranya, Budi Ace (kakak dari Abdee Negara Slank), Beben Jazz, bahkan hadir pula pakar tata kota sekaligus musisi jazz Emil Dardak bersama sang isteri Arumi Bachsin, pejabat Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Depok Ferry Birowo, Ketua Paguyuban Terminal Depok, yang akrab disapa Abah, CEO Depoklik Coki Lubis serta sejumlah perwakilan komunitas di Depok.

Dalam peluncuran album ini, ditampilkan pula video klip perdana dari IMJ, yakni lagu dari salah satu talentnya, Sinyo dengan lagunya ‘Penjaga Cinta’.

“Hanya di sini pengamen bersama-sama dan berhasil membuat album kompilasi,” ucap Budi.

[slideshow post_id=”45786″]

Bob

Zarry Hendrik: Menulis Puisi Ibarat Bercermin Diri

Ario Pujonugroho

 

Puisi telah menjadikan bagian penting dari hidup Zarry Hendrik, penulis muda berbakat yang telah melahirkan banyak karya tulisnya di berbagai media, baik buku dan media sosial.

Sejak kecil Zarry sudah suka membaca dan berimajinasi melalui tokoh-tokoh kartun yang ia gemari.

“Masa kecil gue berliku-liku, setiap orang punya cara sendiri untuk melarikan kesulitan. Dan gue menemukan itu dipuisi, ketika gue menulis puisi seperti gue bercermin. Jadi maknanya puisi itu adalah cermin dimana gue bisa melihat diri gue berharga,” kata Zarry dalam acara hari literasi di Kedai Ekspresi, Depok, Rabu 25 Juni 2014.

Puisi baginya adalah seni yang sederharna dalam pembuatannya, termasuk seni yang murah. Akan tetapi efek dari puisi itu luar biasa. Dengan karya-karyanya, Zarry memiliki tujuan untuk melestarikan puisi, dimana pada zaman sekarang dan sebagian orang menganggap puisi itu sebagai karya seni yang kuno.

“Kalo bang Zarry nulis puisi tenang cinta itu bagi gue gimana gitu. Ngena puisinya bang Zarry, nggak lebay nggak gimana gitu,” ujar Lia Yuliawinarti, salah satu penikmat puisi karya Zarry.

Untuk melestarikan dan mengampanyekan puisi saat ini lebih mudah, karena banyak media yang dapat dijadikan wadah untuk menulis. Dengan demikian masyarakat bisa menikmati hasil karya para penulis puisi.

Frd

Menulis Puisi, Zarry Hendrik: Syaratnya Berani

Ario Pujonugroho

 

 

Di dalam diri seseorang pasti terdapat bakat atau kemampuan yang selalu melekat di dalam dirinya. Akan tetapi, bakat tersebut tak semua orang dapat mengembangkannya dengan baik. Salah satu kendala yang dihadapi para seniman jalanan misalnya. Mereka memiliki kemampuan seni yang memadai, namun karena terbatasnya kesempatan dan dukungan, mereka tak bisa leluasa berkarya.

Untuk itulah dengan adanya Institut Musik Jalanan (IMJ) bisa menjadi salah satu wadah yang bisa digunakan seniman jalanan dalam berekspresi. Pada Rabu (25/6) malam, IMJ menggelar hari literasi dengan menghadirkan Zarry Hendrik sebagai pembicara dalam literasi menulis puisi.

“Temen-temen gue nggak pede dengan gaya menulisnya karena mereka nggak sekolah, putus sekolah. Di sini gue hadirin Zarry buat ngasih tau ke temen-temen gue kalo loe nggak usah malu nggak usah takut untuk nulis,” kata Andi Malewa, founder IMJ, di Kedai Ekspresi, Depok.

Workshop literasi menulis puisi ini dihadiri dari berbagai kalangan, khususnya mereka yang hadir suka menulis dan terinspirasi oleh sosok Zarry sebagai penulis muda. Dalam workshopnya Zarry memberikan tips-tips untuk menulis puisi.

Menurut Zarry, tidak ada syarat atau tips khusus untuk menulis. “Untuk menulis ya berani menulislah, syaratnya hanya harus ada pulpen dan kertas saja.” kata Zarry.

Di sela-sela acara, tampak pengunjung masih saja berdatangan secara bergelombang. Mereka antusiasme untuk menghadiri dan mendengarkan tips-tips menulis puisi.

“Dunia kerja gue dulu coppywriter kalo ditanya suka menulis ya gue cinta menulis. Gue udah lama tau Zerry Hendrik, gue juga suka sama karyanya,” terang Lia Yuliawinarti, salah satu peserta.

Berbagai harapan muncul dari para pengunjung dengan diadakannya acara ini. Mereka berharap bisa terus berkarya melalui tulisan. Meskipun terbilang kuno, puisi harus terus dilestarikan dan bagi Zarry Hendrik puisi sudah menjadi jiwanya.

Frd