fbpx

Indonesia Youthpreneur Festival UI, Bangkitkan Gerakan Wirausaha Pemuda

[caption id="attachment_20970" align="alignleft" width="300"] foto: ist./okezone[/caption]

Universitas Indonesia (UI) bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI dan Kementerian Koordinator bidang Perekonomian menggelar Indonesia Youthpreneur Festival 2014 di Balairung UI, Depok, Kamis (13/3).

Indonesia Youthpreneur Festival ini dinilai sebagai pembangkit semangat kewirausahaan dan cikal bakal pergerakan kewirausahaan Pemuda Indonesia. Ratusan peserta memadati acara bertajuk “Be the Next Young on Top, One Coach One Youngpreneur!” ini.

Menurut Asisten Deputi Kewirausahaan Pemuda pada Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora, Ponijan Puspodihardjo, kegiatan ini merupakan program sosialisasi khusus bagi mahasiswa untuk memperoleh penyadaran soal kewirausahaan.

“Mahasiswa perlu diberikan pemahaman wirausaha karena mereka merupakan bagian dari pemuda yang mengenyam pendidikan tinggi, pemuda yang terdidik. Tentunya mereka sudah mampu memberikan pencerahan, mengelola, mengatur, emosi, yang dimiliki,” katanya.

Tidak hanya menularkan semangat kewirausahaan, dalam acara ini peserta berkesempatan terun langsung belajar dunia kewirausahaan dengan mendaftarkan diri menjadi mentee dari 50 mentor Indonesia hinga secara mandiri dapat menjalankan dan mempertahankan usahanya.

rw

Peningkatan Daya Saing dan Potensi Daerah Jadi Fokus Konnas IV di UI

Konferensi Nasional Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara se-Indonesia (Konnas) IV di FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok  resmi dibuka, Senin (10/3) kemarin. “Peningkatan Daya Saing melalui Peningkatan Potensi Daerah†menjadi fokus utama konferensi mahasiswa ini.

Dalam pembukaanya, staf ahli Kebijakan Luar Negeri dan Perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus Kementerian Perdagangan RI, Ir. Arlinda, M.A, selaku keynote speaker, mengatakan, sumber daya manusia (SDM) dan permodalan menjadi dua kunci utama agar daerah dapat meningkatkan daya saingnya.

“Aspek SDM dan permodalan adalah dua hal penting untuk meningkatkan daya saing global,†paparnya.

Pembicaraan dan diskusi peningkatan daya saing daerah ini terus berlanjut dalam conference plenary. Hadir sebagai pembicara Dra. Euis Saedah, M.Sc., Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian RI, Prof. Prof. Dr. Ir. H.M Nurdin Abdullah, M.Agr, Bupati Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan dan Drs. Akmal Malik, M.Si, Direktur Jenderal Otonomi Daerah Bidang Hubungan Antar Daerah dan Asosiasi Kementerian Dalam Negeri RI.

Selain itu, pembahasan mengenai peran mahasiswa dalam meningkatkan daya saing nasional juga diangkat dalam seminar pembukaan konferensi ini. Imam Gunawan, M.A.P, Asisten Deputi Pengembangan Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Andreas Senjaya, Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia tahun 2010, hadir selaku pembicara.

Konferensi Nasional yang berlangsung selama 3 hari ini diikuti 13 universitas se-Indonesia.

red

Tujuh Lembaga Survei ini Dinilai Bermasalah

Lembaga survei bisa saja salah, tetapi mereka tidak boleh berbohong dalam hasil penelitiannya. Dosen Universitas Indonesia (UI), Ade Armando pun mengakui tidak semua lembaga survei kredibel.

“Banyak lembaga survei memakai metode sembarangan atau hasil penelitian mereka tidak dapat dipertanggungjawabkan,” kata Ade saat diskusi di Kantor KPU, Jakarta, Selasa (4/3).

Ade membeberkan pola-pola kesalahan yang dilakukan lembaga survey belakangan ini. Pertama, sengaja merekayasa hasil penelitian. Misalnya, tidak menggunakan metodologi random sampling tetapi temuan kemudian digeneralisasikan.

“Survei di tiga atau empat kota, hasilnya nasional. Ditambah juga hasil tatap muka langsung berbeda dengan lewat telepon. Kalau dengan telpon hasil juga tidak bisa dipakai mewakili masyarakat secara nasional,” ujar Ade

Metode random sampling kata Ade, betul-betul diambil secara acak tapi dengan metode yang ketat. Kalau tidak dipatuhi maka hasilnya tidak bisa digeneralisasi secara nasional. Ade melanjutkan, pola kesalahan kedua, tidak melakukan wawancara atau penelitinya tidak pernah turun ke lapangan sehingga hasilnya bohong. Ketiga, kuesioner atau pertanyaan dibuat buruk.

“Kenapa ini terjadi? Salah satu karakter lembaga penelitian mengalami perubahan yaitu dari lembaga penelitian menjadi konsultan politik. Akibatnya, sangat mungkin terjadi bias-bias politik. Karena dia mewakili salah satu kandidat, ada kebutuhan untuk membuat si kandidat itu menang atau citranya baik,” beber Ade

Berikut lembaga-lembaga bermasalah versi Ade Armando:

1. Indonesian Network Elections Suvey (INES)

Melansir hasil yang hasilnya sangat mengejutkan dan tidak masuk akal. Pertama, menyatakan ektabilitas capres tertinggi adalah Prabowo Subianto dengan angka yang luar biasa mencapai 40,8 persen. Sedangkan, Jokowi, yang dikenal sebagai kandidat yang kuat, hanya 5,6 persen.

2. Fokus Survei Indonesia (FSI)

Pada Januari yang lalu, melansir hasil survei yang menyebut elektabilitas Prabowo Subianto meroket sampai 33 sedangkan Jokowi hanya  5,2 persen.

3. Survei Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma)

Menjadikan 112 wartawan sebagai responden dalam suatu survei elektabilitas capres dan cawapres. Namun tidak dijelaskan, para wartawan itu siapa, dari media apa saja, dan mewakili siapa. Kemudian, cara menarik informasi juga tidak dijelaskan dengan gamblang.

4. Lingkaran Survei Indonesia (LSI)

Dalam sebuah survei tahun 2013 lalu, LSI menyatakan Aburizal Bakrie memiliki elektabilitas di peringkat pertama namun jika dipasangkan dengan Jokowi. Padahal, jika Jokowi disandingkan dengan tokoh lain seperti Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Hatta Rajasa tetap menjadi yang tertinggi.

Menurut Ade, LSI menggunakan pertanyaan yang bersifat rekayasa.

5. Lembaga Survei Jakarta (LSJ)

Pertanyaannya mengarahkan, saat mengumumkan PKS sebagai partai yang paling tidak dipercaya oleh publik. Sebab, pertanyaan yang diajukan adalah setelah Luthfi Hasan Ishaq tertangkap sehingga masyarakat otomatis menilai buruk partai tersebut.

6. Indonesia Research Center (IRC)

Temuan mereka yang menyebut Wiranto-Hary Tanoesoedibjo naik ke empat besar, kemudian sampai pada dua dinilai tidak valid. Terlebih, temuan tersebut berdasarkan hasil survei yang belum selesai 100 persen. Saat pengumuman, IRC baru mengumpulkan 80 persen data.

7. Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS)

SSS menggelar survei melalui jaringan telpon. Padahal, pemilik telpon (rumah) di Indonesia tidak lebih dari 10 persen. Metode itu dinilai tidak memenuhi syarat random sampling dan tidak bisa mewakili seluruh masyarakat Indonesia.

rmol

Ekspo Karir dan Beasiswa Kembali Digelar UI

Universitas Indonesia (UI) kembali menggelar ekspo karir dan beasiswa. Gelaran tersebut mulai berlangsung Kamis (20/2) hari ini hingga 22 Februari 2014 di Balairung kampus UI, Depok.

UI Career & Scholarship Expo XIII 2014 ini merupakan kali ke-17 yang digelar oleh UI. Tahun ini diikuti puluhan perusahaan nasional dan asing.

“Ada 70 perusahaan berpartisipasi dalam kegiatan ini seperti Pertamina, Nestle Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Astra International Tbk, dan Blue Bird Group. Ada juga PT Rekso Nasional Food serta 12 lembaga pendonor beasiswa,” kata Kepala Kantor Komunikasi UI Farida Haryoko.

Untuk lembaga-lembaga beasiswa, ekspo ini menghadirkan University of Groningen, Campus France, IIEF, DAAD, AMINEF, Uni Eropa (Erasmus Mundus), IDP Education Australia, dan NESO.

red

Mahasiswa UI Raih Juara Dunia Dalam Pembuatan Aplikasi Sanitasi

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) kembali mengharumkan nama Indonesia di tingkat Internasional. Mahasiswa jurusan Sistem Informasi dan Ilmu Komputer angkatan 2011 Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) membentuk tim yang bernama SunSquare yang terdiri dari lima orang mahasiswa berhasil meraih predikat Juara Dunia (Grandprize Winner) Sanitation App Challenge 2013  yang diselenggarakan oleh World Bank yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

[caption id="attachment_20617" align="alignright" width="300"] (ki-ka) Deputi Sekretaris Jenderal UNICEF Jan Eliasson, Dimas dan Luqman (SunSquare Studio) dan Manager Water and Sanitation World Bank Jaehyang So, pada saat Grand Prize Winner Award Ceremony di Washington DC, Amerika Serikat.[/caption]

Sunclean App, sebuah aplikasi games karya SunSquare Studio yang beranggotakan Dimas Ramadhani, Luqman Sungkar, Riza Herzego Nida Fathan, Irfan Nur Afif, dan Mohammad Agung Nugroho berhasil mengantarkan mereka memperoleh kemenangan juara dunia. Mereka merupakan finalis termuda yang berhasil berkompetisi dengan para entrepreneur, computer enthusiasts dan rural community specialist dari berbagai belahan dunia.

SunClean merupakan aplikasi games yang mengajarkan anak-anak untuk membiasakan pola hidup bersih. SunClean terdiri dari dua mini game, yaitu Trash Disposal yang mengajarkan memisahkan sampah organik dan anorganik serta Hand Wash for Kids yang mengajarkan mencuci tangan dengan benar.

Permainan ini ditargetkan bagi anak-anak usia empat tahun ke atas yang dapa dimainkan di komputer atau perangkat mobile dengan OS html5, Windows 8, Android, iOS dan Blackberry10 platform. Game dapat diakses di www.sunsquarestudio.com/sunclean.

SunSquare Studio berharap kemenangan ini dapat memacu mereka untuk berkarya lebih gencar dan inovatif terutama dalam menghasilkan produk yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Kedepannya, SunClean App Game akan dikembangkan menjadi social games sehingga dapat lebih mudah diakses dan dapat saling berinteraksi antar pengguna aplikasi.

Sebagai bentuk penghargaan atas kemenangannya, World Bank mengundang Tim SunSquare ke Amerika Serikat serta memberikan workshop dan mengunjungi beberapa kantor situs ternama dunia seperti Google, Facebook, Ideo.com pada 18 – 27 April 2013.

World Bank Indonesia juga telah mensosialisasikan SunClean App Game ini kepada duta-duta sanitasi di Indonesia agar dapat disebarlaskan di berbagai wilayah di Indonesia sehingga dapat membantu peningkatan kesadaran dan perubahan kebiasaan akan pola kebersihan dan sanitasi dengan approach teknologi.

Sanitation App Challenge 2013 merupakan kompetisi membuat aplikasi guna mengatasi masalah sanitasi di dunia yang diselenggarakan oleh World Bank. Kompetisi ini dimulai dengan Sanitation Hackathon yaitu membuat aplikasi selama 24 jam yang dilaksanakan di 14 kota di seluruh dunia termasuk di Jakarta, Indonesia pada 1-2 Desember 2012. Kemudian dilanjutkan pada tahap Hackathome yaitu tahap pengembangan aplikasi yang berlangsung hingga 22 Maret 2013. Pada tahap akhir yaitu pengumuman GrandPrize Winner pada event Investment in Sanitation di Washington DC, Amerika Serikat pada 19 April 2013.

Ricky Juliansyah

Foto: Ricky Juliansyah