fbpx

Tanggung Pengobatan Kanker Serviks, BPJS Depok Habiskan Rp 1 Triliun

Ilustrasi-BPJS Depok menghabiskan Rp 1 triliun untuk menanggung pengobatan kanker serviks (istimewa).
Ilustrasi-BPJS Depok menghabiskan Rp 1 triliun untuk menanggung pengobatan kanker serviks (istimewa).

Depoklik.com – Kanker serviks dan payudara merupakan kanker paling banyak ditemukan di Indonesia. Kanker serviks mencapai 34,4 persen dari kanker yang terjadi pada perempuan. Bahkan hampir 70 persen sudah stadium lanjut.

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional Prof Soehartati Gondhowoardjo mengatakan, penyakit kanker sebanyak 43 persen bisa dicegah dengan pola hidup sehat. Dan 30 persen dapat dikontrol bila ditangani sejak dini. “Pengobatan kanker sangat mahal. Kalau dicegah sejak dini lebih baik dengan pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asestat) dan Pap Smear, untuk kanker serviks,” kata Soehartati, Minggu, 17 Mei 2015.

Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining kanker leher rahim dengan melakukan pulasan asam asestat 3-5 persen ke leher rahim. Jika pada pelumasan itu terjadi perubahan warna keputih-putihan, maka mengindikasikan terdapat lesi prakanker.

Ia menjelaskan, masalah saat ini banyak penderita melakukan pemeriksaan setelah penyakitnya parah. Padahal, bila dideteksi sejak dini, kanker tersebut bisa dicegah perkembangannya.

Di Indonesia ada 15.000 kasus baru, dan 8 ribu kematian setiap tahun. Sebanyak 40-45 kasus baru per hari dan 20-25 kematian per hari akibat penyakit ini. “Satu orang meninggal tiap hari dan di dunia setiap dua meninggal akibat penyakit ini,” ujar Soehartati.

Adapun gejala penyakit ini terdapat keputihan, bercampur darah dan berbau, serta nyeri panggul dan tidak dapat buang air kecil.

Ketua Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga Oase, Nining Indroyono Susilo menjelaskan, mempunyai target 20 juta agar perempuan Indonesia bisa melakukan pemeriksaan IVA untuk mendeteksi kanker serviks. Biaya pemeriksaan IVA hanya merogoh kocek sebesar Rp 25.000.

“Kalau sudah menjadi kanker yang bahaya bisa puluhan sampai ratusan juta pengobatannya,” kata Nining.

Dengan deteksi IVA, lesi prakanker dapat ditemukan secara dini untuk ditindaklanjuti sebelum berbahaya. Namun, kata dia, yang menjadi kendala banyak perempuan yang malu untuk melakukan pemeriksaan ini. Padahal, deteksi dini dengan cara ini bisa mencegah sebelum menjalar dan menjadi sel kanker yang berbahaya.

“Usia 20-70 tahun yang rentan terkena penyakit ini. Kanker serviks bisa tumbuh dan berkembang sampai 13 tahun, dan gejala awalnya sulit dideteksi bila tidak melakukan tes,” jelasnya.

Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Depok, Yessy Kumalasari mengatakan, saat ini sudah sebanyak 1.300 warga yang melakukan tes IVA dan 900 warga yang tes pap smear untuk mendeteksi kankers serviks. “Kami harap perempuan bisa sejak dini memeriksa penyakit ini. Sebab, bila sudah menjalar dan tumbuh bakal sulit diatasi dan memakan biaya banyak,” katanya.

Yessy menambahkan, hampir Rp 1 triliun BPJS menanggung untuk mengobati kanker ini, namun kebanyakan tak bisa diselamatkan karena datang ketika penyakit sudah akut. “Beban terbanyak BPJS pertama dicuci darah, kemudian kanker yang sudah menghabiskan sampai Rp 1 triliun. Alangkah baiknya bila dilakukan pencegahan sejak dini,” ujarnya.

Sumber: tempo.co

Leave a Comment