fbpx

Wisnu Gardjito: Kelapa Akan Bangkitkan Agraria Nasional

MEMPERINGATI Hari Agraria Nasional yang jatuh 24 September hari ini, depoklik menyorot profil warga kawasan yang selama ini mengabdikan diri untuk  kemajuan agraria nasional, Dr. Ir. Wisnu Gardjito, MBA, MM (50), warga perumahan Permata Duta, Sukmajaya – Depok. Dalam perjalanan di dunia akademisi, Doktor Teknologi Industri Pertanian IPB yang lulus dengan cum laude ini sempat mengabdi di Departemen Perindustrian dan menjadi Project Manager Badan Pembangunan Industri Dunia (United Nations Industrial Development Organization/UNIDO) untuk Program Pembangunan Indonesia Timur. Kini, bersama peneliti lain, Wisnu memimpin Improvement Institute, sebuah lembaga penelitian dan pemecahan masalah yang berkenaan dengan agro ekonomi dan sumber daya manusia (trouble shooting management company) yang berbasis di Depok.”Dalam bincang-bincang santai di kediamannya hari Kamis (23/9), pengusaha sekaligus aktivis yang menaruh perhatian besar pada komoditas tumbuhan tropis ini mengaku sejak tahun 1995 sudah mulai melirik kelapa sebagai komoditi unggulan yang akan membangkitkan agro industri nasional. Wisnu memiliki sedikitnya tujuh alasan untuk menjawab mengapa kelapa? Pertama, Indonesia memiliki luas tanam kelapa 3,7 juta hektar, saingannya hanya Filipina yang memiliki luas tanam kelapa 3,1 juta hektar. “Tetapi, Filipina basis bisnisnya adalah kapitalistik, sementara kita sosialisme, masyarakat-pun memilikinya. Maka Indonesia lebih mudah dikendalikan,†tutur pria kelahiran tahun 1960 silam.”Kedua, bila diolah dengan serius, kelapa memiliki 1600 produk akhir. Ketiga, berdasarkan ILOR (Incremental Labour Output Ratio) indutri kelapa memiliki penyerapan tenaga kerjanya tertinggi di dunia. Mulai dari proses hingga pemasaran dapat menyerap 100 tenaga kerja untuk satu pohon. Keempat, pohonnya sudah ada, tidak perlu menanam lagi. Kelima, sudah ada asosiasi dunianya. Keenam, teknologinya mudah, dan bangsa kita sudah punya, dan yang terakhir, Ketujuh, investasinya murah. “Saya saja memulainya dari modal 25 ribu rupiah, dan nilai tambah mencapai 8000%,†aku Wisnu sambil tersenyum.”Ditangan Improvement Intitute yang ia pimpin, sudah ada 65 produk kelapa yang melaju di pasar domestik dan internasional. Mulai dari kuliner, kosmetik, sampai obat. Dalam prosesnya, Wisnu Gardjito, bersama sang isteri, Vipie Gardjito, mengembangkan rumah produksi (cluster) di beberapa daerah di Indonesia. Di cluster tersebut, masyarakat diajarkan pengolahan kelapa menjadi jenis-jenis produk siap pakai yang siap dipasarkan. “Jadi, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Kami membantu memasarkannya di jaringan domestik bahkan internasional melalui koperasi bersama. Kami membantu investasi alat-alat, termasuk pelatihan-pelatihan, dan masyarakat menginvestasikan pohonnya, produknya kita masukan ke koperasi bersama,†ujar pria yang selalu tampil semangat ini.”Mengapa koperasi untuk mengolah kelapa? “Harus koperasi, karena kita tidak menganut sistem kapitalistik untuk membangun negeri ini,†jawabnya tegas. Sampai saat ini, menurut Wisnu permintaan internasional cukup tinggi untuk produk-produk ini.”Yang menjadi tantangan Wisnu dari saat memulainya sampai sekarang adalah birokrasi. “Birokrasi menjadi tantangan, aparat yang saya temui masih banyak yang sinis dan masih meremehkan, lebih parahnya ada yang hanya melihatnya sebatas proyek dalam tanda kutip, bukan program untuk negeri ini. Tapi tidak semua, ada juga yang mengerti dan bisa bekerjasama,†keluh Wisnu terhadap mental aparat pemerintahan yang kerap ia temui.”Kedepan, target Ayah dari Angela Nurul Sabila (7) dan Guardin Zidan Choiri (6) ini adalah Indonesia harus menjadi negara agrobisnis terkuat, dan saat ini beliau terus melangkah ke arah itu dengan kekuatan bersama dari kekuatan akar rumput, yaitu petani. “Plow deep while others sleep. And you will have corn to eat n to keep,†tandas Wisnu.”Wisnu Gardjito“Pendidikan :rn1. Insinyur Agronomi IPB tahun 1983rn2. MBA Finance dari Colorado University (AS) tahun 1993rn3. MBA International Management dari International University of Japan tahun 1995” Coki Lubis

Leave a Comment